Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts
Showing posts with label Seni Budaya. Show all posts

Tuesday, April 23, 2024

Komposisi Musik dan Progresi Akor

Contoh Siswa Menciptakan Lagu


Komposisi Musik

Menurut Kusumawati (2004: ii), komposisi merupakan proses kreatif musikal yang melibatkan beberapa persyaratan, yaitu bakat, pengalaman, dan nilai rasa.(sumber: repository.unpas.ac.id)

Komposisi adalah gubahan musik instrumental maupun vokal (Syafiq, 2003: 165).(sumber: repository.unpas.ac.id)

Komposisi musik adalah karya orisinil atau karya musik baru dalam bentuk instrumen atau vokal. Atau sebuah proses dalam menciptakan atau menulis karya musik baru (sumber: tambahpinter.com) komponen komposisi musik terdiri dari:

Intro - Verse 1 - Chorus - Verse 2 - Chorus - Bridge - Final Chorus Repeat - Ending

Intro adalah bagian awal dari sebuah lagu, bisa juga dikatakan sebagai pengantar. Intro juga berfungsi untuk memberikan waktu bagi penyanyi dan pendengar untuk mempersiapkan diri sebelum lagu benarbenar dimainkan. Biasanya intro berupa musik instrumental yang nadanya diambil dari verse atau reff lagu. Namun ada juga bentuk intro yang nadanya berbeda dari nada lagu secara keseluruhan.

Intro terbagi menjadi tiga; intro awal, intro tengah, dan Intro akhir. Intro awal terletak di awal lagu, intro tengah biasanya letaknya setelah reff atau chorus, dan intro akhir yang terletak pada bagian ending lagu.

2. Verse

Verse adalah sebuah bagian dalam lagu, sebagai nyanyian di bagian awal sebelum masuk ke bagian bridge atau chorus. Pada umumnya terletak setelah intro. Sebuah lagu yang baik memiliki verse yang harmonik dan melodik. Tidak 'kalah' bagus dengan melodi yang ada di bagian reff atau chorus.

3.Bridge

Bridge merupakan bagian yang terdapat dalam sebuah lagu yang berfungsi 'jembatan' untuk menghubungkan bagian-bagian lainnya. Seperti menjembatani bagian verse dengan chorus, maupun sebaliknya. Selain itu, bridge juga digunakan untuk menjembatani chorus dengan chorus lainnya yang  Nada bridge biasanya dibuat sangat berbeda dengan nada verse, chorus atau reff, namun tetap selaras.

Ada juga sebagian lagu yang tidak menggunakan bridge, biasanya lagu-lagu yang yang hanya menggunakan bagian reff saja sebagai 'puncak'.

4.Chorus dan Reffrain (Reff)

Pada dasarnya chorus dan reff itu berbeda, kesamaan antara keduanya hanyalah sebagai bagian yang berisi pesan utama/inti dari cerita yang disajikan melalui lirik lagu. Berikut penjelasan lebih detail tentang perbedaan antara keduanya.

Chorus adalah bagian interval dalam sebuah lagu, biasanya pada bagian ini mengandung isi utama dalam sebuah lagu. Chorus memiliki nilai excitement yang lebih tinggi daripada verse. Nada yang terdapat pada chorus biasanya juga lebih meningkat daripada nada di bagian verse, bisa dikatakan di situlah nada klimaks dari keseluruhan nada lagu.

Reff adalah bagian yang setingkat lebih sederhana daripada chorus. Reffrain/reff yang bermakna "pengulangan", jadi bagian ini dinyanyikan secara berulang-ulang.

5. Interlude

Merupakan bagian kosong pada lagu seperti layaknya intro, namun posisinya berada di tengah-tengah lagu. Interlude ini berfungsi sebagai bagian yang menyambungkan verse dengan verse selanjutnya atau menyambungkan bagian bridge dengan bagian chorus.

6.Modulasi

Beberapa sumber ada yang menyebutkan bahwa modulasi adalah "overtone" (peralihan nada yang lebih tinggi dari nada sebelumnya dalam sebuah lagu). Biasanya modulasi terjadi setelah chorus, diiringi dengan bridge agar tidak terdengar janggal. Modulasi juga dianggap bisa menciptakan klimaks yang lebih tinggi dalam sebuah lagu.

Contoh lagu yang mengalami modulasi di bagian chorus/reff adalah; "When I See You Smile" (Bad English), "Sing For Absolution" (Muse), "Tak Bisakah" (Peterpan/NOAH),"You Rise Me Up" (Josh Gobren), "Surat Cinta untuk Starla" (Virgoun)

7.Ending, Coda dan Outro

Ending, coda dan outro, ketiga elemen ini terdapat di akhir lagu. Namun setiap elemen tersebut mempunyai peran dan fungsi yang berbeda-beda. Berikut penjelasan yang lebih detail tentang ketiga elemen tersebut.

Ending adalah bagian penutup dalam sebuah lagu. Ending berfungsi mengakhiri sebuah lagu secara perlahan, mulus dan lancar, sehingga tidak terkesan 'putus' secara tiba-tiba. Ending juga bisa berupa bagian intro yang diulang kembali, bisa juga berupa bagian akhir chorus atau reff yang diulang-ulang, kemudian berakhir fade-out (audio-nya mengecil dengan perlahan dan menghilang). Hal ini sering kita temui di lagu-lagu lawas. Contohnya lagu "Kupu-Kupu Kertas" (Ebiet G. Ade), "Shine" (Mr. Big), "Bintang Kehidupan" (Nike Ardilla).

Coda merupakan bagian akhir dari sebuah lagu yang biasanya berisi nada dan lirik sebagai penutup lagu. Umumnya coda menggunakan beberapa lirik atau nada yang sudah ada sebelumnya pada lagu, dan ending-nya tidak berakhir fade-out. Coda bisa dikatakan juga sebagai "ekor lagu". Contoh lagu yang menggunakan coda adalah; "Yellow" (Coldplay), Rapuh (Opick), "Akhirnya Ku Menemukanmu" (NAFF), "Tunggu Aku" (Andra and The Backbone), "Where Ever You Will Go" (The Calling), "Photograph" (Ed Sheeran).

Sumber (https://steemit.com/indonesia/@rial17

Progresi Chord/ Akor

Progresi akor atau Chord Progression adalah proses perubahan nada secara horizontal dan vertikal. Yang dimaksud dengan horizontal adalah hubungan antar nada yang terjadi ketika perubahan itu berlangsung. Misalnya dari not C ke not D (hubungan horizontal yaitu not C dan D yang dibunyikan secara bergantian). Yang dimaksud dengan perubahan nada secara vertikal adalah hubungan antar nada secara mendatar. Misalnya dalam akor C Mayor terdapat not C-E-G (hubungan vertikal yaitu ketika not C, E dan G dibunyikan secara bersamaan).

Untuk mengetahui bagaimana progresi akor, kita harus mengetahui terlebih dahulu bagaimana pembentukkannya.

Pembentukkan akor yang paling lazim adalah bentuk tertian (tertian order). Misalnya dari tangga nada mayor 1-2-3-4-5-6-7, maka yang dimaksud dengan bentuk tertian adalah 1-3-5 atau 2-4-6.

Dalam akor-akor yang terbentuk dari tangga nada mayor tadi terdapat AKOR TINGKAT. Akor tingkat merupakan akor bentuk tertian yang terbentuk berdasarkan tingkatannya.

Berarti jika tangga nada mayor : 1-2-3-4-5-6-7,

Akor tingkat I adalah 1-3-5

Akor tingkat II adalah 2-4-6

Akor tingkat III adalah 3-5-7

Akor tingkat IV adalah 4-6-1

Akor tingkat V adalah 5-7-2

Akor tingkat VI adalah 6-1-3

Akor tingkat VII adalah 7-2-4

Keterangan : Perhatikan angka yang di-bold. Hal ini menunjukkan bahwa akor tingkat tersebut dibentuk sesuai dengan tingkatannya.



Setelah mengetahui akor tingkat tersebut, barulah kita dapat mengetahui progresi akor atau chord progression.

Berbagai progresi akor yang lazim adalah sebagai berikut :

I – IV

V – I

II – V – I

I –VI –II – V

I – III – IV – V

dll

Tuesday, August 23, 2022

Pengalaman Mengamati Karya Seni Rupa

1. Pokok-pokok Materi

a. Pengalaman Mengamati Karya Seni Rupa

Semua orang tentu memiliki pengalaman dalam mengamati karya seni dalam kehidupannya. Berdasarkan pengalaman tersebut, setiap orang mendapatkan pembelajaran dari karya yang diamatinya.

Pada sesi ini anda akan diajak untuk menceritakan pengalaman masing- masing dalam bentuk diskusi tentang pengamatan karya yang pernah dirasa memberikan dampak bagi diri sendiri maupun lingkungannya.


b. Mendeskripsikan dan Menganalisis Karya Seni Rupa

Guru memberikan materi kepada siswa terkait cara mendeskripsikan dan menganalisis karya seni. Untuk itu, siswa diperkenalkan dengan metode kritik seni dalam mendeskripsikan karya yang diapresiasi.


1. Mendeskripsikan karya seni rupa

Hal-hal yang perlu diperhatikan saat mendeskripsikan karya seni adalah:

Medium yang digunakan (teknik dan bahan)

contoh: Jika siswa melihat sebuah lukisan kanvas yang menggunakan cat minyak, maka teknik yang digunakan adalah melukis dan bahannya adalah cat minyak dan kanvas.

Unsur karya (obyek yang terlihat, warna-warna yang nampak, bentuk yang terlihat).

Gambar 2.1. Unsur - unsur dalam karya seni

karya koleksi www.ganara.art (2020)


Menganalisis karya seni rupa

Ada beberapa metode kritik yang dapat digunakan dalam mengapresiasi karya seni seperti yang dikemukakan Chapman (1978), yaitu: metode induktif, metode deduktif, metode empatik, dan metode interaktif.

Selain itu, siswa juga dapat menggunakan jenis kritik seni rupa menurut Feldman (1967: 452-456) yang terdiri dari: Kritik Jurnalistik  ( Jurnalistic Criticism), Kritik Pedagogik (Pedagogical Criticsm), Kritik Akademik (Scholary Criticism), Kritik Populer (Popular Criticism).

