Pages

Tuesday, January 13, 2026

Mengenal Seni Rupa di Sekitar Kita

BAB 1

Mengenal Seni Rupa di Sekitar Kita

Mata Pelajaran: Seni Rupa
Kelas: X
Penulis: Ucke R Gadzali, S.Pd


Tujuan Pembelajaran

Setelah mempelajari materi ini, peserta didik diharapkan mampu:

  1. Mendefinisikan pengertian seni rupa dan eksistensinya dalam kehidupan manusia.

  2. Menganalisis fungsi seni rupa dalam kehidupan sehari-hari.

  3. Mengelompokkan perkembangan seni rupa berdasarkan waktu perkembangannya (tradisional, modern, dan kontemporer).

  4. Memberikan contoh karya seni rupa sesuai dengan masa perkembangannya.


A. Definisi Seni Rupa

Seni rupa merupakan bagian yang sangat dekat dengan kehidupan manusia. Sejak bangun tidur hingga kembali beristirahat, manusia selalu berinteraksi dengan karya seni rupa. Ornamen pada pakaian, desain peralatan rumah tangga, lukisan yang terpajang di dinding, hingga tampilan visual pada layar gawai merupakan contoh nyata kehadiran seni rupa dalam kehidupan sehari-hari.

Secara etimologis, seni adalah segala sesuatu yang diciptakan manusia berdasarkan ide atau gagasan yang mengandung unsur keindahan serta mampu memengaruhi perasaan orang lain. Sementara itu, rupa berarti keadaan yang tampak secara visual. Dengan demikian, seni rupa dapat diartikan sebagai cabang seni yang diwujudkan melalui media visual, dapat dilihat oleh mata, dan dalam beberapa bentuk dapat dirasakan melalui rabaan.


B. Fungsi Seni Rupa dalam Kehidupan Manusia

Fungsi seni rupa sangat beragam, tergantung pada latar belakang dan tujuan penciptaan karya tersebut. Secara umum, seni rupa berfungsi untuk meningkatkan kualitas hidup manusia, sebagai media pembelajaran, sarana komunikasi, penyadaran sosial, serta penjaga nilai keindahan dan kemanusiaan.

Menurut Feldman (1967), seni rupa memiliki tiga fungsi utama, yaitu fungsi individual, fungsi sosial, dan fungsi fisik atau kebendaan.


1. Fungsi Individual

Fungsi individual berkaitan dengan ekspresi pribadi seniman. Pengalaman hidup seperti cinta, kebahagiaan, kesedihan, kelahiran, hingga kematian sering direkam dan diungkapkan melalui karya seni. Fungsi ini sangat menonjol dalam seni modern yang lebih bersifat personal dan tidak lagi kolektif.


2. Fungsi Sosial

Seni rupa juga berperan penting dalam kehidupan sosial masyarakat, antara lain:

  • Fungsi rekreasi, yaitu karya seni yang diciptakan sebagai sarana hiburan dan memberikan kesenangan bagi masyarakat.

  • Fungsi komunikasi, ketika seni digunakan sebagai media penyampaian pesan atau informasi, misalnya kritik sosial melalui karikatur.

  • Fungsi pendidikan, seni berperan sebagai alat peraga untuk mempermudah pemahaman peserta didik, misalnya film sejarah.

  • Fungsi keagamaan, seni digunakan sebagai sarana ritual dan dakwah, seperti patung religius, pertunjukan wayang, atau paduan suara di rumah ibadah.


3. Fungsi Fisik atau Kebendaan

Pada fungsi ini, seni rupa hadir dalam bentuk benda pakai yang memiliki nilai keindahan sekaligus kegunaan, seperti arsitektur bangunan, interior, furnitur, dan berbagai peralatan rumah tangga.


C. Klasifikasi Karya Seni Rupa Berdasarkan Waktu Perkembangan

Perkembangan seni rupa dapat diklasifikasikan menjadi tiga kelompok besar, yaitu seni rupa tradisional, modern, dan kontemporer.


