PEMBELAJARAN UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN BELAJAR MURID
Ucke Rakhmat Gadzali, S.Pd.
Berikut refleksi saya selama mengikuti pembelajaran modul 2.1
Pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan murid. Jurnal refleksi ini saya tulis sebagai media untuk mendokumentasikan perasaan, gagasan dan pengalaman serta praktik baik yang telah saya dilakukan.
Model refleksi yang saya pakai adalah Model 1: 4F (Facts, Feelings, Findings, Future)/4P (Peristiwa, Perasaan, Pemeblajaran, Penerapan).
1. Peristiwa (Fact)
Di modul 2.1 ini, saya dibekali pengetahuan mengenai Pembelajaran Berdiferensiasi. Kegiatan pengkajian LMS ini menggunakan Alur Merdeka. Diawali dengan Pre Test, Mulai dari Diri, Eksplorasi Konsep, Ruang Kolaborasi 1, Ruang Kolaborasi 2, Demonstrasi Kontekstual, Elaborasi Pemahaman, Koneksi Antar Materi dan diakhiri dengan Aksi Nyata.
Modul 2.1 diawali dengan mengerjakan soal pre test dengan soal pilihan ganda. Soal memuat materi yang akan dipelajari di modul 2.1. Dalam kegiatan Mulai dari Diri saya diajak untuk berefleksi dalam mengelola kelas dan memenuhi kebutuhan belajar murid yang berbeda-beda, selain itu juga berbagi pengalaman pribadi tentang bagaimana tindakan gurunya di masa lalu membantu dirinya untuk belajar dengan lebih baik sehingga dapat mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Kegiatan selanjutnya adalah Eksplorasi Konsep. Dalam kegiatan ini, saya diberi pemahaman tentang pembelajaran berdiferensiasi, sehingga dapat menjelaskan bagaimana cara mengetahui kebutuhan belajar murid. Pada kegiatan ruang kolaborasi 1, saya bersama CGP lainnya difasilitasi oleh Fasilitator Bapak Mohammad Isa untuk mengkaji serta menganalisis berbagai contoh kasus mengenai pembelajaran berdiferensiasi. Selanjutya dalam ruang kolaborasi 2, kami mempresentasikan dan mendiskusikan hasil diksusi kelompok kecil dan saya masuk kelompok 3 untuk kemudian diberi masukan dan saran. Kami pun mendapat pencerahan mengenai pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi di berbagai jenjang pendidikan. Diskusi dengan rekan CGP dalam ruang kolaborasi untuk menemukan kesamaan persepsi serta saling memberi masukan konstruktif dalam menyusun rencana pembelajaran berdiferensiasi, secara mandiri menyusun RPP berdiferensiasi diunggah di LMS untuk mendapat umpan balik dari sesama CGP dan fasilitator, mendapat penguatan dari instruktur dalam elaborasi yang membuat keterkaitan dengan materi sebelumnya yang sudah dipelajari, dan diakhiri dengan aksi nyata praktik pembelajaran berdiferensiasi di kelas sesuai dengan RPP yang sudah dibuat.
2. Perasaan (Feelings)
Pada awalanya saya merasa Senang tapi juga agak ragu dan berfikir bahwa dalam persiapan pelaksanaan pembelajaran berdiferensiasi seakan rumit dan sangat berbeda dengan pembelajaran konvensional. Namun saya menyadari bahwa murid memiliki hak untuk mendapatkan pendidikan dengan cara yang menyenangkan dan mengasyikan sesuai dengan minat dan gaya belajarnya. Sementara guru memiliki kewajiban untuk merancang pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan murid (profil, minat dan gaya belajar murid), hal ini dapat diejawantahkan dalam pembelajaran berdiferensiasi.
Selanjutnya saya merasa tercerahkan, karena setelah membaca bagian eksplorasi konsep, dan berdiskusi dalam ruang kolaborasi, saya jadi semakin paham bahwa murid yang beragam memerlukan pelayanan yang beragam pula. Saya jadi paham bahwa kita sebagai guru dapat mengakomodir keragaman siswa tersebut melalui ragam (diferensiasi) konten, proses dan produk pembelajaran.
3. Pembelajaran (Findings)
"Serupa seperti para pengukir yang memiliki pengetahuan mendalam tentang keadaan kayu, jenis-jenisnya, keindahan ukiran, dan cara-cara mengukirnya. Seperti itulah seorang guru seharusnya memiliki pengetahuan mendalam tentang seni mendidik, Bedanya, Guru mengukir manusia yang memiliki hidup lahir dan batin." (Ki Hajar Dewantara).
Pada awal bagian Eksplorasi Konsep, saya disuguhi quote yang sangat menggugah. Quote tersebut mampu menggambarkan bahwa kita sebagai guru harus mampu melayani murid yang beragam dengan pelayanan yang beragam pula. Setelah murid terlayani dengan baik, besar harapan, murid dapat mencapai kebahagianya sesuai filosofis tujuan pendidikan Ki Hajar Dewantara, pada akhirnya murid dapat mencapai kompetensi yang diharapkan sehingga dapat memberikan manfaat bagi sekitarnya.
"Apapun yang dilakukan oleh seseorang itu, hendaknya dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri, bermanfaat bagi bangsanya, dan bermanfaat bagi manusia di dunia pada umumnya." (Ki Hajar Dewantara)
Pembelajaran berdiferensiasi didesain agar guru bisa melaksanakan pembelajaran yang mampu mengakomodir berbagai macam kebutuhan belajar murid. Guru harus memiliki kepekaan dalam merespon semua kebutuhan belajar murid, hal ini dapat dilakukan dengan memperhatikan : bagaimana kesiapan belajar murid; bagaimana minat murid terhadap materi pembelajaran kita; dan seperti apa profil belajar murid. Kemudian dalam kegiatan pembelajaran, guru perlu juga memperhatikan strategi : diferensiasi konten; diferensiasi proses; dan diferensiasi produk. Dan dalam proses penilaian, guru menggunakan penilaian berjenjang. Harapannya, semua murid bisa memperoleh kesempatan yang sama dalam mengikuti pembelajaran, sehingga lingkungan yang aman dan nyaman pun akan didapatkan murid.