Kegiatan mengapresiasi seni melalui kritik pedagogik biasanya dapat diterapkan dalam kegiatan belajar mengajar di lembaga pendidikan tinggi pendidikan kesenian. Namun demikian, model ini juga bisa dikembangkan oleh guru dengan tujuan untuk mengembangkan

bakat dan potensi artistik-estetik siswa sehingga mereka mampu mengembangkan apresiasi dan pemahamannya terhadap karya yang dibahas. Hal ini ditegaskan Wachowiak dan Clements (1993: 148) bahwa: ”The purpose of art criticism in the schools is to develop appreciation and understanding….”. Selanjutnya, urutan pelaksanaan pembelajaran kritik untuk apresiasi seni yang disarankan Wachowiak dan Clements (1993: 149) terdiri dari enam tahapan, yaitu:

Penyajian kritik dalam teori kritik seni menurut para ahli dikenal beberapa tahap kegiatan. Feldman (1967: 469), mengungkapkan tahapan kritik terdiri dari: Deskripsi (Description), Analisis Formal (Formal

Analysis), interpretasi (Interpretation), dan evaluasi atau penilaian (Evaluation or Judgement). Sementara itu Barrett (1994: 16) menyoroti hal tersebut dengan istilah fungsi kritik seni sebagai “the description, interpretation, and evaluation of new art”.

Selain itu siswa juga dapat menggunakan metode mengapresiasi suatu karya seni sebagaimana dikemukakan Brent G. Wilson dalam bukunya yang berjudul Evaluation of Learning in Art Education, bahwa apresiasi memiliki 3 konteks utama:

  • Apresiasi Empatik: menilai atau menghargai suatu karya seni yang dapat ditangkap sebatas indrawi saja.
  • Apresiasi Estetis: menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan pengamatan dan penghayatan yang mendalam.
  • Apresiasi Kritik: menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan klasifikasi, deskripsi, analisis tafsiran, dan evaluasi.

Proses pembelajaran apresiasi seni, dapat dilakukan melalui metode dan pendekatan seperti dikemukakan oleh (Sahman, 1993: 153; Soedarso, 1990: 83-84) yaitu sebagai berikut:

  1. Pendekatan aplikatif: Pendekatan ini dilakukan melalui proses penciptaan seni secara langsung. Hal ini sejalan dengan ajaran Dewey “learning by doing”.
  2. Pendekatan Historis: Ditempuh melalui pengenalan sejarah seni. Penciptaan demi penciptaan, peristiwa demi peristiwa yang masing- masing memiliki problema sendiri, dibicarakan dan dibahas secara urut.
  3. Pendekatan problematik: Menyoroti masalah serta liku-liku seni sebagai sarana untuk dapat menikmatinya secara semestinya, kemudian deretan problem-problem senilah yang harus dibahas satu persatu.

Menurut Sobandi (2007), ada beberapa model pembelajaran apresiasi, di antaranya:

a. Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Karya Reproduksi (ASmKR)

b. Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Media Film (ASmMF)

c. Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Pameran Sekolah (ASmPS)

d. Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Kunjungan ke Museum (ASmKM)

e. Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Presentasi Pengalaman Berkarya (ASmPPB)

f. Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Artist Talk Seniman (AmATS)

g. Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Telaah Karya (ASmTK)

h. Model Pembelajaran Apresiasi melalui Kritik Wachowiak dan Clements

i. Model Pembelajaran Apresiasi Seni melalui Praktek Studio-Kritik Seni (ASmPSKS)

Berdasarkan beberapa metode dan langkah di atas, sebenarnya bentuk pembelajaran apresiasi terdiri dari dua jenis kegiatan, yaitu:

  1. Apresiasi Pasif: Kegiatan menonton dan menikmati tanpa memberi umpan balik untuk wacana seni rupa
  2. Apresiasi Aktif: dapat dilakukan melalui beberapa alternatif kegiatan sebagai berikut:

    • Kegiatan diskusi terarah
    • Pengembangan wacana (penelitian, ulasan, kritik)
    • Kegiatan koleksi untuk publik –koleksi yang dilakukan oleh museum atau institusi publik, dan menampilkan koleksi untuk publik luas.
    • Kegiatan koleksi untuk privat – koleksi yang dilakukan untuk disimpan dan dinikmati secara pribadi atau kelompok tertentu
    • Hasil-hasil dari kegiatan apresiasi aktif bisa digunakan untuk penelitian dan acuan untuk pengembangan ekosistem seni rupa.

c. Tempat Mengapresiasi Karya Seni Rupa :

1. Galeri

Galeri adalah ruang untuk menampilkan karya seni dalam bentuk

pameran, biasanya galeri dikelola secara komersial yang bertujuan untuk menjual karya seni.

2. Museum

Ruang untuk menyimpan, merawat, merestorasi benda-benda bersejarah dan berfungsi sebagai tempat publik untuk mengakses karya seni secara edukatif.

  • Museum Publik: Museum yang dikelola oleh pemerintah dan terbuka untuk public.
  • Museum Privat: Museum yang dimiliki oleh individu tertentu atau sebuah perusahaan swasta.

3. Ruang Publik

Tempat-tempat umum seperti jalanan, taman, dan gedung-gedung yang digunakan oleh masyarakat luas. Misalnya: patung-patung di taman, mural, graff iti, dsb.

4. Ruang Alternatif

Ruang yang digunakan oleh komunitas seni rupa untuk berkumpul, berbagai pengetahuan dan memamerkan karya seni.

5. Ruang Virtual

Disajikan dalam bentuk virtual di platform tertentu, misalnya: Website, Instagram, dsb.

d. Cara Mengapresiasi Karya Seni Rupa

Berbagai cara dapat dilakukan dalam mengapresiasi karya seni rupa di pameran, contoh:

1. Berbicara langsung dengan seniman/kurator/pemandu pameran.

2. Mengikuti tur galeri dan mendengarkan penjelasan atau membaca penjelasan dari setiap karya seni yang dipamerkan.

3. Tidak menyentuh karya kecuali diperkenankan.

4. Mematuhi peraturan yang diberlakukan di ruang pameran. Di setiap ruang pameran, tentu saja memiliki peraturan yang berbeda-beda. Sebagai contoh peraturan atau tata tertib yang diberlakukan di  Galeri Nasional Indonesia:


Gambar 2.2. Tata Tertib Galeri Seni

karya koleksi www.ganara.art (2020)


Dilarang merokok

Dilarang menyentuh karya

Dilarang memakai jaket

Dilarang membawa tas

Dilarang memakai topi dan kacamata hitam

Dilarang membawa hewan

Dilarang menggunakan flash kamera

Dilarang membawa makanan/minuman

Dilarang menggunakan flash kamera handphone

Dilarang menggunakan tongsis/self ie stick

Dilarang membuang sampah

Dilarang berisik


1. Membagikan wawasan dan apresiasi dalam berbagai bentuk (contoh: media sosial)

2. Contoh dampak karya seni bagi diri sendiri dan lingkungannya, contoh:

  • Memiliki muatan emosional/spiritual
  • Memberikan nilai keindahan dan kepuasan tersendiri
  • Memberikan dampak psikologis (contoh: salah satu bentuk terapi) dan kesenangan hati
  • Meningkatkan dan mengasah kreativitas dan daya imajinasi
  • Melepas penat dan coping stress


Pemaparan contoh karya seni yang berdampak untuk diri sendiri dan lingkungan.


Gambar 2.3. Pemaparan contoh karya seni yang berdampak untuk diri sendiri dan lingkungan

Sumber: Indoartnow/Pameran Titik Temu (2018)

Tuesday, August 2, 2022

Ragam Seni Rupa Berdasarkan Dimensi, Fungsi, dan Masa



Lukisan merupakan salah satu contoh karya seni rupa dua dimensi 

Seni rupa adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang bisa ditangkap mata dan dirasakan dengan rabaan. 

Kesan ini diciptakan dengan mengolah unsur-unsur penting seni rupa yakni 

titik, garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan (Gelap Terang) dengan acuan estetika. 

Karya seni rupa dibedakan berdasarkan dimensi atau bentuk, fungsi serta masanya. 

Mari kita bahas satu per satu ya.


Seni Rupa Berdasar Dimensi

Karya seni rupa berdasar dimensi dibagi dua yaitu, karya seni rupa dua dimensi (dwimatra) dan seni rupa tiga dimensi (trimatra).


Seni Rupa Dua Dimensi

Karya seni rupa yang memiliki ukuran panjang dan lebar disebut karya seni rupa dua dimensi. Seni rupa dua dimensi hanya dapat dilihat dari satu arah yaitu dari arah depan saja.

Tujuan penciptaan karya seni dua dimensi kebanyakan dibuat untuk memenuhi kebutuhan keindahan (estetika) dan fungsional.

Bahan dan alat karya seni rupa dua dimensi yang seringkali digunakan adalah 

  1. Kanvas
  2. Kertas
  3. Plastic
  4. Pensil
  5. Pensil warna
  6. Crayon
  7. spidol berwarna
  8. tinta cina
  9. cat air
  10. cat plakat
  11. cat minyak
  12. solvent (cairan pelarut)
  13. dan bahan sejenisnya.


Contoh hasil karya seni rupa dua dimensi yaitu karikatur, foto, berbagai jenis lukisan, kaligrafi, kaca patri, seni poster (desain grafis), reklame, dan lain-lain.


Seni Rupa Tiga Dimensi

Definisi seni rupa tiga dimensi adalah seni rupa yang memiliki panjang, lebar, dan tinggi, beserta volume/ruang. Karya tiga dimensi dapat di lihat dari segala sudut pandang.

Contoh karya seni rupa tiga dimensi yaitu, furniture, patung, guci, tas, dan lain-lain.


Seni Rupa Berdasarkan Fungsi

Seperti halnya karya seni rupa dua dimensi dan tiga dimensi, berdasarkan fungsinya karya seni rupa dibedakan menjadi karya yang hanya memiliki fungsi ekspresi dan fungsi pakai.

Dikutip dari modul Seni Budaya Kelas X oleh Zackaria Soetedja, dkk, perbedaan fungsi yang dimaksud pada dasarnya ditentukan oleh tujuan pembuatannya. Berdasarkan fungsinya, seni rupa terbagi menjadi seni rupa murni dan seni rupa terapan.


Seni rupa murni (pure art)

Seni murni adalah seni yang karyanya lebih mengutamakan elemen estetisnya sebagai kepuasan pandangan mata, dari pada fungsinya. Karya seni rupa murni biasanya digunakan sebagai pajangan untuk memperindah ruangan ataupun tempat-tempat tertentu.


Seni rupa terapan (applied art)

Berbeda dengan seni rupa murni, hasil seni rupa terapan dibuat untuk memenuhi fungsi praktis dengan meningkatkan kenyamanan penggunaannya, yang membantu kehidupan manusia. Walaupun lebih mengutamakan kegunaannya, namun seni terapan juga tetap memiliki nilai estetikanya tersendiri.