1. Seni Rupa Tradisional

Image

Image

Image

Image

Seni rupa tradisional berkaitan erat dengan nilai-nilai budaya lokal suatu daerah. Karya seni ini diwariskan secara turun-temurun dan umumnya sarat dengan simbolisme, baik dalam bentuk motif binatang, tumbuhan, bangunan, maupun figur manusia. Nilai spiritual, religius, dan mitologis sangat kental dalam seni rupa tradisional, seperti yang terlihat pada relief candi, motif kain tenun, dan perabot tradisional.


2. Seni Rupa Modern

Image

Image

Image

Seni rupa modern berkembang dengan meninggalkan pakem-pakem tradisi dan lebih menekankan kebebasan berekspresi serta eksperimen artistik. Seni rupa modern umumnya tergolong dalam seni murni (fine art) yang mengutamakan nilai estetika. Contohnya meliputi seni lukis, seni patung, dan seni grafis.


3. Seni Rupa Kontemporer

Image

Image

Image

Seni rupa kontemporer berkembang pada masa kini dan merespons kondisi sosial, budaya, serta teknologi modern. Karya seni kontemporer bersifat bebas, menggunakan medium yang tidak terbatas, serta sering memadukan unsur tradisional dan modern. Teknologi digital menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan seni rupa kontemporer saat ini.


Penutup

Melalui pemahaman tentang definisi, fungsi, dan perkembangan seni rupa, peserta didik diharapkan mampu menyadari bahwa seni rupa bukan hanya karya visual semata, tetapi juga bagian penting dari kehidupan manusia yang merekam nilai budaya, emosi, dan perkembangan zaman.


BAB 3 - Asal-Usul dan Makna Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

 A. Asal-Usul dan Makna Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

1. Asal-Usul Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Semboyan Bhinneka Tunggal Ika dapat Anda temukan dalam Kitab Sutasoma ditulis pada abad XIV pada era Kerajaan Majapahit. Kerajaan Majapahit merupakan salah satu kerajaan besar di Indonesia sebagai pedoman bangsa Indonesia dalam meniru nilai-nilai luhur, salah satunya dalam upaya menyatukan hampir seluruh wilayah nusantara pada masa kejayaannya. Majapahit pernah berada pada titik kejayaannya saat pemerintahan Hayam Wuruk dengan patihnya yang bernama Gajah Mada. Wilayah Nusantara ini terdiri dari keberagaman agama, ras, suku, budaya, bahasa yang dapat menimbulkan pertentangan dan peperangan antar masyarakat.

Mpu Tantular merupakan seorang penganut Buddha Tantrayana, namun merasakan hidup aman dan tentram dalam kerajaan Majapahit yang lebih bernafaskan agama Hindu. Dua karya Mpu Tantular yang terkenal adalah Kakawin Arjunawiwaha dan Kakawin Sutasoma. Pedoman bangsa Indonesia atau gambaran identitas bangsa Indonesia lahir dari salah satu kalimat karangan Beliau yang kita kenal sampai sekarang sebagai semboyan bangsa yaitu Bhinneka Tunggal Ika.


Kakawin Sutasoma


Semboyan Bhinneka Tunggal Ika merupakan wujud representasi dari pemikiran Mpu Tantular terhadap kondisi wilayah Kerajaan Majapahit yang mempunyai keberagaman ditengah kehidupan bermasyarakat.

Dalam Kitab Sutasoma tertulis "Rwaneka dhatuwinuwus Buddha Wisma, Bhineki rakwa ring apan kena, parwanosen, mangka ng Jinatwa kalawan Siwatawa tunggal, Bhinneka tunggal ika tan hana dharma mangrawa". Tulisan tersebut mengandung arti bahwa agama Budha dan Siwa (hindu) merupakan zat yang berbeda, tetapi nilai nilai kebenaran Jina (Buddha) dan Siwa adalah tunggal. Terpecah belah tetapi satu jua, artinya tak ada dharma yang mendua. Tulisan asli yang terdapat dalam kitab Sutasoma tersebut secara garis besar mengandung ungkapan agar antar agama Buddha (jina) dan agama Hindu (siwa) dapat hidup berdampingan dengan damai dan harmonis, sebab hakikat kebenaran yang terkandung dalam ajaran keduanya adalah tunggal (satu).