4. Penerapan (Future)
Setelah mempelajari modul 2.1 ini, ke depannya saya akan selalu berupaya dan berusaha untuk melayani kebutuhan murid yang beragam melalui pembelajaran berdiferensasi.
Agar pembelajaran berdiferensiasi dapat diselenggarakan secara efektif, maka perlu pemetaan kebutuhan belajar murid berdasarkan kesiapan, minat dan profil belajar murid, agar guru dapat menentukan perbedaan konten, proses, serta produk dalam kegiatan pembelajaran. Yaitu dengan asesmen diagnostic non kognitif. Data pemetaan bisa diperoleh dari data murid pada tahun/semester sebelumnya, melalui angket, melalui pengamatan, atau wawancara dengan sesama rekan guru dan wali murid. Bagi saya ini merupakan pengetahuan baru, sehingga dalam prakteknya butuh proses dan terus belajar. Semoga dapat berkontribusi dalam transformasi pendidikan di Indonesia, murid menjadi aset yang kelak menjadi pemimpin bangsa.
Karya Komunitas LINI Negla (Lingkung Seni SMKN 1 Sukalarang)
DEMONTRASI KONTEKSTUAL MODUL 1.1
Aksi Nyata Modul 3.3
Dalam tugas aksi nyata modul 3.3 ini saya membuat sebuah program yang berdampak positif pada murid dengan membentuk sebuah komunitas seni yaitu "LINI Negla" dengan akronim dari Lingkung Seni SMKN 1 Sukalarang.
LATAR BELAKANG
Komunitas LINI Negla ini adalah sebuah suara murid yang dimana murid memiliki minat dan bakat yang perlu di wadahi.
Tergerak dari melihat suara murid dan potensi murid yang memiliki minta dan bakat, serta dapat melestarikan seni budaya tradisional dan bisa mengkolaborasikan dengan seni yang lainnya, yang menjadi program yang berdampak positif bagi siswa SMK dari kenakalan remaja
TUJUAN
Komunitas LINI (Lingkung Seni), komunitas ini merupakan program yang bertujuan mengembangkan bakat murid di bidang non akademik dalam seni dan budaya sekaligus ajang pelestarian budaya daerah dengan mengedepankan membangun lingkungan sekolah yang mengembangkan keterampilan berinteraksi sosial secara positif, arif dan bijaksana serta melatih keterampilan yang dibutuhkan murid
CAPAIAN
Program Komunitas LINI ini menjadi wadah bagi siswa untuk mengembangkan minat dan bakat nya di bidang seni dan budaya serta dapat berkolaborasi seni ekskul seni lainnya, dan dapat memberikan dampak positif bagi siswa SMK, dan dapat melestarikan seni tradisional
LANGKAH-LANGKAH
Diskusi dengan Siswa
Diskusi dan berdialog dengan Kepala Sekolah, Waka Kesiswaan, Waka Kurikulum dan Rekan Sejawat
Survey dan observasi terkait minat dan bakat siswa
Siswa mengikuti program komunitas LINI
Siswa mengikuti latihan di Komunitas LINI
HASIL YANG DIHARAPKAN
Siswa dapat terwadahi minat dan bakatnya.
Siswa dapat berkolaborasi dengan seni-seni yang lain.
Siswa dapat terminimalisir dari kegiatan kenakalan remaja siswa SMK
Siswa dapat melestarikan seni dan budaya baik tradisional maupun modern
Siswa dapat menjadi aset bagi prestasi sekolah yang berkolaborasi
SUBJECT
Yang menjadi peserta komunitas LINI ini yaitu siswa SMKN 1 Sukalarang.
STRUKTUR
Penanggung Jawab:
Kepala SMKN 1 Sukalarang
Monitor Kegiatan:
Waka Kesiswaan
Pembimbing:
Ucke RG
MITRA
Pembina/ pelatih ekskul seni
Tari
Teater
Vocal/ Padus
Marching Band
Rekan Sejawat
Alumni
PERNYATAAN TENTANG KAPASITAS YANG DIMILKI KELAS/ SEKOLAH
SDM
Kemampuan yang dimiliki guru dan murid dalam penyelengaran kegiatan.
FISIK
Sekolah yang bertahap telah menyediakan alat dan sarana serta ruang untuk mengembangkan minat dan bakat siswa dalam bidang seni.
LINGKUNGAN
Jawa Barat yang memang banyak ragamnya senantiasa dapat di kreasi dan kolaborasikan untuk memupuk kreatifitas murid dalam bidang seni musik, tari, rupa, teater dan lainnya
AGAMA & BUDAYA
Ada beberapa padepokan seni tradisional yang masih melestarikan kesenian tradisi.
SOSIAL
Kolaborasi dengan Ekstrakulikuler, Alumni, Padepokan seni
FINANSIAL
Kas & Iuran peserta komunitas
Tantangan
Rentannya sensitifitas warga sekolah untuk ikut mengembangkan Komunitas LINI ini.
Menjaga konsistensi peserta didik untuk mengikuti Komunitas LINI ini.
Waktu yang berbenturan dengan kegiatan KBM, Ektrakulikuler lain.
Rencana Evaluasi
Evaluasi akan dilakukan di akhir kegiatan dengan sharing diskusi dengan Kepala sekolah, waka kesiswaan, guru, murid dan ekstrakulikuler, serta evaluasi setelah akhir pembuatan karya dan penampilan.
Pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara dinilai sangat relevan untuk diterapkan pada dunia pendidikan di Indonesia pada masa sekarang ini. Ki Hadjar Dewantara menegaskan bahwa tujuan dari pendidikan adalah menuntun segala kodrat yang ada pada anak, agar mereka dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya baik sebagai manusia maupun sebagai anggota masyarakat. Ki Hadjar Dewantara juga mengemukakan bahwa dalam proses menuntun, anak perlu diberikan kebebasan dalam belajar serta berpikir, dituntun oleh para pendidik agar anak tidak kehilangan arah serta membahayakan dirinya. Semangat agar anak bisa bebas belajar, berpikir, agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan berdasarkan kesusilaan manusia ini yang akhirnya menjadi tema besar kebijakan pendidikan Indonesia saat ini, Merdeka Belajar.