Seni Rupa Berdasarkan Masanya

Seni Rupa Tradisional, adalah seni rupa yang dibuat dengan pola, aturan, atau pakem tertentu sebagai pedoman dalam berkarya seni dan dibuat berulang-ulang tanpa mengubah bentuk aslinya. Aturan-aturan umum terkait dengan penciptaan bentuk, pola, corak, penggunaan warna, bahan dan ukuran, Aspek-aspek berkarya seni seni rupa tradisional misalnya masih dipertahankan secara turun-temurun, dari generasi ke generasi sampai sekarang.

Seni Rupa Modern, adalah karya seni yang ditandai dengan munculnya kreativitas untuk menciptakan hal yang baru yang belum pernah ada sebelumnya. Unsur kebaruan menjadi sangat penting dan harus ada untuk memberikan karya seni rupa modern yang mengutamakan aspek kreativitas dalam berkarya sehingga tercipta suatu karya yang baru. Seni rupa modern bersifat lebih individualis. Contoh seni rupa modern berupa lukisan, grafis, patung dan kriya.



Seni Rupa Kontemporer, adalah karya seni yang munculnya dipengaruhi oleh waktu dimana karya seni tersebut diciptakan. Seni rupa kontemporer bersifat kekinian dan temporer diangkat dari seni rupa kontemporer mengenai situasi dan kondisi saat karya tersebut diciptakan. Biasanya sebagai sarana untuk ekspresi pribadi seniman dan mengungkapkan daya fantasi, imajinasi, maupun dengan cita-cita harapan yang dikaitkan mengenai situasi dan kondisi kapan karya tersebut diciptakan.




Tuesday, January 25, 2022

TAHAPAN APRESIASI SENI BUDAYA

Tahapan Apresiasi Seni Budaya

Menurut Edmund Feldman, Kegiatan apresiasi seni rupa dapat dilaksanakan melalui empat tahapan, yakni deskrips analisis, interpretasi, dan penilaian

1. Deskripsi

Tahap pertama dalam mengapresiasi seni budaya adalah tahap deskripsi Tahap deskripsi dilakukan dengan mengidentifikasi suatu bentuk karya seni atau budaya melalu hasil cerapan atau tangkapan panca indra. identifikasi suatu karya meliputi identifikasi jenis karya apakah termasuk je seni rupa, seni musik, seni tart, atau seni pertunjukan fisik dan karya, judul karya, nama seniman, waktu pencipta serta keterangan tentang alat, bahan, ataupun teknik pence yang digunakan. Tahapan deskripsi bersifat obyekt dalam artian hanya melaporkan hal-hal yang ditangkap pancainda, tanpa dianalisis dan ditafsirkan secara lebih jauh informasi yang diperoleh dalam tahapan deskripsi akan digunakan sebaga petunjuk awal dalam melakukan penilaian


Tari Ramayana

Contoh dan tahapan deskripsi adalah deskripsi yang dilakukan pada pagelaran sendra tari Ramayana yang dilangsungkan di pelataran Candi Prambanan Ketika menonton pagelaran tersebut seseorang dapat membuat deskripsi pagelaran seperti lokasi dan waktu berlangsungnya pagelaran, jumlah pemeranan yang terlibat dalam pagelaran tersebut, bentuk kostum dan tata rias yang digunakan para penari, alur cerita dan dialog yang dibawakan hingga tata panggung tata cahaya dan tata musik pengiring digunakan dalam pertunjukan tersebut

2. Analisis

Tahapan analisis dilakukan dengan mengaitkan unsur unsur pembentuk yang terlihat dalam suatu karya. Unsur-unsur tersebut dapat berupa bentuk objek, ukuran objek, wama objek, hingga tekstur objek, Dapat dikatakan bahwa tahapan in berfokus pada hubungan antar unsur

Pada tahap analisis, seseorang akan melihat lebih jauh mengenal bentuk fisk suatu karya, seperti komposisi dan keseimbangan dari unsur-unsur yang ada di dalamnya. 


Lukisan Potret Ratu Sirikit, Karya Basoeki Abdullah

Contohnya, dalam lukisan potret Ratu Sirikit karya Basoeki Abdullah, objek lukisan, yakni potret Ratu Sirikit, diletakkan tepat di tengah kanvas. Objek dilukis dengan komposisi yang pas, dalam artian tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Pada lukisan tersebut, nuansa warna biru dan putih sangat dominan, dengan tambahan warna hitam, merah, krem, dan cokelat muda untuk memperjelas detail warna rambut, bibir, kulit wajah, leher, dan telinga, serta warna dalam topi. Peletakan objek tepat di tengah kanvas umumnya digunakan untuk menarik perhatian orang yang melihatnya agar langsung fokus pada objek tersebut. Sementara itu, penggunaan warna-warna yang dominan berpadu dengan warna-warna pendukungnya dalam menciptakan bentuk visual yang indah. 

3. Interpretasi

Tahap interpretasi atau tahap penafsiran merupakan tahap penangkapan makna yang terkandung dalam suatu karya seni. Tahap interpretasi merupakan tahap lanjutan yang menggabungkan semua informasi yang diperoleh melalui tahap deskripsi dan analisis untuk menghasilkan suatu simpulan makna. Menurut Feldman, tahapan ini merupakan tahapan paling sulit, sekaligus paling kreatif dan bermanfaat dalam tahapan apresiasi. Melalui tahapan ini, seorang penikmat seni dapat menebak makna berupa pesan yang hendak disampaikan oleh seniman dalam karyanya. Apabila penikmat seni tersebut berhasil memahami makna yang terkandung dalam suatu karya, tanpa disadari terjalin komunikasi antara seniman dan penikmat seni tersebut.

4. Penilaian

Tahap penilaian merupakan tahap akhir dalam tahapan apresiasi. Tahap ini terdiri atas dua hal, yakni evaluasi dan kesimpulan. Melalui tahap ini, seseorang akan memberikan penilaian terhadap suatu karya seni setelah memahami aspek aspek pembangun karya seni tersebut. Namun, hasil penilaian. sering kali terpengaruh oleh hal-hal subjektif, misalnya harga untuk menikmati karya seni tersebut ataupun pendapat pribadi. Contohnya, meskipun suatu karya seni memiliki nilai yang bagus secara bentuk dan makna, penilaian tersebut dapat berkurang apabila karya seni tersebut memiliki harga yang teramat mahal atau jika orang yang menilainya memiliki masalah pribadi

Tuesday, January 11, 2022

ALIRAN SENI LUKIS

ALIRAN SENI LUKIS

1. Lukisan Naturalisme
Lukisan naturalisme di dalam seni rupa merupakan usaha untuk menampilkan objek realistis dengan penekanan pada suasana alam. Hal ini merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan Realisme pada abad 19 sebagai reaksi atas kemapanan Romantisme dan aliran ini mirip dengan fotografi.

Contoh Lukisan Naturalisme dan Pelukisnya
1. The Hay Wain (1821) – John Constable


2. Sunrise in the Catskill Mountains (1826) – Thomas Cole


3. Perburuan Banteng (1855) – Raden Saleh




John Amos Comenius diyakini sebagai orang pertama yang mengenalkan aliran naturalisme, khususnya dalam dunia pendidikan.

Di Perancis, aliran naturalisme sudah ada sejak tahun 1850-an dan menjadi salah satu reaksi kemapanan oleh para pengikut aliran romantisisme.

Aliran naturalisme berkembang pesat karena didukung oleh tokoh-tokoh naturalisme serta adanya kemajuan teknologi visual dan pengukuran.

Ciri-Ciri Aliran Naturalisme
Dari ciri-cirinya, aliran naturalisme ini bisa dibilang mirip dengan realisme sehingga cukup sulit dalam membedakannya.

Meski demikian, berikut ini beberapa ciri-ciri aliran naturalisme yang bisa dijadikan sebagai pegangan:

Menonjolkan kemiripan lukisan dengan objek aslinya yang dijadikan referensi
Keterampilan dan teknik seniman menjadi hal utama
Mengusung tema lukisan yang indah dengan kemurnian sebagai nilai utamanya
Bentuk apresiasi para seniman terhadap keindahan alam di sekitarnya
Melukis tentang keindahan, kecantikan, dan ketampanan potret manusia dengan apa adanya tanpa dilebih-lebihkan


2. Lukisan Realisme
Lukisasn realisme,di dalam Seni Rupa adalah usaha untuk menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa untuk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.Perupa realis selalu berusaha menampilkan kehidupan sehari-hari dari karakter, suasana, dilema, dan objek, untuk mencapai tujuan Verisimilitude (sangat hidup).


Ciri – ciri aliran ini yaitu :

• Kebanyakan menampilkan tentang kehidupan sehari – hari.

• Lukisan apa adanya.

• Lukisan juga terlihat menyatu antara objek satu dengan objek lainnya.

Tokoh – tokohnya :

• Gustove Corbert  • Fransisco de Goya • Honore Umier


3. Lukisan Romantisme
Lukisan romantisme adalah aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran romantisme ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Seperti tentang perjuangan, tragedi, cinta kasih. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan. Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonia.


4. Lukisan Surrealisme
Lukisan surrealisme kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.melukiskan suasana yang mencekam lengang menakutkan serta hal-hal yang fantastis.


Ciri – ciri :

• Lukisan aneh dan asing.

• Penuh dengan fantasi dan khayalan.

Tokoh – tokohnya :

• Joan Miro • Salvador Dali  • Andre Masson • Sudiardjo • Amang Rahman



5. Lukisan Impresiolisme
Lukisan impresionisme ini berusaha menampilkan kesan yang di tangkap dari objek .berdasarkan kesan cahaya. Yang menjadi masalah dalam hal teknik adalah Sebagian kaum impresionis sangat mementingkan warna yang di timbulkan oleh bias cahaya,hasilnya berupa gambar yang tampak melebur cerah.


Ciri – ciri :

• Goresan kuas pendek dan tebal dengan gaya mirip sketsa, untuk memberikan kemudahan pelukis menangkap esensi subjek daripada detailnya.

• Warna didapat dengan sesedikit mungkin pencampuran pigmen cat yang digunakan. Diharapkan warna tercampur secara optis oleh retina.

• Bayangan dibuat dengan mencampurkan warna komplementer (Hitam tidak digunakan sebagai bayangan).

• Cat tidak ditunggu kering untuk ditimpa dengan warna berikutnya.

• Pengolahan sifat transparansi cat dihindari.

• Meneliti sedetail mungkin sifat pantulan cahaya dari suatu objek untuk kemudian diterapkan di dalam lukisan.