Muhammad Yamin, I Gusti Sugriwa, dan Bung Karno menjadikan Bhinneka Tunggal Ika topik pembahasan terbatas di sela-sela sidang BPUPKI, tepatnya 2,5 bulan sebelum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Pasca Indonesia merdeka Bhinneka Tunggal Ika diletakkan di Lambang Negara Republik Indonesia. Lambang negara dan semboyan bangsa Indonesia secara resmi digunakan dalam Sidang Kabinet Republik Indonesia Serikat pada tanggal 11 Februari 1950 berdasar rancangan yang diciptakan oleh Sultan Hamid ke-2 (1913-1978).

Karya Mpu Tantular tersebut dikaji oleh beberapa tokoh pendiri bangsa, yang dianggap sesuai dengan kebutuhan strategis bangsa Indonesia merdeka yaitu keberagaman agama, etnis, ideologi politik, budaya dan bahasa. Hal inilah yang menjadikan semboyan bangsa Bhinneka Tunggal Ika sebagai gambaran identitas bangsa.

Orang pertama yang mengusulkan kepada Bung Karno agar Bhinneka Tunggal Ika dijadikan semboyan negara Indonesia adalah Muh. Yamin. Sebagai tokoh kebudayaan dan bahasa Muh. Yamin memang dikenal sudah lama bersentuhan dan mengerti seluk beluk yang berkenaan dengan kebesaran Majapahit. Dalam sela-sela Sidang BPUPKI antara bulan Mei-Juni 1945 menyebut istilah Bhinneka Tunggal Ika di hadapan peserta sidang yang hadir. Ungkapan tersebut disambung oleh I Gusti Bagus Sugriwa dengan kalimat "tan hana dharma mangrwa", hal ini membuat Muh. Yamin senang sekaligus menunjukkan di Bali ungkapan Bhinneka Tunggal Ika tersebut masih sangat melekat dan dipelajari oleh masyarakat sekitar. Meskipun karangan Sutasoma ditulis oleh seorang penyair Buddha tapi mempunyai andil yang sangat signifikan terhadap paham agama Hindu di Bali.

Dalam sidang tersebut usulan Muh. Yamin sangat diterima oleh para pendiri bangsa, sebagaimana yang kita ketahui mayoritas tokoh pendiri bangsa yang hadir beragama Islam, mereka sangat terbuka dalam menerima warisan leluhur Mpu Tantular. Sikap yang ditunjukkan oleh para pendiri bangsa ini merupakan sikap toleran yang mana sikap ini sebagai dasar suku-suku bangsa di Indonesia yang telah mengenal beragam agama, berlapis-lapis kepercayaan dan tradisi, jauh sebelum Islam datang ke Nusantara. Pengaruh Hindu-Budha secara politik sudah sangat melemah saat runtuhnya Kerajaan Majapahit abad XV, sedangkan secara kultural pengaruh tersebut tetap dilestarikan sampai saat ini. Semboyan Negara Kesatuan Republik Indonesia "Bhinneka Tunggal Ika" resmi diatur pada Pasal 36A UUD NRI 1945 yang berbunyi "lambang Negara ialah Garuda Pancasila dengan semboyan Bhinneka Tunggal Ika Saat ini aturan penggunaan lambang negara beserta semboyan negara diatur lebih rinci dalam UU No. 24 Tahun 2009.


2. Makna Semboyan Bhinneka Tunggal Ika

Secara harfiah arti dari semboyan Bhinneka Tunggal Ika dalam kaitannya dengan persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia bahwa meskipun Indonesia terdiri dari berbagai macam suku bangsa yang memiliki kebudayaan dan adat istiadat yang berbeda-beda, namun keseluruhannya tetap merupakan satu persatuan. Berdasarkan penjelasan PP No. 66 Tahun 1951 bahwa persatuan bangsa dan wilayah negara Indonesia tetap terjaga meskipun ada perbedaan-perbedaan yang ada.

Keberagaman di Indonesia bukan suatu pertentangan yang merugikan, melainkan sebagai tonggak persatuan dan kesatuan bangsa. Keberagaman menggambarkan karakteristik serta identitas suatu bangsa Indonesia. Selain semboyan Bhinneka Tunggal Ika alat pemersatu bangsa lainnya meliputi dasar negara Pancasila, Bendera Merah putih, Bahasa Indonesia, Lambang Negara Burung Garuda, Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan lagu-lagu perjuangan lainnya.