Berdasarkan hal-hal tersebut, sebagai upaya untuk mencapai tujuan salah satu proses menuntun tersebut dapat dilakukan dengan cara coaching. Dalam proses coaching seorang guru berperan sebagai coach yang dapat menuntun murid sebagai coachee dengan mengajukan beberapa pertanyaan untuk menggali segala potensi dan kemampuan yang dimiliki murid dengan tujuan menuntun dan mengarahkan untuk mencari solusi bagi masalah mereka sendiri.
Coaching dalam konteks pendidikan memiliki peran:
Coaching sebagai salah satu proses untuk menuntun belajar murid mencapai kekuatan kodratnya.
Sebagai seorang pamong gurudapat memberikan tuntunan melalui pertanyaan-pertanyaan reflrktif tang efektif agar kekuatan kodrat terpancar memalui dirinya.
Guru sebagai seorang coach memiliki peran yang sangat penting dalam menciptakan kenyamanan bagi murid melalui keterampilan berkomunikasi dengan baik sehingga bisa menumbuhkan rasa empati, saling menyayangi, menghormati dan menghargai antara guru dan murid.
Peran guru sebagai coach di sekolah, kaitannya dengan pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional antara lain:
Guru sebagai pendidik perlu memilik ketrampilan coaching sehingga dapat memaksimalkan potensi murid dengan memperhatikan kebutuhan peserta didik.
Dalam proses coaching murid diberi kebebasan, namun pendidik sebagai pamong memberikan tuntunan dan arahan agar murid lebih terarah.
Melalui proses coaching ini guru bisa membantu murid untuk mencapau tujuannya yaitu merdeka dalam pembelajara
Dengan kemampuan dan keterampilan bertanya dari seorang coach dapat menumbuhkan/menstimulus kesadaran bagi murid untuk mengenali segala potensi/kekuatan srta kemampuan yang dimilikinya sehingga murid tersebut menemukan solusi atas permasalahannya sendiri. Dalam proses coaching ini, peran guru dan murid adalah sebagai mitra dalam peoses pembelajaran.
Belajar bersama mengenali kekuatan yang dimiliki untuk mengasah dan meningkatkan kemampuan murid. Ibarat menemukan sebongkah intan, bagaimanakah upaya-upaya untuk menggosoknya supaya intan tersebut dapat bersinar dengan cemerlang. Untuk itu upaya guru akan sangat membantu murid bisa bersinar, menemukan kekuatan untuk bisa hidup sebagai manusia seutuhnya.
Salah satu cara untuk meningkatkan potensi dan kemampuan murid adalah dengan mengintegrasikan pembelajaran sosial emosional( PSE), pembelajaran berdiferensiasi, pembelajaran yang dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan belajar murid berdasarkan minat, profil dan kesiapan belajar.
Guru sebagai coach akan selalu berupaya untuk menggali kebutuhan belajar murid dengan mendesain bagaimana agar proses pembelajaran mampu untuk memaksimalkan segala potensi yang dimiliki oleh murid-muridnya. Selain itu juga, secara social emosional segala potensi murid dapat berkembang secara baik.
Aspek berkmunikasi untuk mendukung praktik coaching yaitu:
Komunikasi assertif,
Pendengar yang aktif,
Bertanya reflektif, dan
Umpan balik positif.
Dalam proses coaching ini ada satu model yang biasa digunakan oleh seorang coach yaitu model TIRTA yang meliputi langkah-langkah:
Tujuan utama pertemuan/pembicaraan;
Identifikasi masalah coachee;
Rencana aksi coachee; dan
Tanggung jawab/komitmen.
Refleksi terhadap proses coaching di sekolah:
Melalui proses coaching sebagai seorang guru saya dapat membantu murid untuk menuntun segala kekuatan kodratnya yang ada pada dirinya.
Melalui proses coaching sebagai seorang guru saya dapat membantu murid untuk mampu hidup sebagai individu dan bagian masyarakat yang mampu menggali dan memaksimalkan segala potensi yang dimilikinya untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.
Melalui proses coaching sebagai seorang guru saya dapat menuntun murid untuk memperoleh kemerdekaan belajar di sekolah.
Melihat poin-poin penjelasan diatas dalam kegiatan belajar mengajar, peran guru tidak hanya mengajar proses transfer ilmu saja, tetapi jika memiliki kompetensi seorang coach, guru akan benar-benar mampu berkontribusi secara aktif dalam mewujudkan profil Pelajar Pancasila serta berperan nyata dalam transformasi pendidikan untuk terciptanya merdeka belajar.
Pelajar Pancasila adalah cerminan pelajar Indonesia yang diinginkan serta senantiasa berpikir dan bersikap terbuka terhadap perbedaan dan kemajemukan. Selain itu memiliki identitas diri senantiasa mandiri dan berinisiatif. Sehingga dengan adanya peran guru yang mampu memberdayakan dan efektif tentunya mampu mengoptimalkan potensi para murid untuk mencapai profil Pelajar Pancasila. Dalam hal ini coaching adalah salah satu kompetensi pemimpin abad 21 yang perlu terus dikembangkan oleh para guru dan pendidik di negeri ini.
Selanjutnya jika lebih jauh berbicara coaching yang bertujuan untuk menuntun coachee/murid untuk menemukan ide-ide baru atau cara untuk mengatasi tantangan yang dihadapi demi mencapai tujuan yang dikehendaki, hal ini sangat seiring dengan pembelajaran berdiferensiasi berdasarkan pemetaan kebutuhan murid terlebih khusu dalam hal minat murid. Membantu murid dalam menyadari bahwa pentingnya motivasi untuk belajar merupakan bagian dari proses coaching.