• Dikerjakan di luar ruangan (en plein air)

Tokoh – Tokoh :

• Claude Monet  • Aguste Renoir • Casmile Pissaro • Sisley • Edward Degas • Mary Cassa


6. Lukisan Ekspresiesme
Lukisan ekspresiesme ini berusaha menampilkan emosional atau sensasi dari dalam di hubungkan dengan tragedi atau apa yang terjadi. kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional.Melukis berdasarkan luapan emosi dengan wujud coretan,garis atau sapuan warna secara spontan.


Ciri – ciri :

• Lebih banyak mengungkapkan jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia seseorang

• Ungkapan isi hati seseorang.

• Imajinasi seseorang

• Pemilihan Warna diutamakan

• Ekspresionisme menjaga jiwa dan menemukan ‘Sturm und Drang’ dan pancarannya keluar merupakan media yang baik untuk melukiskan emosinya kepada orang lain.

Tokoh – Tokoh :

• Vincent Van Gogh • Paul Gaugiuin • Ernast Ludwig • Affandi

• Zaini  • Popo Iskandar

7. Lukisan Kubisme
Lukisan kubisme adalah aliran lukisan yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.


Ciri – ciri :

• Memiliki bentuk geometris

• Memiliki perpaduan warna yang sangat perspektif.

Tokoh – Tokoh :

• Gezanne • Pablo Picasso • Metzinger • Braque • Albert Glazes • Fernand Leger • Robert Delaunay

8. Lukisan Dadaisme
Lukisan dadaisme ini memiliki ciri khas seperti seni yang tidak mau ilusi atau ketiadaan ilusi. Yang kemudian diungkapkan dalam bentuk main-main, secara sederhana dan kekanak-kanakan.




9. Lukisan Futurisme
Lukisan futurisme menggambarkan objek lukisan yang terlihat seperti bergerak .Suatu objek digambarkan beberapa kali secara sama,secara perspektif.



10. Lukisan Abstrak
Lukisan abstrak adalah salah satu jenis kesenian kontemporer yang tidak menggambarkan obyek dalam dunia asli, tetapi menggunakan warna dan bentuk dalam cara non-representasional. Unsur yang dianggap mampu memberikan sensasi keberadaan objek diperkuat untuk menggantikan unsur bentuk yang dikurangi porsinya.Hasilnya berupa komposisi garis,bidang,warna dan unsur-unsur lainya.

11. Lukisan Klasikisme/Lukisan Dekoratif
Lukisan klasikisme ini berkembang pada abad 19 di Perancis. Ciri-ciri seni klasikisme antara lain  dibuat-buat dan berlebihan, indah dan molek,dekoratif. Aliran klasikisme mengacu pada kebudayaan Yunani Klasik dan Romawi Klasik.

12. Lukisan Pointilisme
Lukisan pointilisme adalah gaya melukis dengan menggunakan sentuhan titik hingga membentuk sebuah objek gambar dan jika dilihat dari jarak tertentu bias memperlihtakan lukisan yang bersifat realistik,ekspresik dan artistik.


13. Lukisan Kontemporer
Lukisan kontemporer adalah salah satu cabang seni yang terpengaruh dampak modernisasi. Kontemporer itu artinya kekinian, modern atau lebih tepatnya adalah sesuatu yang sama dengan kondisi waktu yang sama atau saat ini; jadi seni kontemporer adalah seni yang tidak terikat oleh aturan-aturan zaman dulu dan berkembang sesuai zaman sekarang. Lukisan kontemporer adalah karya yang secara tematik merefleksikan situasi waktu yang sedang dilalui. Mengutamakan kebebasan berekspresi,dinamis dan tidak terikat aturan.teknologi masa kini dipadukan dengan seni merupakan ciri khas aliran kontemporer.
SUMBER: http://choirunsholeh.com/lukisan-dengan-beragamnya-jenis-aliran-seni-lukis/

TANGGA NADA DIATONIS DAN PENTATONIS

TANGGA NADA DIATONIS DAN PENTATONIS

Penulis : Ucke Rakhmat Gadzali, S.Pd.


Tangga nada bisa diartikan sebagai susunan nada yang berurutan.

Selain itu, tangga nada juga bisa diartikan sebagai susunan nada yang berjenjang dari sebuah sistem nada. 

Tangga nada dibedakan menjadi dua, yaitu tangga nada diatonis dan tangga nada pentatonis.

Penjelasan tangga nada diatonis dan tangga nada pentatonis beserta contoh lagunya, pada saat saya contohkan pada lagu daerah/

Mulai dari tangga nada diatonis mayor, tangga nada diatonis minor, tangga nada pentatonis pelog, hingga tangga nada pentatonis slendro. 

Tangga Nada Diatonis

Tangga nada diatonis adalah tangga nada dengan jarak dua tangga nada. Jarak tangga nada diatonis adalah satu dan setengah, memiliki 7 nada pokok.

Pada sistem tangga nada diatonis, satu rangkaian nada memiliki tujuh nada pokok, dengan nada kedelapan adalah pengulangan nada pertama.

Urutan nada do, re, mi, fa, sol, la, si, do, adalah contoh tangga nada diatonis.


Diatonis Minor dan Diatonis Mayor

Tangga nada diatonis dibagi lagi menjadi dua kelompok, yaitu tangga nada mayor dan tangga nada minor.

Interval atau jarak dari tangga nada minor berbeda dengan tangga nada mayor dengan ciri-ciri musik yang juga berbeda.

Pada tangga nada mayor, intervalnya adalah 1, 1, 1/2, 1, 1, 1, 1/2. 



Sedangkan pada tangga nada minor, memiliki tangga nada interval 1, 1/2, 1, 1, 1/2, 1, 1.


Ciri tangga nada mayor adalah musiknya yang bersifat gembira, bersemangat, dan biasanya diawali dengan nada do.

Berbeda dengan tangga nada mayor, tangga nada minor memiliki ciri bersifat sedih, kurang bersemangat, dan tangga nada biasanya diawali dan diakhiri dengan nada la.

Alat musik yang menggunakan tangga nada diatonis adalah piano.

Contoh Lagu Daerah dengan Tangga Nada Diatonis Mayor

Tangga nada diatonis mayor banyak ditemukan di lagu anak-anak. Namun, ada juga lagu daerah yang menggunakan tangga nada diatonis mayor, yaitu:

1. Anak Kambing Saya (Nusa Tenggara Timur)

2. Yamko Rambe Yamko (Papua)

3. Kampuang Nan Jaoh di Mato (Sumatera Barat)

4. Ampar-Ampar Pisang (Kalimantan Selatan)

5. Burung Kakak Tua (Maluku)


Contoh Lagu Daerah dengan Tangga Nada Diatonis Minor

Contoh lagu daerah dengan tangga nada diatonis minor, yaitu: 

1. Es Lilin (Sunda)

2. Piso Surit (Sumatera Utara)

3. Cikat Cikat Tiga Lingga (Sumatera Utara)

4. Kole-Kole (Maluku)

5. Ole Sioh (Maluku)


Tangga Nada Pentatonis

Pada tangga nada pentatonis, hanya menggunakan lima nada pokok.

Tangga nada yang ada pada tangga nada pentatonis dibedakan oleh jarak antarnada, juga pilihan nada yang didengar.

Nah, tangga nada pentatonis dibedakan menjadi dua jenis berdasarkan nadanya, yaitu tangga nada pelog dan tangga nada slendro.

Dua jenis tangga nada pentatonis ini memiliki masing-masing lima tangga nada yang berbeda.

Tangga nada pentatonis pelog memakai nada do, mi, fa, sol, si.

Sedangkan tangga nada pentatonis slendro menggunakan tangga nada do, re, mi, so, la.

Keduanya biasa digunakan dalam alat musik tradisional, seperti gamelan jawa.

Musik atau lagu yang menggunakan tangga nada pentatonis bisa kita temukan dalam lagu-lagu tradisional. 

Mari kita lihat contoh lagu yang menggunakan tangga nada pentatonis pelog dan pentatonis slendro!


Contoh Lagu Daerah dengan Tangga Nada Pentatonis Pelog

Karakteristik tangga nada ini adalah tenang dan bersifat hormat. Contoh lagu daerah dengan tangga nada pentatonis pelog, yaitu:

1. Gundul-Gundul Pacul (Jawa Tengah)

2. Pitik Tukung (Jawa Tengah)

3. Ngusak Asing (Bali)

4. Macepet Cepetan (Bali)

5. Karatangan Pahlawan (Jawa Barat)


Contoh Lagu Daerah dengan Tangga Nada Pentatonis Slendro

Karakteristik tangga nada ini adalah gembira, lincah, dan menyenangkan. Contoh lagu daerah dengan tangga nada pentatonis slendro, yaitu: 

1. Lir Ilir (Jawa Tengah)

2. Cublak-Cublak Suweng (Jawa Tengah)

3. Te Kate Dipanah (Jawa Tengah)

4. Kerraban Sape (Jawa Tengah)

5. Cing Cangkeling (Jawa Barat)


MEMAHAMI KONSEP KEINDAHAN

KONSEP KEINDAHAN

BAB III
KONSEP KEINDAHAN

A.    PENGERTIAN KEINDAHAN
Kata keindahan berasal dari kata indah, artinya bagus, permai, cantik, elok, molek, dan sebagainya. Benda yang mempunyai sifat indah ialah segala hasil seni, pemandangan alam, manusia, rumah, tatanan, perabot rumah tangga, suara, warna, dan sebaginya. Mengenai batasan keindahan pada umumnya dapat digolongkan pada 2 kelompok, yaitu:

1.      Definisi-definisi yang bertumpu pada obyek (keindahan yang obyektif )
keindahan obyektif ialah keindahan yang memang ada pada obyeknya yang dapat dilihat, diraba, dan dirasakan dan benar-benar nyata keberadaannya, yang diharuskan menerima sebagaimana mestinya.

2.      Definisi-definisi yang bertumpu pada subyek (keindahan yang subyektif).
keindahan subyektif, adalah keindahan yang biasanya ditinjau dan segi subyek yang tidak dapat dilihat, tidak dapat diraba, namun dapat dirasakan dengan cara menghayatinya dalam hati, contoh dari keindahan ini adalah sikap yang ditimbulkan oleh seseorang. Dalam hal ini keindahan adalah segala sesuatu yang dapat menimbulkan rasa senang, suka, dan menambah penilaian yang tinggi terhadap sesuatu yang dilihat dan dirasa pada diri si penghayat tanpa diiringi keinginan-keinginan terhadap segala sesuatu yang praktis untuk kebutuhan-kebutuhan pribadi.

