Showing posts with label Nusantara. Show all posts
Showing posts with label Nusantara. Show all posts

Tuesday, January 11, 2022

JENIS-JENIS APRESIASI SENI BUDAYA

B) Jenis-jenis Apresiasi Seni Budaya

Pada dasarnya, apresiasi seni budaya dibagi berdasarkan dua kategori, yaitu berdasarkan pendekatannya dan berdasarkan tingkatannya. Berdasarkan pendekatannya, apresiasi terbagi menjadi dua, yaitu apresiasi pasif dan apresiasi aktif. Sementara itu, menurut tingkatannya, apresiasi terbagi menjadi tiga, yaitu apresiasi empatik, apresiasi estetik, dan apresiasi kritik.

1. Jenis Apresiasi Menurut Pendekatannya Apresiasi menurut pendekatannya bermakna kegiatan apresiasi yang dilakukan dengan beberapa metode. Metode atau pendekatan yang diterapkan oleh setiap orang ketika melakukan apresiasi seni budaya berbeda satu sama lain. Ada yang melakukan apresiasi secara pasif, ada juga yang melakukan apresiasi secara aktif.

a. Apresiasi pasif, yaitu kegiatan apresiasi yang bersifat serta merta dan tidak melakukan pendalaman lebih lanjut terhadap bentuk karya seni yang diamati. Kegiatan apresiasi pasif umumnya dilakukan oleh masyarakat awam yang tidak terlalu "melek" seni, atau tidak memahami seni secara mendalam. Apresiasi pasif ditunjukkan melalui penilaian bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni menggunakan pancaindra. Contohnya, seseorang yang menonton pertunjukan Reog Ponorogo menganggap bahwa pertunjukan tersebut sangat menarik dan indah, mulai dari tarian, kostum, hingga musik pengiringnya. Namun, seusai menonton, ia tidak mencari informasi lebih lanjut mengenai pertunjukan tersebut, misalnya informasi mengenai sejarah ataupun seluk-beluk penyusun pertunjukan tersebut. Sikap yang demikian menunjukkan adanya apresiasi pasif.

b. Apresiasi aktif, yaitu kegiatan apresiasi yang ditunjukkan secara mendalam, termasuk setelah menilai suatu bentuk dan hasil karya seni secara pasif/apresiasi pasif. Berbeda dengan apresiasi pasif, seseorang yang melakukan apresiasi aktif akan mencari informasi lebih lanjut mengenal bentuk
karya seni yang baru saja la nikmati. Apresiasi aktif juga menunjukkan tingginya minat seseorang terhadap suatu bentuk karya seni yang dihasilkan seniman. Apresiasi aktif kemudian melahirkan dua hal, yakni pendekatan aplikatif dan pendekatan kesejarahan.

1) Pendekatan aplikatif

Apresiasi aktif dengan pendekatan aplikatif dapat dimaknai sebagai upaya yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan apresiasi dengan cara terjun langsung ke dalam bentuk seni yang ia sukai. Contohnya, seseorang yang menyukai seni lukis akan mempelajari cara melukis, seseorang yang menyukai seni tari akan bergabung dengan sanggar seni tari, dan seseorang yang menyukai seni peran akan bergabung dengan kelas akting atau grup teater untuk mengasah kemampuan beraktingnya.

Pendekatan aplikatif juga dapat dilakukan seseorang dengan mencari tahu tentang cara mempelajari suatu bentuk seni budaya melalui berbagai media, seperti buku atau internet, atau dengan mendatangi studio, sanggar, dan galeri seni. Contohnya, seseorang yang terpesona dan tertarik untuk mempelajari tari gambyong secara otodidak dapat mempelajari tentang cara menari gambyong dengan mengakses situs penyedia video di internet. Begitu pula dengan mendatangi studio, sanggar, dan galeri seni. Dengan mendatangi tempat-tempat tersebut, seseorang berkesempatan untuk melihat lebih dekat mengenai teknik, bahan, dan unsur-unsur penciptaan suatu bentuk karya seni. Contohnya, dengan mengunjungi studio lukis, seseorang dapat melihat alat, bahan, dan teknik yang digunakan untuk melukis serta melihat bagaimana hasil akhir lukisan.
Pendekatan aplikatif juga dapat disebut sebagai praktik berkarya. Melalul praktik berkarya, seseorang akan merasakan langsung pengalaman yang dirasakan oleh seniman yang karyanya ia nikmati sebelumnya. la dapat mempelajari teknik pembuatan, mempelajari alat dan bahan yang menjadi media pembuatan, mencari berbagai alternatif untuk menciptakan, serta mengalami suka-duka dalam menciptakan suatu karya. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan aplikatif akan mendorong seseorang untuk memberikan apresiasi tinggi terhadap suatu bentuk seni budaya.