Halo sahabat edukasi dimana pun anda berada, salam Bahagia..
Kali ini saya akan berbagi mengenai menyimpulkan pemikiran KHD (Ki Hadjar Dewantara) dan merefleksikannya dalam kegiatan saya sebagai pengajar.
yuk lanjut to the point…
Raden Mas Soeryadi Soeningrat atau dikenal dengan Ki Hajar Dewantara lahir di Yogyakarta 2 Mei 1889. Beliau adalah salah satu tokoh penting dalam dunia pendidikan Indonesia. Pendidikan Zaman Kolonial menjadi langkah perjalanan pendidikan Indonesia sebelum kemerdekaan dan peran sekolah Taman Siswa sejak pendiriannya di tahun 1922. Menurut Ki Hajar Dewantara, “pendidikan dan pengajaran merupakan usaha persiapan dan persediaan untuk segala kepentingan hidup manusia, baik dalam hidup bermasyarakat maupun hidup berbudaya dalam arti yang seluas-luasnya”.
Pendidikan adalah tempat persemaian benih-benih kebudayaan dalam masyarakat. KHD memiliki keyakinan bahwa untuk menciptakan manusia Indonesia yang beradab maka pendidikan menjadi salah satu kunci utama untuk mencapainya. Pendidikan dapat menjadi ruang berlatih, bertumbuhnya nilai-nilai kemanusiaan yang dapat diteruskan atau diwariskan.
Ada enam pokok pemikiran filosofis Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan, yaitu:
Pertama, pendidikan sebagai tuntunan.
Dalam konteks sosial budaya, 'menuntun' diwujudkan dalam keteladanan guru dalam proses pendidikan, baik keteladanan sikap, karakter, dan perilaku, karena anak belajar dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Menuntun juga berarti mendidik dan mengajar anak sesuai potensi, minat, dan bakatnya.
Kedua, kodrat alam dan kodrat zaman.
Pendidikan harus mempertimbangkan kodrat alam dan kodrat zaman karena kedua hal ini tidak dapat dipisahkan dalam diri anak. Seorang anak telah memiliki kodrat alam ⟮potensi, bakat, kemampuan⟯ yang unik, berbeda-beda satu sama lain sehingga guru diharapkan mampu memfasilitasi mereka agar bisa tumbuh maksimal sesuai jenjang usia mereka. Pembelajaran akan menjadi menyenangkan jika dilakukan sesuai kodrat anak, yaitu bermain. Sementara kodrat zaman, bagaimana seorang guru mampu membimbing anak agar siap hidup mandiri dalam zaman yang terus berubah.
Ketiga, Petani.
Guru ibarat petani, yang menyiapkan lahan, memupuk, mengairi, dan membersihkan hama agar bibit tumbuh subur, berbunga, kemudian berbuah. Petani dapat mengupayakan tumbuhnya bibit dengan sebaik-baiknya, tetapi tidak dapat mengubah kodrat bibit menjadi tanaman lain. Demikian pula guru. Guru dapat mengupayakan bertumbuhnya potensi anak dengan sebaik-baiknya, tetapi tidak dapat mengubah kodrat anak.
Keempat, Prinsip Bukan Tabula Rasa.
Anak lahir bukan kertas kosong yang bisa diisi oleh orang dewasa sesuai kehendaknya. Anak sudah membawa garis-garis dan coretannya masing-masing. Tugas guru adalah menebalkan garis yang baik-baik dan membiarkan garis yang tidak baik agar tidak terlihat. Guru menuntun anak agar menampakkan potensinya menjadi nyata, sekaligus meminimalisasi sifat atau tabiat buruknya.
Kelima, Budi pekerti.
Pendidikan itu adalah benih-benih kebudayaan yang dapat mengantarkan murid pada budi pekerti ⟮olah cipta, olah rasa, olah karsa dan olahraga⟯ yang luhur. Dalam budaya Bali, dikenal adanya Tri Hita Karana, yaitu hubungan yang harmonis antara manusia dengan Tuhan, hubungan yang harmonis antar sesama manusia, dan hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam.
Keenam, Berhamba pada anak.
Ini berarti pendidikan yang mengutamakan anak, berpusat pada anak, dan memuliakan anak. Pendidikan dilakukan untuk satu-satunya tujuan, yaitu membuat anak menjadi selamat dan bahagia.
Berdasarkan uraian diatas dapat disimpulkan bahwa, anak / murid harus dipandang dengan rasa hormat dan menjadi pusat dalam pembelajaran. Guru dan murid memiliki keduidukan yang sejajar dalam dunia pendidikan. Anak adalah hal yang paling bernilai. Guru harus menerima macam-macam anak yang berbeda sesuai kodrat dan fitrahnya. Guru diibaratkan sebagai petani harus mampu memfasilitasi tumbuh kembang keanekaragaman tersebut melalui penciptaan ekosistem belajar yang menyenangkan dan selalu dibingkai dalam nilai-nilai luhur pancasila.
Pemikiran Ki Hadjar Dewantara dalam pendidikan juga dikenal nama Trilogi Pendidikan dengan semboyan “Ing Ngarso Sung Tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani”. . Ing Ngarso Sung Tulodo, berarti ketika guru berada di depan, seorang guru harus memberi teladan atau contoh dengan tindakan yang baik Ing Madyo Mangun Karso berarti pada saat di antara peserta didik, guru harus menciptakan prakarsa dan ide dan membangun kemauan. Tut wuri handayani berarti dari belakang seorang guru harus bisa memberikan dorongan dan arahan.
Untuk mencapai tujuan Pendidikan, Ki hajar Dewantara menerapkan metode among dalam pembelajaran. Among (emban) memiliki pengertian menjaga, membina, dan mendidik anak dengan kasih sayang, membimbing sang anak dengan ikhlas sesuai bakat dan minat yang di asuh , memberikan 'tuntunan' agar anak dapat menemukan kemerdekaannya dalam belajar. Metode among juga dikenal dengan "Metode pengajaran dan Pendidikan berdasarkan Asih, Asah, dan Asuh."