Persatuan dalam bingkai keberagaman memiliki peran penting dalam mewujudkan kehidupan yang serasi dan seimbang, pergaulan antarsesama yang lebih akrab serta perbedaan yang tidak menjadikan sumber masalah atau pertentangan.

Persatuan dalam keberagaman merupakan syarat mutlak yang harus dimiliki bangsa Indonesia. Jika rasa persatuan dan kesatuan kurang terjalin dalam kehidupan bermasyarakat maka akan mengakibatkan cita-cita Indonesia dalam sila ketiga tidak akan terwujud. Semboyan bangsa harus diimplementasikan dengan penuh rasa nasionalisme, jika makna Bhinneka Tunggal Ika dijalankan dengan semestinya maka akan membentuk sikap toleransi atau rasa saling menghargai yang akan menciptakan kerukunan di tengah keberagaman.

Sunday, January 11, 2026

BAB 3 – Harmoni dalam Keberagaman (Kelas XI)

BAB 3

HARMONI DALAM KEBERAGAMAN


1. Konsep Harmoni dalam Keberagaman

a. Pengertian Harmoni dalam Keberagaman

Harmoni dalam keberagaman adalah suatu kondisi kehidupan sosial yang ditandai oleh hubungan antarmanusia yang damai, seimbang, dan saling menghargai, meskipun terdapat perbedaan latar belakang budaya, agama, suku, bahasa, serta kepentingan sosial.

Harmoni tidak berarti menghilangkan atau menyamaratakan perbedaan, melainkan mengelola perbedaan tersebut secara bijak agar tidak menimbulkan konflik, tetapi justru memperkaya kehidupan bersama. Dalam konteks Indonesia sebagai bangsa multikultural, harmoni menjadi kunci utama untuk menjaga persatuan dan keutuhan nasional.


b. Komponen Harmoni dalam Kehidupan Masyarakat

Untuk mewujudkan harmoni dalam masyarakat yang beragam, diperlukan beberapa sikap, nilai, dan keterampilan sosial berikut:

  1. Kesadaran Diri
    Kesadaran diri merupakan kemampuan individu untuk memahami posisi dan perannya dalam masyarakat yang majemuk. Dengan kesadaran diri, seseorang mampu menerima kenyataan bahwa perbedaan adalah bagian alami dari kehidupan sosial.

  2. Sikap Menghargai Perbedaan
    Menghargai perbedaan berarti mengakui bahwa setiap individu dan kelompok memiliki identitas, keyakinan, dan kebiasaan yang tidak selalu sama. Sikap ini mendorong seseorang untuk tidak memaksakan kehendak atau pandangannya kepada orang lain.

  3. Toleransi
    Toleransi adalah sikap saling menghormati dan memberikan ruang bagi pihak lain untuk menjalankan hak-haknya, selama tidak bertentangan dengan norma dan hukum yang berlaku. Toleransi menjadi fondasi penting dalam kehidupan masyarakat multikultural.

  4. Keterampilan Bermusyawarah
    Dalam masyarakat yang beragam, perbedaan pendapat tidak dapat dihindari. Oleh karena itu, keterampilan bermusyawarah diperlukan agar perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog, kompromi, dan kesepakatan bersama tanpa kekerasan.

  5. Keteladanan
    Harmoni dapat tumbuh dengan baik apabila terdapat keteladanan dari individu, tokoh masyarakat, maupun pemimpin. Sikap adil, terbuka, dan menghormati perbedaan akan menjadi contoh nyata bagi masyarakat luas.

  6. Keadilan
    Keadilan merupakan landasan utama terciptanya harmoni. Perlakuan yang adil dalam bidang hukum, ekonomi, sosial, dan politik akan mencegah kecemburuan sosial dan konflik antarkelompok.