2) Pendekatan kesejarahan
Apresiasi dengan pendekatan kesejarahan dapat dimaknai sebagai upaya apresiasi yang dilakukan seseorang dengan cara menelusuri asal-usul dan sisi sejarah dari suatu bentuk karya seni. Pendekatan kesejarahan juga dikenal sebagai penelusuran riwayat. Pendekatan kesejarahan dapat dilakukan dengan banyak cara, di antaranya dengan mencari informasi pada sumber tertulis dan internet serta bertanya langsung kepada pihak-pihak yang dirasa cukup kompeten dan memiliki pengetahuan terkait karya seni yang bersangkutan. Pihak-pihak tersebut dapat berupa seniman, para tetua, hingga keluarga. Contohnya, seseorang yang tertarik dengan asal-usul sejarah pertunjukan lenong dapat mencari informasi dengan membaca buku, mencari informasi di internet, bertanya kepada keluarga yang memiliki pengetahuan tentang lenong, atau bertanya langsung kepada seniman lenong.

Penelusuran kesejarahan semacam ini tidak cukup dilakukan hanya dengan mendatangi studio, sanggar, galeri seni, ataupun museum. Diperlukan dedikasi, kesabaran, dan kemauan tinggi untuk melakukan pendekatan kesejarahan agar mendapatkan informasi tentang suatu bentuk seni secara komprehensif. Tanpa adanya dedikasi, kesabaran, dan kemauan, informasi yang diperoleh akan tidak lengkap sehingga pemahaman dan apresiasi terhadap bentuk seni yang bersangkutan tidak maksimal.

2. Jenis Apresiasi Menurut Tingkatannya
Menurut tingkatannya, apresiasi seni terbagi menjadi tiga, yakni apresiasi empatik, apresiasi estetis, dan apresiasi kritik. Pembagian apresiasi berdasarkan tingkatannya ini sesuai dengan pendapat Brent G. Wilson yang menyebutkan bahwa apresiasi mengandung tiga konteks utama, yakni feeling (perasaan, berkaitan dengan apresiasi empatik dan estetis), valuing (penilaian, berkaitan dengan apresiasi kritik), dan emphatizing (empati, berkaitan dengan apresiasi empatik).

a. Apresiasi empatik 
Apresiasi empatik dapat dimaknai sebagal upaya
penilaian berdasarkan unsur-unsur cerapan/tangkapan pancaindra. Selain melibatkan pancaindra, apresiasi empac juga berkaitan dengan pemikiran dan perasaan seseorang Hasil dari tangkapan pancaindra akan memengaruhi pikiran dan perasaan seseorang sehingga orang tersebut dapat memberikan penilaian baik tidaknya suatu bentuk seni yang sedang ia nikmati. Contoh dari apresiasi empatik adalah seseorang yang terkagum-kagum saat melihat pertunjukan wayang orang yang diiringi dengan alunan musik gamelan Perasaan kagum tersebut muncul akibat keindahan yang ia tangkap melalui mata (pertunjukan wayang orang) dan telinga (alunan suara gamelan). Rasa kagum dan senang saat menonton pertunjukan tersebut akan membuat dirinya menilai bahwa pertunjukan wayang orang adalah pertunjukan yang bagus dan menarik.

b. Apresiasi estetis
Apresiasi estetis dapat dimaknai sebagai upaya penilaian terhadap suatu bentuk karya seni melalui pengamatan dan penghayatan. Berbeda dengan apresiasi empatik yang terbatas pada tangkapan pancaindra, apresias estetis mengeksplorasi unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari suatu karya seni. Contoh unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut meliputi bentuk, tampilan, isi, hingga hal-hal yang melatarbelakangi seniman dalam menciptakan karya tersebut. Melalui apresiasi estetis, seseorang akan merasakan pengalaman keindahan yang tidak hanya berupa wujud (form), tetapi juga isi (substance).
Contoh dari apresiasi estetis adalah seseorang yang melakukan pengamatan dan penghayatan terhadap lukisan-lukisan potret realis karya Basoeki Abdullah. Ketika mengamati salah satu lukisan potret realis karya Basoeki Abdullah, misalnya potret Bung Hatta, ia akan mengamati bagaimana kemiripan antara lukisan tersebut dengan wajah asli Bung Hatta, media apa yang digunakan untuk membuat lukisan tersebut, warna yang digunakan, teknik pembuatan, hingga tujuan yang melatarbelakangi Basoeki Abdullah dalam menciptakan lukisan potret tersebut. Melalui pengamatan dan penghayatan, orang yang melakukan pendekatan tersebut akan memberikan apresiasi yang lebih tinggi dibandingkan apresiasi yang hanya berdasarkan tangkapan mata.