Selain metode among, ada tiga metode yang dipakai oleh Ki Hadjar Dewantara dalam mengajarkan budi pekerti berdasarkan urutan-urutan pengambilan keputusan berbuat artinya kita bertindak sebaiknya berdasarkan urutan yang benar, sehingga tidak ada penyesalan.
Tiga metode tersebut adalah: ngerti, ngrasa dan nglakoni.
Pertama, Metode ngerti maksudnya adalah memberikan pengertian yang sebanyak-banyaknya kepada anak. Di dalam pendidikan budi pekerti anak diberikan pengertian tentang baik dan buruk. Di samping itu juga diajarkan tentang aturan yang berlaku dalam kehidupan masyarakat, berbangsa dan bernegara serta beragama.
Kedua, Metode ngrasa maksudnya adalah berusaha semaksimal mungkin untuk memahami dan merasakan tentang pengetahuan yang diperolehnya. Dalam hal ini anak didik untuk dapat memperhitungkan dan membedakan antara yang benar dan yang salah.
Ketiga, Metode nglakoni maksudnya adalah mengerjakan setiap tindakan, tanggung jawab telah dipikirkan akibatnya berdasarkan pengetahuan yang telah didapatnya. Jika sudah mantap dengan tindakan yang akan dilakukan hendaknya segera dilakukan jangan ditunda-tunda.
Untuk keberhasilan tujuan Pendidikan maka menurut Kihajar Dewantara Pendidikan bukan hanya tanggung jawab sekolah saja, tetapi juga menjadi tanggung jawab keluarga dan masyarakat yang dikenal dengan Tri Sentra Pendidikan. Tri centra Pendidikan yaitu suatu pelaksanaan pendidikan yang dilakukan bersama-sama oleh keluarga, sekolah dan masyarakat untuk membentuk manusia yang unggul, berbudi pekerti dan cerdas. Dimulai Pendidikan dari rumah sebagai pondasi pertama dan utama selanjutnya Pendidikan yang dilaksanakan di sekolah dan lingkungan masyarakat yang kondusif.
Intisari pemikiran Ki Hadjar Dewantara tentang pendidikan adalah bagaimana memerdekakan belajar, guna mencapai kemerdekaan belajar yang tujuan utamanya adalah menjadikan siswa yang memiliki profil pelajar Pancasila. Profil pelajar Pancasila terdiri atas: Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Berkebhinekaan Global, Bergotong royong, Kreatif, Bernalar kritis, dan Mandiri. Ini berarti dalam melaksanakan pendidikan dan pengajaran kepada anak-anak, Ki Hajar Dewantara menganjurkan agar pendidik tetap memperhatikan segala potensi anak-anak, yaitu jiwa, jasmani, etika, moral, estetika dan karakter dengan paduan budaya sesuai dengan perubahan zaman.
Refleksi Pemikiran Ki Hadjar Dewantara
Setelah saya mempelajari dan merefleksikan Filosofis Pemikiran Ki Hajar Dewantara, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam mewujudkan “Merdeka Belajar” sebagai Calon Guru Penggerak yakni:
Apa yang saya percaya tentang murid dan pembelajaran di kelas sebelum saya mempelajari modul 1.1 ?
Sebelum mempelajari modul 1.1, ada beberapa hal yang saya yakini diantaranya :
Pertama, Saya meyakini dan percaya bahwa niat para siswa datang ke sekolah adalah untuk mempelajari ilmu pengetahuan.
Kedua, Dalam pembelajaran saya memandang pentingnya transfer pengetahuan dari guru kepada siswa, sehingga guru harus aktif mengajar dan siswa duduk di tempat duduknya masing-masing.
Ketiga, Dalam pembelajaran yang saya lakukan saya lebih sering menggunakan metode atau strategi yang bagus menurut saya tetapi tidak pernah memperhatikan kebutuhan siswa atau pembelajaran seperti apa yang mereka inginkan.
Keempat, Saya tidak pernah membuat kesepakatan bersama saat mengawali pelaksanaan pembelajaran.
Kelima, Saya sering memberikan hukuman kepada siswa saat mereka tidak mengerjakan tugas-tugas yang saya berikan.
Keenam, saya sangat menginginkan dalam proses pembelajaran yang saya lakukan siswa harus bisa tertib, duduk yang rapi, diam, dengan pandangan yang terpusat kepada gurunya dengan harapan dapat membuat siswa dengan mudah memahami materi-materi yang saya sampaikan.
Ketujuh, disekolah maupun di dalam kelas saya kurang memperhatikan penampilan visual saya sebagai guru. Ketika tampil di diantara teman-teman guru maupun di hadapan siswa, saya sering berpenampilan kurang rapi utamanya penampilan rambut dan style pakaian yang saya gunakan.
Kedelapan, Fokus kegiatan pembelajaran adalah ketuntasan target kurikulum dalam satu semester seperti yang tertuang dalam dokumen program tahunan. Mengutamakan ketuntasan kurikulum merupakan hal yang penting dengan tercapainya standar angka-angka yang tinggi. Hasil akhir dalam pembelajaran diharapkan anak mampu mengerjakan ujian dan tugas dengan benar.
2) Apa yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini?
Hal yang berubah dari pemikiran atau perilaku saya setelah mempelajari modul ini adalah terjadinya perubahan dalam pola pikir saya terhadap siswa dan pembelajaran.
Saya sangat optimis ada mimpi dan cita cita dalam benak setiap anak saat mendatangi sekolah. Saya percaya murid punya inisiatif belajar meski tidak disuruh guru. Ternyata niat murid ke sekolah tidak sama, ada yang ingin menggapai cita-citanya ada juga yang mereka datang ke sekolah karena rutinitas semata bahkan ada juga hanya sebatas untuk uang jajan atau mendapatkan teman pribadi. Guru harus mengenal keberagaman dari peserta didik. Menuntun dan memotivasi murid menemani perjalanan menuju cita-citanya menjadi manusia unggul.