Menurut Hebert Read Jadi keindahan itu adalah sesuatu kesatuan hubungan-hubungan yang formal daripada pengamatan yang dapat menimbulkan rasa senang (Beauty is unity of format relation among our sence perceptions). Atau keindahan itu merangsang timbulnya rasa senang tanpa pamrih pada subyek yang melihatnya, dan bertumpu kepada ciri-ciri yang terdapat pada obyek yang sesuai dengan rasa senang itu. Berdasarkan pandangan tersebut di atas, maka kita dapatkan batasan keindahan yang bermacam-macam, sebanyak para ahli yang memberi batasan itu. Di bawah ini dikemukakan beberapa diantaranya adalah:

1. Menurut Leo Tolstoy (Rusia)
Dalam bahasa Rusia terdapat istilah yang serupa dengan keindahan yaitu “krasota”, artinya that wich pleases the sigh atau suatu yang mendatangkan rasa yang menyenangkan bagi yang melihat dengan mata. Bangsa Rusia tidak punya pengertian keindahan untuk musik. Jadi menurut Leo Tolstoy, keindahan itu adalah sesuatu yang mendatangkan rasa menyenangkan bagi yang melihat.

2. Menurut Alexander Baurngarten (Jerman)
Keindahan itu dipandang sebagai keseluruhan yang merupakan susunan yang teratur daripada bagian-bagian, yang bagian-bagian itu erat hubungannya satu dengan yang lain, juga dengan keselunuhan. (Beauty is on of parts in their manual relations and in their relations to the whole).

3. Menurut Sulzer
Yang indah itu hanyalah yang baik. Jika belum haik, ciptaan itu belum indah. Keindahan hartis dapat memupuk perasaan moral. Jadi ciptaan amoral adalah tidak indah, karena tidak dapat digunakan untuk memupuk moral.

4. Menurut Winchelman
Keindahan itu dapat terlepas sama sekali daripada kebaikan.

5. Menurut Shaftesbury (Jerman)
Yang indah itu adalah yang memiliki proporsi yang harmonis. Karena yang proporsinya harmonis itu nyata, maka keindahan itu dapat disamakan dengan kebaikan. Yang indah adalah yang nyata dan yang nyata adalah yang baik.

6. Menurut Humo (Inggris)
Keindahan adalah sesuatu yang dapat mendatangkan rasa senang.

7. Menurut Hemsterhuis (Belanda)
Yang indah adalah yang paling banyak mendatangkan rasa senang dan itu adalah yang dalam waktu sesingkat-singkatnya paling banyak memberikan pengamatan-pengamatan yang menyenangkan itu.

8. Menurut Emmanuel Kant
Meninjau keindahan dan 2 segi. Pertama dan segi arti yang subyektif dan kedua dan segi arti yang obyektif.

a. Subyektif: Keindahan adalah sesuatu yang tanpa direnungkan dan tanpa sangkut paut dengan kegunaan praktis, tetapi mendatangkan rasa senang pada si penghayat.
b. Obyektif: Keserasian dan suatu obyek terhadap tujuan yang dikandungnya, sejauh obyek ini tidak ditinjau dan segi gunanya.

9. Menurut at – Ghazzali
Keindahan sesuatu benda terletak di dalam perwujudan dan kesempurnaan, yang dapat dikenali kembali dan sesuai dengan sifat bcnda itu. Misalnya sebuah karangan (tulisan) yang paling indah ialah yang mempunyai semua sifat- sifat perfeksi yang khas bagi karangan (tulisan), seperti keharmonisan huruf-huruf, hubungan arti yang tepat satu sama lainnya, pelanjutan dan spasi yang tepat dan susunan yang mcnyenangkan. Di samping lima rasa (alat) untuk mengemukakan keindahan di atas, Al Ghazzali juga menambahkan rasa keenam, yang disebutnya dengan “ruh”, yang disebut juga sebagai “spirit”, “jantung “pemikiran”, “cahaya”. Yang dapat merasakan keindahan dalam dunia yang lebih dalam (inner world) yaitu nilai-nilai spiritual, moral dan agama. Pengertian keindahan menurut luasnya ada tiga, yaitu keindahan dalam arti yang luas, keindahan dalam arti estetis murni, keindahan dalam arti terbatas dalam hubungannya dengan penglihatan. Keindahan dalam arti yang luas Jadi pengertian keindahan yang seluas-luasnya meliputi : keindahan semi, keindahan alam, keindahan moral, keindahan intelektual. Keindahan seni adalah keindahan yang tercipta dari hasil karya seseorang tehadap seni.Seni sering sekali menjadi penghubung keindahan agar bisa dinikmati oleh pengamat objeknya.Seseorang paling dominan menikmati keindahan itu lewat seni.Keindahan alam adalah keindahan yang sudah ada di alam sekitar kita.Keindahan yang ada bisa dinikmati oleh penglihatan kita.Keindahan moral adalah keindahan yang tercipta dari tingkah laku dan perilaku kita sehari-hari. Keindahan intelektual adalah pemikiran yang indah berdasarkan ilmu pengetahuan.
Keindahan atau estetika dilihat dari suku katanya berasal dari kata indah. Dari asal kata indah tersebut dapat kita pahami bahwa artinya yaitu bagus, permai, cantik dan sebagainya. Sedangkan jika dilihat dari bahasa Inggris, adalah beautiful. Penyebutan indah dalam bahasa Perancis, yaitu beau, dalam bahasa Italia juga Spanyol adalah bello. Sedangkan menurut bahasa latin, kata indah adalahbellum. Dapat disimpulkan bahwa keindahan adalah segala sesuatu yang membuat diri maupun hati manusia terkagum-kagum akan suatu pesona dari hasil karya seni yang dibuat dan dilihat.

B. HUBUNGAN MANUSIA DAN KEINDAHAN
Manusia adalah sesuatu yang indah, karena mereka menyukai terhadap keindahan alam maupun terhadap keindahan seni. Keindahan alam adalah “keharmonisan yang menakjubkan dan hukum-hukum alam”, yang dibukakan untuk mereka yang mempunyai kemampuan untuk menerimanya. Sedangkan keindahan seni adalah keindahan buatan atau hasil ciptaan manusia, yaitu buatan seseorang (seniman) yang mempunyai bakat untuk menciptakan sesuatu yang indah, sebuah karya seni. Manusia dan keindahan memang tak bisa dipisahkan sehingga diperlukan pelestarian bentuk keindahan yang dituangkan dalam berbagai bentuk kesenian (seni rupa, seni suara maupun seni pertunjukan) yang nantinya manjadi bagian dari kebudayaannya yang dapat dibanggakan dan mudah-mudahan terlepas dari unsur politik. Kawasan keindahan bagi manusia sangat luas, seluas keanekaragaman manusia dan sesuai pula dengan perkembangan peradaban teknologi, sosial, dan budaya. Karena itu keindahan dapat dikatakan, bahwa keindahan merupakan bagian hidup manusia.
Keindahan tak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia. Dimanapun kapan pun dan siapa saja dapat menikmati keindahan. Keindahan identik dengan kebenaran. Keindahan merupakan kebenaran dan kebenaran adalah keindahan. Keduanya mempunyai nilai yang sama yaitu abadi, dan mempunyai daya tarik yang selalu bertambah. Yang tidak mengandung kebenaran berarti tidak indah. Karena itu tiruan lukisan Monalisa tidak indah, karena dasarnya tidak benar. Sudah tentu kebenaran disini bukan kebenaran ilmu, melainkan kebenaran menurut konsep seni. Dalam seni, seni berusaha memberikan makna sepenuh-penuhnya mengenai obyek yang diungkapkan. Manusia menikmati keindahan berarti manusia mempunyai pengalaman keindahan. Pengalaman  keindahan biasanya bersifat terlihat (visual) atau terdengar (auditory) walaupun tidak terbatas pada dua bidang tersebut. keindahan tersebut pada dasarnya adalah almiah. Alam itu ciptaan Tuhan. Alamiah itu adalah wajar tidak berlebihan dan tidak kurang. Konsep keindahan itu sendiri sangatlah abstrak ia identik dengan kebenaran. Batas keindahan akan behenti pada pada sesuatu yang indah dan bukan pada keindahan itu sendiri. Keindahan mempunyai daya tarik yang  selalu bertambah,  sedangkan yang tidak ada unsur keindahanya tidak mempunyai daya tarik. Orang yang mempunyai konsep keindahan adalah orang yang mampu berimajinasi, rajin dan kreatif dalam menghubungkan benda satu dengan yang lainya. Dengan kata lain imajinasi merupakan proses menghubungkan suatu benda dengan benda lain sebagai objek imajinasi. Demikian pula kata indah diterapkan untuk persatuan orang-orang yang beriman, para nabi, orang yang menghargai kebenaran dalam agama, kata dan perbuatan serta orang –orang yang saleh merupakan persahabatan yang paling indah.
Jadi keindahan mempunyai dimensi interaksi yang sangat luas baik hubungan manusia dengan benda, manusia dengan manusia, manusia dengan Tuhan, dan bagi orang itu sendiri yang melakukan interaksi.

Pada hakikatnya manusia dan keindahan itu tidak bisa dipisahkan. Semua merupakan bagian hidup manusia sehingga perlu dilestarikan. Caranya dengan menuangkan dalam berbagai bentuk kesenian oleh masyarakat umum dan seniman dapat berupa seni rupa, seni musik, seni tari dan seni teater. Setiap karya seni pastinya memiliki daya tarik yang sangat indah dan dari masa ke masa daya tarik dari perkembangan seni tersebut akan selalu bertambah.
Adapun dalam konteks dunia seni bagi seorang seniman membuat karya seni dengan berimanjinasi lalu diwujudkan dalam bentuk karya seni. Lingkup dunia estetis atau keindahan bagi manusia sangat luas. Apalagi ditambah dengan perkembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi diabad modern sekarang ini.Dunia seni semakin berkembang pesat bersinergi dan menyatu dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

C. CARA – CARA MENGETAHUI KEINDAHAN
Caranya antara lain lewat renungan, keserasian, kehalusan, kontemplasi. Terdapat beberapa cara untuk mengetahui keindahan, yaitu sebagai berikut.