c. Apresiasi kritik
Apresiasi kritik dapat dimaknai sebagai upaya penilaian yang lebih kompleks dengan melibatkan beberapa kegiatan, seperti klasifikasi, deskripsi, tafsiran, analisis, evaluasi, dan kesimpulan. Apresiasi kritik umumnya diberikan oleh orang-orang yang telah lama mendalami dan memiliki pengetahuan yang luas terkait suatu bidang seni, seperti kritikus seni. Apresiasi kritik tidak hanya terbatas pada penilaian bagus tidaknya suatu karya seni, tetapi juga pemberian masukan, saran, deskripsi, dan evaluasi terhadap karya seni tersebut. Artinya, apresiasi kritik lebih menekankan sisi objektif dibandingkan sisi subjektif saat melakukan penilaian. Dengan demikian, apresiasi kritik tidak hanya membawa pemahaman dan pengetahuan baru bagi diri sang kritikus ataupun penikmat seni, tetapi juga motivasi bagi seniman untuk menciptakan karya yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Contoh dari apresiasi kritik adalah seorang kritikus seni yang memberikan penilaian terhadap suatu pertunjukan teater. Saat menonton, kritikus akan melihat bagaimana mekanisme pertunjukan tersebut, mulai dari cara dan teknik berakting para pemain, dialog yang dibawakan, tata kostum dan tata rias para pemain, tata panggung dan tata cahaya, hingga musik yang mengiringi pertunjukan tersebut. Dengan memberi perhatian pada detail, kritikus seni dapat memberikan penilaian terhadap pertunjukan tersebut. Jika ia menemukan kekurangan, misalnya dialog yang terlalu panjang dan membosankan penonton atau banyaknya blocking yang dilakukan para pemain, ia akan memberikan kritik dan masukan kepada para pelaku pertunjukan tersebut agar kesalahan yang sama tidak terulang di kemudian hari.

APRESIASI SENI BUDAYA NUSANTARA

A Konsep Apresiasi Seni Budaya

Indonesia menyimpan kekayaan seni dan budaya yang tidak terhitung jumlahnya. Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan mengenai bentuk-bentuk seni yang ada di Indonesia, beserta tahapan perkembangannya dari masa ke masa. Banyaknya kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Indonesia tersebut mendorong munculnya reaksi, salah satunya apresiasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apresiasi memiliki dua pengertian, yaitu "kesadaran terhadap nilai seni dan budaya serta "penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu". Dalam bahasa Inggris, apresiasi dikenal dengan istilah appreciate, yang bermakna "penilaian atau penghargaan untuk mengukur kualitas sesuatu". Jika diartikan secara luas, kegiatan apresiasi dapat dimaknai sebagai kegiatan mengamati, menanggapi, dan menghayati untuk menemukan kualitas dan nilai dari suatu bentuk

Apresiasi dapat ditunjukkan dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang seni dan budaya. Kegiatan apresiasi dalam bidang seni dan budaya dapat terwujud dalam tindakan tindakan sederhana. Contohnya, seseorang yang terkagum kagum atau merasa bahagia ketika melihat suatu karya seni. Tanpa disadari, ia telah melakukan apresiasi terhadap karya seni tersebut. Apresiasi juga terlihat ketika seseorang mengamati suatu karya seni dan memutuskan bahwa karya seni tersebut memiliki beberapa kelemahan, misalnya bentuknya yang tidak menarik atau tidak merepresentasikan maksud dan pesan seniman yang ada di dalamnya.

Info Seni

Apresiasi atas suatu hal tidak hanya terjadi dalam bidang seni dan budaya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Proses memilih yang dilakukan sebelum membeli baran juga termasuk bentuk apresiasi atas nilai dan bentuk barang yang aka dipilih.