Siswa seharusnya diposisikan sebagai subjek pendidikan yang memegang peranan penting terhadap jalannya pembelajaran. Guru sebagai fasilitator yang mengarahkan siswa belajar sesuai potensi, minat, bakat, dan cara belajarnya.
Pembelajaran hendaknya dilaksanakan dengan cara ‘among’, yakni menuntun potensi anak berdasarkan budaya.
Pembelajaran dilaksanakan bukan dengan tuntutan kepada anak, tetapi dengan memberikan kebebasan kepada anak untuk belajar sesuai kebutuhannya sehingga tercipta kemerdekaan belajar. Ketercapain kurikulum harus dicapai tanpa membatasi kemerdekaan belajar siswa.
Sebaiknya kita sebagai guru harus melakukan asessmen diagnostik awal untuk mengetahui kebutuhan siswa, profil siswa, gaya belajar siswa, metode belajar seperti apa yang mereka inginkan, sehingga kita sebagai guru dapat merancang pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan yang dibutuhkan siswa.
Pembelajaran seharusnya dilaksanakan dengan berbagai cara, model, atau metode, seperti kooperatif learning, inquiri, discovery, problem based learning, maupun project based learning, serta menggunakan berbagai sumber belajar, seperti lingkungan, surat kabar, majalah, narasumber, maupun internet.
Proses pembelajaran dilaksanakan untuk mengembangkan semua potensi anak, baik budi pekerti, pikiran, maupun tubuhnya agar menjadi anak yang selamat dan bahagia.
Sebagai guru, saya harus memberikan keteladanan kepada siswa, dalam hal sikap, penampilan, kemandirian, disiplin, gotong royong, dan kolaborasi dalam menyelesaikan masalah.
Tugas kita sebagai pendidik adalah menuntun, membimbing peserta didik dalam mencari dan menemukan konsep-konsep teori dan membantu mereka menerapkan konsep dan teori yang sudah mereka pelajari dalam kehidupannya sehingga anak-anak atau peserta didik tidak kehilangan arah dan membahayakan hidupnya.
3) Apa yang bisa segera saya terapkan lebih baik agar kelas saya mencerminkan pemikiran Ki Hadjar Dewantara?
Hal yang pertama saya lakukan adalah berliterasi. Ibarat seorang petani maka saya harus berliterasi tentang tehnik menanam dan menghasilkan tanaman yang berkualitas. Melalui Pendidikan Guru Penggerak ini, saya akan banyak belajar tentang berbagai teknik pembelajaran yang sesuai filosofi pendidikan KHD baik melalui LMS, Instruktur, Fasilitator, Guru Pendamping maupun rekan-rekan CGP lainnya.
Sebagai pendidik, saya harus bisa menjadi tauladan, bersikap dan berpenampilan yang baik, mampu memberi semangat serta memberi dorongan dalam menanamkan pendidikan karakter meliputi: kedisiplinan dan kerjasama, tolong menolong dalam setiap kegiatan yang ada disekolah.
Menumbunhkembangkan pendidikan karakter peserta didik dengan pembiasaan seperti mengawali aktifitas pembelajaran dengan berdoa, saling menghargai pendapat ketika berdiskusi, memberikan kata-kata positif untuk teman sebangku/sekelas, memberikan pujian, menyampaikan permohonaan maaf jika melakukan kesalahan baik sengaja maupun tidak dan terakhir membudayakan budaya lokal untuk mentransformasikan pendidikan karakter peserta didik.
Untuk mengetahui karakteristik siswa, saya akan melakukan asesmen diagnosis mengenai potensi, minat, bakat, dan cara belajar siswa.
Dalam pembelajaran, saya akan lebih banyak memposisikan diri sebagai fasilitator yang mengarahkan anak mengembangkan potensi dirinya, dengan memberikan berbagai sumber belajar dan cara belajar yang beragam. Siswa juga akan lebih sering diajak berkomunikasi tentang keinginannya dalam pembelajaran, hambatan yang ditemui, dan mendiskusikan cara mengatasi hambatan tersebut.
Demikian kesimpulan dan refleksi penulis mengenai pemikiran-pemikiran Ki Hajar Dewantara pada modul 1.1.
Iya sahabat edukasi, itulah tadi kesimpulan dan refleksi saya mengenai pemikiran KHD, Semoga bermanfaat.
Setelah saya menjalani pembelajaran dari Modul 1.1 hingga Modul 1.2 ini, berikut adalah hal yang menjadi pembelajaran bagi saya (model refleksi 4P):
Peristiwa: Momen yang paling penting atau menantang atau mencerahkan bagi saya dalam proses pembelajaran Modul 1.1 hingga Modul 1.2 adalah...
Kaitan antara Modul 1.1 dan 1.2 yang saya fahami adalah...
Perasaan: Saat momen itu terjadi saya merasa seperti bagaikan...
Pembelajaran: Sebelum momen tersebut terjadi saya berpikir bahwa...sekarang saya berpikir bahwa...
Penerapan ke depan (Rencana): Apa pengembangan diri yang sederhana, konkret dan rutin yang dapat saya lakukan sendiri dari sekarang, untuk membantu menguatkan nilai-nilai dan peran saya sebagai Guru Penggerak?
Anda juga dapat memberikan komentar/apresiasi terhadap hasil kerja CGP lain di bagian ini. Pastikan Anda mengumpulkan tugas Anda terlebih dahulu sebelum memberikan tanggapan kepada hasil CGP lain.