1.      Renungan  maksudnya kegiatan dengan cara diam diam memikirkan sesuatu, atau memikirkan sesuatu secara sedalam dalamnya. Misalnya seseorang ingin membuat suatu karya seni rupa awalnya pasti belum memiliki ide tentang karya seni rupa yang ingin dibuat. Kemudian ia merenung dahulu akan membuat karya seni rupa lalu dengan cara menyendiri atau pergi ke suatu tempat agar bisa tenang dan dapat berfikir supaya menemukan ide untuk karya seni rupa yang ingin ia buat.
2.       Keserasian  maksudnya mengandung unsur perpaduan, pertentangan, ukuran, dan seimbang. Keserasian pada hakikatnya sebagai bagian dalam mewujudkan keindahan. Contoh nya dalam dunia seni musik, misalnya lagu yang diciptakan merupakan unsur pertentangan antara suara tinggi rendah, panjang pendek, keras halus namun terpadu sehingga unik dan indah didengar telinga kita. Namun saat mendengar nada sumbang kita pun merasa kecewa karena tidak enak didengar juga tidak ada keserasian dalam penciptaan lagu tersebut.
3.      Kehalusan  berarti lembut, baik atau budi bahasa, berada. Atau bisa dikatakan kehalusan berarti sifat sifat yang halus. Adapun dalam dunia seni kehalusan bisa diberikan contoh dalam seni berteater memakai kata kata halus jadi bisa disukai dan diterima oleh para penontonnya.
4.      Kontemplasi  merupakan suatu kegiatan bermeditasi, menerungkan atau berfikir secara mendalam dalam pencarian makna, nilai, manfaat, dan tujuan, atau niat hasil penciptaan sebuah karya seni.

D. HUBUNGAN KEINDAHAN DENGAN SENI
Keindahan yang diperbincangkan dalam tulisan ini adalah keindahan seth, sehingga tidak terlepas dan pembicaraan tentang seni atau karya seni (keindahan seni, seni sebagai intuisi dan cita-cita seni). Keindahan tentang seni telah lama menarik perhatian para ahli atau filosof. Sejak jaman Plato sampai jaman modern sekarang ini. Teori tentang keindahan seni (artistik) muncul, karena mereka berpendapat bahwa seni adalah pengetahuan persepsi perasaan yang khusus. lstilah “estetika”, yang dikemukakan untuk pertama kali oleh Baumgarten, dipergunakan untuk membicarakan teori tentang keindahan seni (artistik). Kemudian pengertian estetika berkembang, akhir-akhir ini diberi arti sebagai “ilmu pengetahuan tentang seni”.
Manusia memiliki sensibilitas esthetis, karena itu manusia tak dapat dilepaskan dan keindahan. Manusia membutuhkan keindahan dalam kesempurnaan (keutuhan) pribadinya. Tanpa estetika ini, kemanusiaan tidak lagi mempunyai perasaan dan semua kehidupan akan menjadi steril. Demikian eratnya kehidupan manusia dengan keindahan, maka banyak para ahli/cendekiawan mengadakan studi khusus tentang keindahan. Teori tentang keindahan dan seni dikembangkan dan dimasukkan ke dalam pengertian “estetika”. Aslinya estetika berarti “tentang ilmu penginderaan” yang sesuai dengan pengertian etinologisnya. Tetapi kemudian diberi pengertian yang dapat diterima lebih luas ialah teori tentang keindahan dan seni.
Filosof yang pertama memperlakukan estetika sebagai suatu bidang studi khusus ialah Baumgarten (1735). Baumgarten mengkhususkan penggunaan istilah ‘estetika” untuk teori tentang keindahan artistik, karena ia berpendapat seni sebagai pengetahuan perseptif perasaan yang khusus. Tetapi filosof lain yaitu Kant tidak sependapat, sehingga ia tidak pernah menggunakan istilah estetika dalam memperbincangkan teori tentang keindahan dan seni.
Aristoteles menggunakan istilah “puitik” dan untuk teori keindahan artistik, yang oleh Baumgarten dijadikan bagian khusus dan estetika.Dahulu estetika dianggap sebagai suatu cabang filsafat, sehingga memiliki atau diberi pengertian sebagai sinonim dan filsafat seni. Tetapi sejak akhir abad 19, lebih-lebih akhir- akhir ini ada suatu gejala yang menekankan sifat-sifat imperis, oleh karena itu menganggap sebagai “ilmu pengetahuan tentang seni”.

E.  PERASAAN KEINDAHAN (SENSIBILITAS ESTETIS)
Manusia dikatakan adalah makhluk berpikir atau homosapiens. Tetapi manusia itu bukan semata-mata makhluk yang berpikir, sekedar homo sapiens yang steril. Manusia disamping makhluk berpikir, juga merasa dan mengindera. Melalui panca indera manusia dapat merasakan sesuatu. Apabila manusia merasakan akan sesuatu itu menyenangkan atau menggembirakan dan sebagainya, timbul perasaan puas. Demikian juga terjadi, kepuasan timbul setelah seseorang melihat atau merasakan sesuatu yang indah. Rasa kepuasan itu lahir setelah perasaan keindahan yang ada pada setiap orang itu bangkit. Tiap-tiap orang memiliki pcrasaan keindahan.

F.   HUBUNGAN KEINDAHAN DENGAN NILAI
Batasan nilai bisa mengacu pada berbagai hal seperti minat, kesukaan, pilihan, tugas, kewajiban agama, kebutuhan, keamanan, hasrat, keengganan, daya tarik, dan hal-hal lain yang berhubungan dengan perasaan dari orientasi seleksinya (Pepper, dalam Sulaeman, 1998). Rumusan di atas apabila diperluas meliputi seluruh perkembangan dan kemungkinan unsur-unsur nilai, perilaku yang sempit diperoleh dari bidang keahlian tertentu, seperti dari satu disiplin kajian ilmu. Di bagian lain, Pepper mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu tentang yang baik atau yang buruk. Sementara itu, Perry (dalam Sulaeman, 1998) mengatakan bahwa nilai adalah segala sesuatu yang menarik bagi manusia sebagai subjek.
Ketiga rumusan nilai di atas, dapat diringkas menjadi segala sesuatu yang dipentingkan manusia sebagai subjek, menyangkut segala sesuatu yang baik atau yang buruk sebagai abstraksi, pandangan, atau maksud dari berbagai pengalaman dengan seleksi perilaku yang ketat. Seseorang dalam melakukan sesuatu terlebih dahulu mempertimbangkan nilai. Dengan kata lain, mempertimbangkan untuk melakukan pilihan tentang nilai baik dan buruk adalah suatu keabsahan. Jika seseorang tidak melakukan pilihannya tentang nilai, maka orang lain atau kekuatan luar akan menetapkan pilihan nilai nnluk dirinya. Seseorang dalam melakukan pertimbangan nilai bisa bersifat subyektif dan bisa juga bersifat objektif. Pertimbangan nilai subjektif terdapat dalam alam pikiran manusia dan bergantung pada orang yang memberi pertimbangan itu. Sedangkan pertimbangan objektif beranggapan bahwa nilai-nilai itu terdapat tingkatan-tingkatan sampai pada tingkat tertinggi, yaitu pada nilai fundamental yang mencerminkan universalitas kondisi fisik, psikologi sosial, menyangkut keperluan setiap manusia di mana saja.
 Dalam kajian filsafat, terdapat prinsip-prinsip untuk pemilihan nilai, yaitu sebagai berikut.
Nilai instrinsik harus mendapat prioritas pertama daripada nilai ekstrinsik. Sesuatu yang berharga instrinsik, yaitu yang baik dari dalam dirinya sendiri dan bukan karena menghasilkan sesuatu yang lain. Sesuatu yang berharga secara ekstrinsik, yaitu sesuatu yang bernilai baik karena sesuatu hal dari luar. Jika sesuatu itu merupakan sarana untuk mendapat sesuatu yang lain. Semua benda yang bisa digunakan untuk aktivitas mem-punyai nilai ekstrinsik.
nilai ini tidak harus terpisah. Suatu benda dapat bernilai instrinsik dan ekstrinsik. Contoh pengetahuan, mempunyai nilai instrinsik baik dari dirinya sendiri dan mempunyai nilai ekstrinsik apabila digunakan untuk kepentingan pembangunan baik di bidang ekonomi, politik, hukum, maupun bidang-bidang yang lainnya.
Nilai yang produktif secara permanen didahulukan daripada nilai yang produktif kurang permanen. Beberapa nilai, seperti nilai ekonomi akan habis dalam aktivitas kehidupan. Sedangkan nilai persahabatan akan bertambah jika dipergunakan untuk membagi nilai akal dan jiwa bersama orang lain. Oleh karena itu, nilai persahabatan harus didahulukan daripada nilai ekonomi.
Berdasarkan berbagai penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa keindahan sangat berhubungan dengan nilai. Hal ini dikarenakan nilai akan muncul apabila seseorang memandang sesuatu objek dengan keindahan. Semakin tinggi tingkat keindahan suatu objek maka akan semakin tinggi pula nilai yang diberikan sesorang terhadap objek tersebut, begitu pula sebaliknya.

Sebuah karya seni pastinya memiliki keindahan nilai intrinsik dan ekstrinsik seperti berikut.
1.      Nilai Ekstrinsik Maksudnya sifat baik dari suatu benda karya seni,yaitu sebagai alat atau sarana untuk membantu dalam kehidupan manusia.
2.      Nilai Intrinsik Maksudnya Merupakan sifat baik dari benda yang bersangkutan atau sebagai suatu tujuan ataupun demu kepentingan itu sendiri.contohnya,sebuah lukisan yang dibuat seorang seniman memiliki arti dan maksud dari lukisan yang ia buat.

G. SIFAT – SIFAT KEINDAHAN KARYA SENI
.
Supaya dapat menilai keindahan karya seni itu indah atau tidak,terlebih dahulu kalian harus memahami sifat-sifat keindahan . Berikut akan diungkapkan sifat keindahan. Sifat keindahan antara lain Keindahan itu kebenaran, keindahan itu abadi, keindahan itu mempunyai daya tarik, keindahan itu universal, keindahan itu wajar, keindahan itu kenikmatan.
1.      Keindahan itu Kebenaran
Maksudnya,keindahan karya seni dibuat benar-benar oleh seniman bukan hasil tiruan atau jiplakan.Contohnya lukisan asli Monalisa
2.      Keindahan itu Abadi
Abadi atau dalam bahasa asing Immortal merupakan salah satu sifat keindahan karya seni.Jadi sebuah hasil karya seni itu tidak akan prnahdilupakan,tidak hilang atau susut dari masa atau tidak terikat waktu.
3.      Keindahan itu Mempunyai Daya Tarik
 Daya tarik itu sesuatu yg membuat orang ingin melihat,sehingga terpikat perhatian dari sebuah karya seni.Intinya sebuah karya seni yg baik adalah mampu menarik perhatian orang,menyenangkan,tidakmembosankan.Misalnya sebuah tempat wisata,yg kaya akan ukiran dan karya seni 3 dimensi seperti Candi Sewu mampu menyenangkan orang,jga mempunyai daya tarik,oleh karena itu dikatakan Candi Sewu tersebut indah.
4.      Keindahan itu Universal
Universal maksudnya luas dan mendunia,jadi karya seni itu di sukai orang dimana saja berbeda daerah atau negara didunia jika melihat karya seni di media internet atau media lainnya dan menyatakan indah berarti karya seninya bagus.
5.      Keindahan itu wajar
Wajar maksudnya kaya seni yang indah itu tidak berlebihan juga tidak minim, atau apa adanya. Contohnya, seorang artis yang nampak cantik apa adanya jika difoto. Namun bila diberi tambahan aplikasi B612 akan tampak berbeda dari aslinya dan hasil fotonya terkesan berlebihan.
6.      Keindahan itu kenikmatan
Kenikmatan dari sebuah karya seni maksudnya mampu memberikan kesenangan atau memberikan kepuasan. Biasanya seorang pencipta karya seni akan puas dan sangat senang apabila karyanya dikatakan indah. Misalnya sebuah novel karya seorang penulis yang diangkat menjadi film dan mendapat respond bagus dari khalayak umum, serta banyak penontonnya sehingga membuat pengarang buku tersebut merasa puas.