Jika dimaknai lebih lanjut, apresiasi seni dan budaya dapat dimaknai sebagai upaya untuk memahami bentuk-bentuk dan hasil seni budaya secara menyeluruh, termasuk memahami nilai nilai yang ada di dalamnya, seperti nilai estetika. Nilai estetika menjadi nilai yang paling sering muncul dalam apresiasi seni cenderung budaya. Penyebabnya adalah sifat seseorang yang cend peka terhadap sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai estetika. Terlebih bentuk-bentuk dan hasil seni budaya banyak mengandung unsur-unsur estetis yang dapat membawa pengalaman keindahan bagi orang-orang yang memandangnya.

Apabila seseorang mampu menangkap nilai estetis dari suatu karya seni dan budaya, sangat mungkin ia dapat menangkap nilai lain yang terkandung di dalam karya tersebut. Beberapa ahli, seperti Soedarso dan Rollo May, juga mencoba memberikan pandangan mereka mengenai pengertian apresiasi seni budaya. Menurut Soedarso (1990), apresiasi seni budaya bermakna mengerti dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk. 
suatu hasil seni, serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetisnya sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut dengan semestinya. Sementara itu, menurut Rollo May, melakukan apresiasi terhadap suatu bentuk kreasi seni merupakan suatu tindakan kreatif.

Dalam bidang seni budaya, kegiatan apresiasi tidak hanya dilakukan oleh para penikmat seni, tetapi juga seniman yang menciptakan karya seni. Dengan kata lain, apresiasi menjadi semacam jembatan penghubung antara penikmat seni dan seniman. Melalui apresiasi, penikmat seni dapat memperoleh pengalaman keindahan dan menilai suatu karya seni. Penilaian dari penikmat seni akan menjadi masukan bagi seniman untuk mengevaluasi dan mengembangkan karya-karyanya. Karya-karya seniman yang semakin berkembang dan mengalami kemajuan dari masa ke masa juga akan kembali membawa dampak positif bagi penikmat seni, yaitu penikmat seni dapat menikmati lebih banyak karya seni yang berkualitas.

Apresiasi yang ditunjukkan oleh setiap orang berbeda satu sama lainnya. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari perbedaan tingkat ilmu pengetahuan; pemahaman; pengalaman; status sosial; hingga kondisi internal dalam diri seseorang, seperti kondisi fisik, psikis, dan mental. Contohnya, ketika menonton pertunjukan teater, seseorang yang terbiasa menonton pertunjukan teater akan memberikan apresiasi yang berbeda dibandingkan orang yang pertama kali menonton pertunjukan teater tersebut. Orang yang terbiasa tersebut dapat memberikan apresiasi yang tinggi karena telah memahami seluk-beluk teater. Sementara itu, orang yang baru pertama kali menonton pertunjukan teater dapat menunjukkan dua kemungkinan reaksi: merasa kagum atau merasa bosan dan tidak tertarik untuk menonton teater lagi di kemudian hari. Kondisi tersebut menunjukkan perbedaan apresiasi yang disebabkan oleh perbedaan pengalaman yang dimiliki setiap orang.
Kegiatan apresiasi seni juga mendorong munculnya kegiatan yaitu kegiatan meresensi dan kritik seni. Tanpa keberadaan apresiasi, seseorang akan sulit memberikan penilaian yang objektif dan akurat atas suatu karya seni. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kegiatan apresiasi memberikan dampak yang cukup vital dalam kegiatan resensi dan kritik seni.

Thursday, January 7, 2021

Apresiasi Seni Budaya



Kata apresiasi berasal dari bahasa Inggris " to apresiatic " artinya menghargai. Apreciton = penghargaan. Jadi apresiasi adalah penikmatan karya seni dengan adanya pengertian yang baik. Aristoteles menyatakan bahwa penikmatan tidak cukup dengan melalui mutu karya semata-mata, namun juga melalui tinjauan tentang seluk beluk karya seni.

Apresiasi setiap orang terhadap karya seni berbeda-beda, tergantung pada daya kemampuan suatu karya seni. Tingkat apresiasi dapat dibedakan sebagai berikut:

a. peminat seni

yaitu orang yang memiliki perhatian terhadap seni.

b. pelaku seni

yaitu orang yang telah dapat melaksanakan kegiatan seni.

c. pencipta seni

yaitu orang yang telah dapat menciptakan suatu karya seni.

d. kritikus seni,

yaitu orang yang telah dapat menilai serta memberikan tanggapan terhadap karya seni.