Guru penggerak adalah pemimpin pembelajaran yang mampu mendorong tumbuh kembang murid secara holistik sesuai dengan kodrat alam dan kodrat jaman, aktif dan proaktif menggerakkan guru lain untuk mengimplementasikan fondasi pemikiran Ki Hajar Dewantara yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid serta mampu menjadi teladan agen transformasi ekosistem pendidikan untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
Seorang guru penggerak harus memiliki nilai-nilai yang menjadi pedoman berperilaku serta mendukung calon guru penggerak dalam mewujudkan merdeka belajar, meliputi nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif serta berphak pada murid. Serta diharapkan mampu melaksanakan peran guru penggerak yang merupakan pedoman bertindak yang harus dikuasai oleh calon guru penggerak, meliputi :
1.Menjadi Pemimpin Pembelajaran
2.Menggerakkan komunitas Praktisi
3.Menjadi coach bagi guru lain
4.Mendorong kolaborasi antar guru
5.Mewujudkan kepemipinan murid
Keterkaitan antara Nilai dan Peran Guru Penggerak dengan Filosofi Ki Hadjar Dewantara
Pemikiran Ki Hajar Dewantara adalah pendidikan yang berpusat pada murid, anak diberi kesempatan untuk tumbuh dan berkembang sesuai dengan minat dan bakatnya. Di mana seorang guru hendaknya dengan suci hati mendekati sang anak dan menghamba kepada sang anak. Implementasi nilai-nilai dan peran guru penggerak merupakan bagian penting dalam mewujudkan pendidikan yang berpusat pada murid. Karena nilai dan peran guru penggerak menjadi pedoman dalam berperilaku dan bertindak dalam melakukan perubahan ekosistem pendidikan.
Guru dituntut untuk totalitas berfokus melayani anak agar dapat bertumbuh dan berkembang secara holistik yaitu tajam pikirannya (cipta), halus rasanya (rasa) dan kuat dan sehat jasmaninya (karsa) .Hadirnya guru penggerak sebagai agen perubahan ekosistem pendidikan yang berpijak pada filosofi Ki Hajar Dewantara harus mampu menerapkan 3 kata kunci yaitu teladan, motivasi dan merdeka. Artinya calon guru penggerak harus mampu menjadi teladan serta dapat memotivasi sehingga menguatkan kemampuan untuk memerdekakan murid sesuai dengan profil pelajar pancasila. serta pengembangan potensi siswa yang mengikuti kodrat alam juga selaras dengan kodrat zamannya. Maka dari itu kolaborasikan nilai-nilai dan peran guru penggerak harus bersinergi dengan konsep merdeka belajar filosofi Ki Hajar Dewantara.
Strategi yang dapat dilakukan untuk mencapai nilai guru penggerak adalah
•Berbekal nilai mandiri dan semangat dalam mempelajari hal-hal baru calon guru penggerak harus mampu meningkatkan keterampilan dan kompetensi diri dengan cara menggali ilmu pengetahuan baik mengikuti pendidikan dan latihan, sumber buku maupun internet.
•Selalu merefleksikan dan mengevaluasi setiap kegiatan pembelajaran baik yang sudah dilakukan maupun yang akan dilakukan
•Melakukan kolaborasi dengan pimpinan sekolah dan rekan guru di setiap kegiatan pembelajaran yang berpihak pada murid
•Berupaya untuk selalu berinovasi dalam memunculkan ide-ide kreatif di setiap pemecahan masalah
•Selalu mengutamakan kepentingan perkembangan murid sebagai acuan utama.
Pihak yang dapat membantu dalam mencapai nilai dan peran guru penggerak adalah
1.Peran keluarga yaitu selalu memberikan dukungan di dalam menjalankan program calon guru penggerak.
2.Peran Fasilitator dan Pendamping praktik yaitu selalu memberikan bimbingan, arahan dan motivasi di dalam meningkatkan keterampilan dan kompetensi diri.
3.Peran Kepala sekolah yaitu selalu memberikan motivasi dan dorongan untuk selalu melakukan perubahan-perubahan pembelajaran yang berpihak pada murid dan profil pelajar pancasila
4.Peran Rekan sejawat yaitu siap berkolaborasi untuk bergerak bersama di dalam mewujudkan merdeka belajar yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid dan profil pelajar pancasila.
5.Peran Siswa yaitu selalu mendukung dan menjadi acuan utama didalam menerapkan pembelajaran yang berpihak pada murid.
1.Apa yang dapat saya ceritakan mengenai salah SATU dari nilai-nilai GP (berpihak pada murid, inovatif, kolaboratif, reflektif, dan mandiri) yang telah membantu saya dalam melayani murid saya dengan lebih baik?. Tuliskan dalam bentuk narasi singkat untuk berbagi dalam kelompok dalam tahap Ruang Kolaborasi.
Jawaban :
Salah satu nilai dari GP yang membantu saya dalam melayani murid adalah BERPIHAK PADA MURID. Karena jika dalam proses pembelajaran senantiasa mengutamakan kebutuhan murid, maka guru akan menyusun perangkat pembelajaran yang dapat mengakomodir seluruh potensi muridnya. Tak hanya dalam proses pembelajaran, aspek emosional dapat dikontrol oleh guru menyesuaikan tingkatan perkembangan muridnya. Sehingga tujuan dalam pendidikan adalah menyiapkan murid agar mampu hidup dalam lingkungan masyarakat dan keselamatan lahir dan batin harus diawali dengan pemikiran “Berpihak Pada Murid’.
Pelayanan sesuai dengan kondisi murid yaitu sebagai bentuk keberpihakan tersebut, segala sesuatu yang saya lakukan berfokus untuk memenuhi hak-hak murid. Inovasi dan kreativitas yang saya laksanakan dalam pembelajaran di kelas atau di sekolah bertujuan untuk focus pengembangan kepribadian, bakat, dan kemampuan mental dan fisik murid. Segala keputusan yang saya ambil didasari oleh semangat untuk memberdayakan diri serta memanfaatkan aset/ kekuatan yang ada untuk menyediakan suasana belajar dan proses pembelajaran yang positif serta berkualitas bagi murid saya.
2.Apa saja 10 kegiatan di sekolah yang saya anggap masuk sebagai contoh penerapan dari peran GP yang saya pahami saat ini (pemimpin pembelajaran, pendorong kolaborasi, penggerak komunitas praktisi, mewujudkan kepemimpinan murid, menjadi coach bagi rekan guru)?. Buatlah daftarnya untuk digunakan saat berbagi ide dalam kelompok dalam tahap Ruang Kolaborasi.