2. Memahami dan Menghargai Keberagaman

Keberagaman yang ada di Indonesia perlu senantiasa dijaga dan dilestarikan guna menciptakan persatuan dan kesatuan di antara masyarakat Indonesia. Setiap daerah di Indonesia memiliki keunikannya masing-masing, termasuk dalam budaya, ragam alat musik, dan kearifan lokal Untuk mencapai harmoni dalam keberagaman, penting untuk memahami dan menghargai diversitas sesuai dengan nilai-nilai Pancasila. Nilai nilai yang terkandung dalam Pancasila seharusnya menjadi panduan dalam berpikir, bersikap, dan bertindak. Sebagai anggota masyarakat, perlu memahami dan menghargai keberagaman agar dapat mewujudkan hal-hal tersebut.




a. Menghormati antar sesama 

Dengan pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman oleh masyarakat. akan terbentuk sikap saling menghormati dan toleransi yang mampu mengurangi potensi konflik antar kelompok.

b. Tercipta kerjasama antar masyarakat 

Dalam masyarakat, keberagaman memiliki potensi untuk memperkaya sumber daya dan potensi. Apabila masyarakat memiliki pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman, maka kolaborasi yang produktif dapat terwujud melalui kerjasama antar kelompok masyarakat.

c. Meningkatkan kualitas hidup

Peningkatan pemahaman dan penghargaan terhadap keberagaman dalam masyarakat dapat meningkatkan kualitas hidup setiap individu atau kelompok Hal ini terjadi karena saling pengertian dan dukungan antarindividu maupun kelompok saling memengaruhi dan memperkuat satu sama lain.

d. Menjamin kehidupan yang lebih baik

Masyarakat yang memiliki pemahaman dan menghargai keberagaman lebih mungkin untuk berhasil beradaptasi dengan perubahan dan tantangan di lingkungan global yang semakin kompleks.


2. Manfaat Harmoni dalam Keberagaman

Terwujudnya harmoni dalam keberagaman memberikan berbagai manfaat penting bagi kehidupan bermasyarakat, antara lain:

  1. Memperkuat persatuan dan solidaritas sosial di tengah perbedaan.

  2. Meningkatkan rasa saling percaya dan saling menghormati antarindividu dan kelompok.

  3. Mengurangi potensi konflik dan kekerasan sosial.

  4. Mendorong kerja sama dan kolaborasi dalam pembangunan masyarakat.

  5. Menciptakan rasa aman, damai, dan nyaman dalam kehidupan sehari-hari.

  6. Meningkatkan kesejahteraan sosial dan stabilitas nasional.


3. Faktor yang Mempengaruhi Harmoni dalam Keberagaman

a. Faktor Pendorong Harmoni

Beberapa faktor yang dapat mendorong terciptanya harmoni dalam keberagaman antara lain:

  1. Nilai Budaya yang Menghargai Perbedaan
    Nilai budaya seperti gotong royong, musyawarah, dan toleransi menjadi modal sosial yang penting dalam membangun harmoni.

  2. Struktur Sosial yang Adil dan Inklusif
    Struktur sosial yang memberikan kesempatan dan perlakuan yang sama kepada seluruh anggota masyarakat akan memperkuat rasa keadilan dan kebersamaan.

  3. Pembangunan Infrastruktur yang Merata
    Pembangunan yang merata dapat mengurangi kesenjangan sosial dan ekonomi yang sering menjadi pemicu konflik.

  4. Peran Pendidikan dan Media
    Pendidikan multikultural dan media yang bertanggung jawab dapat menanamkan nilai toleransi dan persatuan sejak dini.


b. Faktor Penghambat Harmoni

Di sisi lain, terdapat pula faktor-faktor yang dapat menghambat terciptanya harmoni, antara lain:

  1. Egoisme Individu atau Kelompok
    Sikap mementingkan kepentingan pribadi atau kelompok di atas kepentingan bersama dapat memicu konflik sosial.

  2. Etnosentrisme
    Pandangan yang menilai budaya atau kelompok lain berdasarkan standar kelompok sendiri sering kali melahirkan sikap merendahkan dan diskriminatif.

  3. Eksklusivisme
    Sikap menutup diri dan enggan berinteraksi dengan kelompok lain dapat memperlebar jarak sosial dan menghambat terciptanya harmoni.

  4. Kurangnya Pemahaman terhadap Keberagaman
    Minimnya pengetahuan dan wawasan tentang perbedaan sering kali melahirkan prasangka dan stereotip negatif.