2. Menentukan Kriteria Karya Seni

Sikap apresiatif terhadap karya seni rupa dapat dilakukan dengan cara memberikan penilaian terhadap karya seni yang dilihat. Sebuah karya seni rupa dikatakan baik apabila memenuhi beberapa kriteria antara lain:


a. Ide atau gagasan

Karya seni rupa yang baik harus original maksudnya menampilkan suatu gagasan atau ide baru yang belum pernah ada sebelumnya. Gagasan itu biasa dalam bentuk wujud atau aspek lainnya, sehingga tidak bersifat peniruan.

b. Kreativitas

Kreativitas adalah kemampuan seseorang untuk mengolah apa yang sudah ada menjadi sesuatu yang baru dan memiliki nilai seni yang lebih tinggi.

c. Gaya perseorangan

Karya seseorang berbeda dengan karya orang lain. Karena setiap orang memiliki perbedaan interpretasi, pengalaman batin, visi, dan filosofi yang berbeda. Hal ini akan memunculkan gaya perseorangan dalam berkarya.

d. Teknik dan representasi

Teknik representasi disini dimaksudkan bagaimana seseorang mampu memilih dan mengolah bahan secara tepat sehingga tercipta suatu karya yang benar-benar bagus secara keseluruhan.


Prinsip mengapresiasi yaitu sebagai berikut:

a. Mengerti prinsip komposisi

meliputi irama, proposal, keseimbangan, kesatuan, dan pusat perhatian.

b. Mengerti prinsip seni rupa

meliputi titik, garis, bidang, bentuk, warna, tekstur, dan lain-lain.

Proses mengapresiasi, yaitu melihat karya kemudian merasakan, berempati, kemudian muncul pendapat pribadi untuk menyebutkan kelebihan, kekurangan, kemudian menilai. Sebuah apresiasi dapat di pandang berdasarkan pandangan subjektif dan pandangan objektif.

Pandangan subjektif yaitu pandangan yang dipengaruhi oleh perasaan yang sifatnya pribadi dan khusus. Sedangkan pandangan objektif yaitu pandangan yang mempunyai landasan/dasar pemikir yang jelas.

a. Dasar Apresiasi

Norma subjektif, Norma objektif.

b. Unsur-unsur apresiasi

Nilai keindahan, Nilai kebenaran, Nilai kebaikan.

c. Tahap-tahap apresiasi

Proses Analis, Proses Menemukan Data, Proses Menyimpulkan, Proses Menanggapi.


3. Mengapresiasi Karya Seni Rupa Murni

Adapun tahapan dalam mengapresiasi karya seni rupa murni seperti seni lukis, seni patung, dan seni grafis adalah sebagai berikut.

a. Tahap Awal

Tahap awal merupakan tahap ketika seseorang pengamat melihat sebuah karya, baik karya yang dipamerkan maupun melihat karya tertentu secara sekilas. Tahap ini disebut juga dengan tahap perkenalan.

b. Tahap Penghayatan

Dalam tahap penghayatan, seorang apresiator akan berfikir sejenak atau lama bergantung pada pengetahuan yang dimilikinya. Proses penghayatan ini merupakan tahap yang penting dan utama dalam mengapresiasi karya.

c. Tahap Penilaian

Tahapan penilaian merupakan pengambilan keputusan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu tentang bernilai atau berharganya suatu karya seni. Tahapan ini juga dapat dikatakan sebagai tahapan penghargaan dengan menentukan apakah karya yang sedang diapresiasi baik atau indah.

Dalam mengapresiasi sebuah karya seni rupa kamu dapat memahami,menghayati, menilai, dan memberikan keputusan terhadap sebuah karya seni secara bebas. Hal tersebut dapat dilakukan dengan langkah-langkah berikut ini:

  1. Mendeskripsikan (pemaparan) sebuah karya dengan cara menemukan dan mencatat sesuatu yang dilihat apa adanya namun tidak mengambil kesimpulan apapun.
  2. Uraian kebentukan (formal), yaitu tahapan menelusuri sebuah karya berdasarkan strukturnya, baik itu warna, garis, bentuk maupun teksturnya.
  3. Penafsiran makna yang meliputi tema yang digarap dan masalah-masalah yang dikemukakan.
  4. Penilaian, yaitu tahapan untuk menentukan derajat suatu karya seni.

Demikianlah artikel saya kali ini tentang Apresias Karya Seni Rupa Murni Nusantara. Semoga bermanfaat !

Featured Post

Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPKI

  Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPKI Indonesia Menjelang Kemerdekaan Pada awal tahun 1945, keadaan Perang Dunia II mulai berub...