Jawaban :
1.Gerakan “5S”
Senyum, Salam, Sapa , Sopan dan Santun merupakan kegiatan rutin dialkukan setiap pagi. Guru menjemput siswa digerbang sekolah dan membiasakan anak untuk saling menyapa jika bertemu di jalan dengan bahasa yang santun.
2.KELIR ”Kelas Bergilir”
Ketua kelas bergilir adalah melatih jiwa kepemimpinan siswa dalam menjadi figur di depan kelas. Dalam hal ini siswa secara bergiliran memimpin berdoa, memimpin yel-yel dan lagu nasional sebelum pembelajaran dimulai.
3.ALISA (Aku Lihat Sampah Ambil)
Kepedulian terhadap lingkungan ditunjukkan dengan kegiatan siswa mengambil daun kering dan sampah berserakan setiap melihat di lingkungan sekolah. Tak usah menunggu hari jumat untuk kegiatan jumat sehat, setiap saat ketika anak melihat sampah harus diambil dan dimasukkan sesuai kategorinya
4.Home Visit
Koordinasi dengan tri pusat pendidikan perlu dipupuk secara rutin. Kegiatan Home visit ini adalah diskusi perkembangan siswa ketika bersekolah kepada wali murid sekaligus sebagai sarana menggalai informasi , ktitik dan saran untuk peningkatan proses pembelajaran.
5.Parenting Club
Membentuk paguyuban kelas sebagai wujud kolaborasi sekolah dengan orang tua/ wali murid dalam mendidik anak dan kegiatan ini menggerakkan wali murid untuk ikut berkontribusi dalam pendidikan anak. Mengundang secara rutin wali murid ke sekolah untuk memaparkan kurikulum, visi misi dan standart minimum pembelajaran. Sehingga wali murid mengetahui apa saja yang akan dipelajari anak nantinya selama tahun pelajaran berlangsung.
6.Outing Classroom
Pembelajaran akan menyenangkan jika didukung dengan kenyamanan siswa. Sehingga sebagai variasi, siswa diajak belajar dari lingkungan terdekat. Misalnya anak diajak ke industri untuk mengetahui kegiatan dunia industri sebenarnya, melihat proses bekerja yang sesuai dengan Standar Operasionla Produksi, dll.
7.Infaq Jum’at
Sedekah atau infak jumat dilakukan secara sukarela dan rutin. Infak yang terkumpul akan digunakan untuk kegiatan keagamaan, misalnya adalah melakukan kegiatan takjil ramadhan yang dikelola oleh siswa sendiri , membantu siswa yang terkena musibah dan untuk kegiatan sosial lainnya.
8.Technology Session
Melakukan penilaian harian berbasis android sebagai wujud mendidik anak sesuai dengan kodrat zaman.
9.Bangmikat (Pengembangan Minat dan Bakat)
Mengadakan ekstrakurikuler sesuai dengan bakat, minat, potensi murid (ekstrakurikuler pramuka, voli, drumband, seni dll)
10.TiKom (Tingkatkan Kompetensi)
Guru mengikuti diseminasi pelatihan yang pernah diikuti oleh rekan guru lain sebagai wujud peningkatan kompetensi.
Apa peristiwa positif dan negatif yang saya tuliskan di sana?
a.Peristiwa positif :
1.Sejak SD sudah mengenal dan belajar tentang music, sampai usia SMA membentuk Band dan mengikuti Festival serta menjadi home band beberapa acara, dengan adanya bakat itu, disetiap organisasi menjadi bagian bidang pengembangan minat dan bakat
2.Kelas 5 SD saya tidak sadar bahwa menurut guru saya tulisan saya sangat rapi dibanding teman-teman yang lain, dengan itu saya selalu ditugaskan untuk menyalin notulen atau RPP guru saya itu.
b.Peristiwa Negatif :
1.Kelas 6 SD saya dikenalkan Rokok oleh teman saya, suatu malam setelah berbuka puasa sebelum tarawih. Dan orang tua mengetahui hingga marah besar.
Selain saya, siapa lagi yang terlibat di dalam masing-masing peristiwa tersebut?
Ibu yang saya sayangi, Guru saya Ibu Nina dan teman-teman saya.
Dampak emosi apa saja yang saya rasakan hingga sekarang? (silakan gunakan roda emosi Plutchik di Gambar 2 untuk mengidentifikasi persisnya perasaan Bapak/Ibu di masa itu)
a.Peristiwa Positif : Bersyukur dan Bahagia
b.Peristiwa Negatif :Khawatir, Cemas dan Takut
Mengapa momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat saya rasakan dan masih dapat memengaruhi diri saya di masa sekarang?
Karena setiap hal yang saya lakukan memiliki kesan tersendiri untuk saya dan selalu menjadi motivasi.
Pelajaran hidup apa yang saya peroleh dari kegiatan trapesium usia dan roda emosi, terkait peran saya sebagai guru terhadap peserta didik saya?
Berupaya untuk menjadi pribadi yang baik, berpikir positif dan berupaya untuk bisa bermanfaat untuk semua orang, berusaha membantu dengan ikhlas dan menjadi teladan untuk siswa.
Bagaimana saya menuliskan nilai-nilai yang saya yakini sebagai seorang Guru, dalam 1 atau 2 kalimat menggunakan kata-kata: "guru", "murid", "belajar", "makna", "peran"?
Guru memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan pembelajaran bermakna kepada murid yang sesuai kodratnya.
Apa nilai-nilai dalam diri saya yang membantu saya menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah saya?
Saya berupaya untuk menumbuhkan nilai rasa empati dan simpati, jiwa yang suka berbagi ilmu, diri yang selalu ingin belajar, punya motivasi dan keberanian, memiliki jiwa kepemimpinan
Apa peran yang selama ini saya mainkan dalam menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah saya?
Peran saya yaitu sebagai pendidik/ orang tua disekolah, menjadi sahabat pada rekan kerja, dan menjadi Fasilitator untuk meningkatkan minat dan bakatnya sesuai passionnya.