H.  UNSUR KEINDAHAN
Unsur – unsur keindahan yaitu kesatuan / unity, kerumitan / complexity, kesungguhan / intensity.
Unsur yang membuat indah benda estetis karya seni, diantaranya sebagai berikut
1.      kesatuan (unity) kesatuan maksudnya benda karya seni dinilai indah / estetis yang tersusun secara baik atau sempurna bentuknya
2.      Kerumitan (completixity) Kerumitam maksudnya karya seni yang tercipta kaya akan isi maupun unsur- unsur yang saling berlawanan atau mengandung perbedaan-perbedaan yang halus.
3.      Kesungguhan (intensity). Kesungguhan maksudnya karya seni yang dibuat harus mengandung kwalitas tertentu yang menonjol , bukan sekedar sesuatu yang kosong
Pada hakikatnya setiap manusia menyukai setiap karya seni yang mengandung unsur keindahan.  Adapun untuk menciptakan keindahan , seniman bisa memainkan warna dalam seni rupa ,dalam seni musik bisa memainkan dan mengabung alat musik, dalam seni tari bisa memainkan gerak baru dan dalam dunia teater bisa memainkan cerita yang indah.

 I. MANFAAT MEMPELAJARI KEINDAHAN
Estetika atau Keindahan itu merupakan salah satu bidang pengetahuan yang sangat penting sekali dipahami serta dipelajari. Lebih lebih bagi manusia yang sangat menyukai dan ingin menjadi seorang seniman,penting sekali mempelajari mengenai estetika atau keindahan. Bukan hanya seniman saja seorang pengamat atau kritikus juga harus memahami soal estetika atau keindahan. Berikut manfaat yang didapatkan dalam mempelajari estetika atau keindahan,  yaitu:
1.      Mampu memahami tentang rasa indah pada umumnya juga perihal kesenian pada khusus nya.
2.      Memperluas wawasan mengenai berbagai unsur unsur objektif yang membangkitkan rasa indah pada manusia .
3.      Memahami berbagai unsur-unsur subjektif yang berpengaruh terhadap kemampuan menikmati rasa indah.
4.      Menumbuhkan rasa cinta kepada dunia kesenian dan kebudayaan bangsa, serta mampu meningkatkan kemampuan dalam mengapresiasi (menghargai) kesenian dan kebudayaan bangsa.
5.      Meningkatkan serta memupuk kehalusan rasa pada umumnya.
6.      Mampu memahami mengenai kaitan antara wujud berkesenian dengan tata kehidupan, dan tata kebudayaan.
7.      Meningkatkan keahlian dan kemampuan menilai karya seni.
8.      Menumbuhkan sikap waspada dari berbagai pengaruh-pengaruh negatif yang mampu merusak mutu kesenian dan berbahaya terhadap kelestarian aspek-aspek dan nilai-nilai tertentu dari kebudayaan kita.
9.      Memperkokoh masyarakat dalam keyakinan akan kesusilaan,moralitas,perikemanusiaan, dan ketuhanan
10.  Melatih serta memberi wawasan yang luas dan bekal bagi kehidupan spiritual dan psikologi kita.

JENIS-JENIS APRESIASI SENI BUDAYA

B) Jenis-jenis Apresiasi Seni Budaya

Pada dasarnya, apresiasi seni budaya dibagi berdasarkan dua kategori, yaitu berdasarkan pendekatannya dan berdasarkan tingkatannya. Berdasarkan pendekatannya, apresiasi terbagi menjadi dua, yaitu apresiasi pasif dan apresiasi aktif. Sementara itu, menurut tingkatannya, apresiasi terbagi menjadi tiga, yaitu apresiasi empatik, apresiasi estetik, dan apresiasi kritik.

1. Jenis Apresiasi Menurut Pendekatannya Apresiasi menurut pendekatannya bermakna kegiatan apresiasi yang dilakukan dengan beberapa metode. Metode atau pendekatan yang diterapkan oleh setiap orang ketika melakukan apresiasi seni budaya berbeda satu sama lain. Ada yang melakukan apresiasi secara pasif, ada juga yang melakukan apresiasi secara aktif.

a. Apresiasi pasif, yaitu kegiatan apresiasi yang bersifat serta merta dan tidak melakukan pendalaman lebih lanjut terhadap bentuk karya seni yang diamati. Kegiatan apresiasi pasif umumnya dilakukan oleh masyarakat awam yang tidak terlalu "melek" seni, atau tidak memahami seni secara mendalam. Apresiasi pasif ditunjukkan melalui penilaian bagus tidaknya suatu karya seni setelah mencerap suatu karya seni menggunakan pancaindra. Contohnya, seseorang yang menonton pertunjukan Reog Ponorogo menganggap bahwa pertunjukan tersebut sangat menarik dan indah, mulai dari tarian, kostum, hingga musik pengiringnya. Namun, seusai menonton, ia tidak mencari informasi lebih lanjut mengenai pertunjukan tersebut, misalnya informasi mengenai sejarah ataupun seluk-beluk penyusun pertunjukan tersebut. Sikap yang demikian menunjukkan adanya apresiasi pasif.

b. Apresiasi aktif, yaitu kegiatan apresiasi yang ditunjukkan secara mendalam, termasuk setelah menilai suatu bentuk dan hasil karya seni secara pasif/apresiasi pasif. Berbeda dengan apresiasi pasif, seseorang yang melakukan apresiasi aktif akan mencari informasi lebih lanjut mengenal bentuk
karya seni yang baru saja la nikmati. Apresiasi aktif juga menunjukkan tingginya minat seseorang terhadap suatu bentuk karya seni yang dihasilkan seniman. Apresiasi aktif kemudian melahirkan dua hal, yakni pendekatan aplikatif dan pendekatan kesejarahan.

1) Pendekatan aplikatif

Apresiasi aktif dengan pendekatan aplikatif dapat dimaknai sebagai upaya yang dilakukan seseorang untuk menunjukkan apresiasi dengan cara terjun langsung ke dalam bentuk seni yang ia sukai. Contohnya, seseorang yang menyukai seni lukis akan mempelajari cara melukis, seseorang yang menyukai seni tari akan bergabung dengan sanggar seni tari, dan seseorang yang menyukai seni peran akan bergabung dengan kelas akting atau grup teater untuk mengasah kemampuan beraktingnya.

Pendekatan aplikatif juga dapat dilakukan seseorang dengan mencari tahu tentang cara mempelajari suatu bentuk seni budaya melalui berbagai media, seperti buku atau internet, atau dengan mendatangi studio, sanggar, dan galeri seni. Contohnya, seseorang yang terpesona dan tertarik untuk mempelajari tari gambyong secara otodidak dapat mempelajari tentang cara menari gambyong dengan mengakses situs penyedia video di internet. Begitu pula dengan mendatangi studio, sanggar, dan galeri seni. Dengan mendatangi tempat-tempat tersebut, seseorang berkesempatan untuk melihat lebih dekat mengenai teknik, bahan, dan unsur-unsur penciptaan suatu bentuk karya seni. Contohnya, dengan mengunjungi studio lukis, seseorang dapat melihat alat, bahan, dan teknik yang digunakan untuk melukis serta melihat bagaimana hasil akhir lukisan.
Pendekatan aplikatif juga dapat disebut sebagai praktik berkarya. Melalul praktik berkarya, seseorang akan merasakan langsung pengalaman yang dirasakan oleh seniman yang karyanya ia nikmati sebelumnya. la dapat mempelajari teknik pembuatan, mempelajari alat dan bahan yang menjadi media pembuatan, mencari berbagai alternatif untuk menciptakan, serta mengalami suka-duka dalam menciptakan suatu karya. Pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh melalui pendekatan aplikatif akan mendorong seseorang untuk memberikan apresiasi tinggi terhadap suatu bentuk seni budaya.

2) Pendekatan kesejarahan
Apresiasi dengan pendekatan kesejarahan dapat dimaknai sebagai upaya apresiasi yang dilakukan seseorang dengan cara menelusuri asal-usul dan sisi sejarah dari suatu bentuk karya seni. Pendekatan kesejarahan juga dikenal sebagai penelusuran riwayat. Pendekatan kesejarahan dapat dilakukan dengan banyak cara, di antaranya dengan mencari informasi pada sumber tertulis dan internet serta bertanya langsung kepada pihak-pihak yang dirasa cukup kompeten dan memiliki pengetahuan terkait karya seni yang bersangkutan. Pihak-pihak tersebut dapat berupa seniman, para tetua, hingga keluarga. Contohnya, seseorang yang tertarik dengan asal-usul sejarah pertunjukan lenong dapat mencari informasi dengan membaca buku, mencari informasi di internet, bertanya kepada keluarga yang memiliki pengetahuan tentang lenong, atau bertanya langsung kepada seniman lenong.

Penelusuran kesejarahan semacam ini tidak cukup dilakukan hanya dengan mendatangi studio, sanggar, galeri seni, ataupun museum. Diperlukan dedikasi, kesabaran, dan kemauan tinggi untuk melakukan pendekatan kesejarahan agar mendapatkan informasi tentang suatu bentuk seni secara komprehensif. Tanpa adanya dedikasi, kesabaran, dan kemauan, informasi yang diperoleh akan tidak lengkap sehingga pemahaman dan apresiasi terhadap bentuk seni yang bersangkutan tidak maksimal.

2. Jenis Apresiasi Menurut Tingkatannya
Menurut tingkatannya, apresiasi seni terbagi menjadi tiga, yakni apresiasi empatik, apresiasi estetis, dan apresiasi kritik. Pembagian apresiasi berdasarkan tingkatannya ini sesuai dengan pendapat Brent G. Wilson yang menyebutkan bahwa apresiasi mengandung tiga konteks utama, yakni feeling (perasaan, berkaitan dengan apresiasi empatik dan estetis), valuing (penilaian, berkaitan dengan apresiasi kritik), dan emphatizing (empati, berkaitan dengan apresiasi empatik).

a. Apresiasi empatik 
Apresiasi empatik dapat dimaknai sebagal upaya
penilaian berdasarkan unsur-unsur cerapan/tangkapan pancaindra. Selain melibatkan pancaindra, apresiasi empac juga berkaitan dengan pemikiran dan perasaan seseorang Hasil dari tangkapan pancaindra akan memengaruhi pikiran dan perasaan seseorang sehingga orang tersebut dapat memberikan penilaian baik tidaknya suatu bentuk seni yang sedang ia nikmati. Contoh dari apresiasi empatik adalah seseorang yang terkagum-kagum saat melihat pertunjukan wayang orang yang diiringi dengan alunan musik gamelan Perasaan kagum tersebut muncul akibat keindahan yang ia tangkap melalui mata (pertunjukan wayang orang) dan telinga (alunan suara gamelan). Rasa kagum dan senang saat menonton pertunjukan tersebut akan membuat dirinya menilai bahwa pertunjukan wayang orang adalah pertunjukan yang bagus dan menarik.

b. Apresiasi estetis
Apresiasi estetis dapat dimaknai sebagai upaya penilaian terhadap suatu bentuk karya seni melalui pengamatan dan penghayatan. Berbeda dengan apresiasi empatik yang terbatas pada tangkapan pancaindra, apresias estetis mengeksplorasi unsur-unsur intrinsik dan ekstrinsik dari suatu karya seni. Contoh unsur intrinsik dan ekstrinsik tersebut meliputi bentuk, tampilan, isi, hingga hal-hal yang melatarbelakangi seniman dalam menciptakan karya tersebut. Melalui apresiasi estetis, seseorang akan merasakan pengalaman keindahan yang tidak hanya berupa wujud (form), tetapi juga isi (substance).
Contoh dari apresiasi estetis adalah seseorang yang melakukan pengamatan dan penghayatan terhadap lukisan-lukisan potret realis karya Basoeki Abdullah. Ketika mengamati salah satu lukisan potret realis karya Basoeki Abdullah, misalnya potret Bung Hatta, ia akan mengamati bagaimana kemiripan antara lukisan tersebut dengan wajah asli Bung Hatta, media apa yang digunakan untuk membuat lukisan tersebut, warna yang digunakan, teknik pembuatan, hingga tujuan yang melatarbelakangi Basoeki Abdullah dalam menciptakan lukisan potret tersebut. Melalui pengamatan dan penghayatan, orang yang melakukan pendekatan tersebut akan memberikan apresiasi yang lebih tinggi dibandingkan apresiasi yang hanya berdasarkan tangkapan mata.

c. Apresiasi kritik
Apresiasi kritik dapat dimaknai sebagai upaya penilaian yang lebih kompleks dengan melibatkan beberapa kegiatan, seperti klasifikasi, deskripsi, tafsiran, analisis, evaluasi, dan kesimpulan. Apresiasi kritik umumnya diberikan oleh orang-orang yang telah lama mendalami dan memiliki pengetahuan yang luas terkait suatu bidang seni, seperti kritikus seni. Apresiasi kritik tidak hanya terbatas pada penilaian bagus tidaknya suatu karya seni, tetapi juga pemberian masukan, saran, deskripsi, dan evaluasi terhadap karya seni tersebut. Artinya, apresiasi kritik lebih menekankan sisi objektif dibandingkan sisi subjektif saat melakukan penilaian. Dengan demikian, apresiasi kritik tidak hanya membawa pemahaman dan pengetahuan baru bagi diri sang kritikus ataupun penikmat seni, tetapi juga motivasi bagi seniman untuk menciptakan karya yang lebih baik lagi di masa mendatang.

Contoh dari apresiasi kritik adalah seorang kritikus seni yang memberikan penilaian terhadap suatu pertunjukan teater. Saat menonton, kritikus akan melihat bagaimana mekanisme pertunjukan tersebut, mulai dari cara dan teknik berakting para pemain, dialog yang dibawakan, tata kostum dan tata rias para pemain, tata panggung dan tata cahaya, hingga musik yang mengiringi pertunjukan tersebut. Dengan memberi perhatian pada detail, kritikus seni dapat memberikan penilaian terhadap pertunjukan tersebut. Jika ia menemukan kekurangan, misalnya dialog yang terlalu panjang dan membosankan penonton atau banyaknya blocking yang dilakukan para pemain, ia akan memberikan kritik dan masukan kepada para pelaku pertunjukan tersebut agar kesalahan yang sama tidak terulang di kemudian hari.

APRESIASI SENI BUDAYA NUSANTARA

A Konsep Apresiasi Seni Budaya

Indonesia menyimpan kekayaan seni dan budaya yang tidak terhitung jumlahnya. Pada pembahasan-pembahasan sebelumnya, telah dijelaskan mengenai bentuk-bentuk seni yang ada di Indonesia, beserta tahapan perkembangannya dari masa ke masa. Banyaknya kekayaan seni dan budaya yang dimiliki Indonesia tersebut mendorong munculnya reaksi, salah satunya apresiasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apresiasi memiliki dua pengertian, yaitu "kesadaran terhadap nilai seni dan budaya serta "penilaian (penghargaan) terhadap sesuatu". Dalam bahasa Inggris, apresiasi dikenal dengan istilah appreciate, yang bermakna "penilaian atau penghargaan untuk mengukur kualitas sesuatu". Jika diartikan secara luas, kegiatan apresiasi dapat dimaknai sebagai kegiatan mengamati, menanggapi, dan menghayati untuk menemukan kualitas dan nilai dari suatu bentuk

Apresiasi dapat ditunjukkan dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang seni dan budaya. Kegiatan apresiasi dalam bidang seni dan budaya dapat terwujud dalam tindakan tindakan sederhana. Contohnya, seseorang yang terkagum kagum atau merasa bahagia ketika melihat suatu karya seni. Tanpa disadari, ia telah melakukan apresiasi terhadap karya seni tersebut. Apresiasi juga terlihat ketika seseorang mengamati suatu karya seni dan memutuskan bahwa karya seni tersebut memiliki beberapa kelemahan, misalnya bentuknya yang tidak menarik atau tidak merepresentasikan maksud dan pesan seniman yang ada di dalamnya.

Info Seni

Apresiasi atas suatu hal tidak hanya terjadi dalam bidang seni dan budaya, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Proses memilih yang dilakukan sebelum membeli baran juga termasuk bentuk apresiasi atas nilai dan bentuk barang yang aka dipilih.

Jika dimaknai lebih lanjut, apresiasi seni dan budaya dapat dimaknai sebagai upaya untuk memahami bentuk-bentuk dan hasil seni budaya secara menyeluruh, termasuk memahami nilai nilai yang ada di dalamnya, seperti nilai estetika. Nilai estetika menjadi nilai yang paling sering muncul dalam apresiasi seni cenderung budaya. Penyebabnya adalah sifat seseorang yang cend peka terhadap sesuatu yang berkaitan dengan nilai-nilai estetika. Terlebih bentuk-bentuk dan hasil seni budaya banyak mengandung unsur-unsur estetis yang dapat membawa pengalaman keindahan bagi orang-orang yang memandangnya.

Apabila seseorang mampu menangkap nilai estetis dari suatu karya seni dan budaya, sangat mungkin ia dapat menangkap nilai lain yang terkandung di dalam karya tersebut. Beberapa ahli, seperti Soedarso dan Rollo May, juga mencoba memberikan pandangan mereka mengenai pengertian apresiasi seni budaya. Menurut Soedarso (1990), apresiasi seni budaya bermakna mengerti dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk. 
suatu hasil seni, serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetisnya sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut dengan semestinya. Sementara itu, menurut Rollo May, melakukan apresiasi terhadap suatu bentuk kreasi seni merupakan suatu tindakan kreatif.

Dalam bidang seni budaya, kegiatan apresiasi tidak hanya dilakukan oleh para penikmat seni, tetapi juga seniman yang menciptakan karya seni. Dengan kata lain, apresiasi menjadi semacam jembatan penghubung antara penikmat seni dan seniman. Melalui apresiasi, penikmat seni dapat memperoleh pengalaman keindahan dan menilai suatu karya seni. Penilaian dari penikmat seni akan menjadi masukan bagi seniman untuk mengevaluasi dan mengembangkan karya-karyanya. Karya-karya seniman yang semakin berkembang dan mengalami kemajuan dari masa ke masa juga akan kembali membawa dampak positif bagi penikmat seni, yaitu penikmat seni dapat menikmati lebih banyak karya seni yang berkualitas.

Apresiasi yang ditunjukkan oleh setiap orang berbeda satu sama lainnya. Penyebabnya bermacam-macam, mulai dari perbedaan tingkat ilmu pengetahuan; pemahaman; pengalaman; status sosial; hingga kondisi internal dalam diri seseorang, seperti kondisi fisik, psikis, dan mental. Contohnya, ketika menonton pertunjukan teater, seseorang yang terbiasa menonton pertunjukan teater akan memberikan apresiasi yang berbeda dibandingkan orang yang pertama kali menonton pertunjukan teater tersebut. Orang yang terbiasa tersebut dapat memberikan apresiasi yang tinggi karena telah memahami seluk-beluk teater. Sementara itu, orang yang baru pertama kali menonton pertunjukan teater dapat menunjukkan dua kemungkinan reaksi: merasa kagum atau merasa bosan dan tidak tertarik untuk menonton teater lagi di kemudian hari. Kondisi tersebut menunjukkan perbedaan apresiasi yang disebabkan oleh perbedaan pengalaman yang dimiliki setiap orang.
Kegiatan apresiasi seni juga mendorong munculnya kegiatan yaitu kegiatan meresensi dan kritik seni. Tanpa keberadaan apresiasi, seseorang akan sulit memberikan penilaian yang objektif dan akurat atas suatu karya seni. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kegiatan apresiasi memberikan dampak yang cukup vital dalam kegiatan resensi dan kritik seni.

Featured Post

Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPKI

  Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPKI Indonesia Menjelang Kemerdekaan Pada awal tahun 1945, keadaan Perang Dunia II mulai berub...