Showing posts with label teater. Show all posts
Showing posts with label teater. Show all posts

Tuesday, April 6, 2021

MENGANALISIS SENI BUDAYA NUSANTARA (TARI DAN TEATER)

3. Menganalisis seni tari nusantara

a. Analisis symbol tari

1) Mengamati simbol dalam gerak

Gerak tari bisa kita analisis misalnya pada gerak memanah dalam tari Beksa Panah dari Kalimantan selatan, gerak ini memiliki kesamaan antara gerak dalam tari dengan gerak yang sebenarnya. Atau jika kita analisis Tari Kandangan dari Jawa Barat, terdapat ciri khas tarian tersebut yang dilakukan untuk keperluan estetis tari dan tidak terkait dengan kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, gerak Alung Soder adalah gerak murni.

2) Mengamati symbol dalam busana

Busana tari Nusantara sangat beragam, busana tari disini dapat di analisis. Contohnya Tari Gawil dari Jawa Barat, busana yang dipakai yaitu jenis busana bangsawan sunda pada abad ke-19. Simbol status kebangsawanan diperoleh dari motif, kain, model jas, dan tutup kepala serta aksesoris busana (kalung rantai dan kancing mas) yang hanya dipakai oleh bangsawan sunda.


b. Analisis Bentuk Penampilan Tari

1)  Menganalisa Tari Tradisional yang ditampilkan oleh Penari 

Tunggal. Jenis tari tradisional di Indonesia bisa diamati dari bagaimana tari itu ditampilkan oleh seorang penari, tentu saja disebut tari tunggal. Misalnya, Tari Topeng Klana, dalam Topeng Cirebon menarikan tokoh Klana dalam Cerita Panji. Tari Tunggal juga bisa ditampilkan dengan berkelompok.

2)  Mengamati Tari Tradisional yang ditampilkan secara berpasangan

Tari berpasangan adalah tarian yang dibawakan oleh 2 orang penari, yang gerakannya saling mengisi. Tari berpasangan juga bisa ditampilkan berkelompok, akan tetapi jumlahnya harus genap.

3)   Menganalisa Tari Tradisional Berkelompok. Tarian ini bisa dibawakan oleh beberapa penari yang melakukan gerakan yang sama dan jumlah penari lebih dari 2.

c.  Analisis fungsi seni tari

Menganalisis tari berdasarkan fungsi seni antara lain:

1)  Tari sebagai sarana upacara

fungsi tari sebagai sarana upacara merupakan bagian dari tradisi yang ada dalam suatu kehidupan masyarakat yang sifatnya turun temurun dari generasi ke generasi berikutnya sampai masa kini yang berfungsi sebagai ritual. tari dalam upacara pada umumya bersifat sakral dan magis. pada tari upacara faktor keindahan tidak diutamakan, yang diutamakaan adalah kekuatan yang dapat mempengaruhi kehidupan manusia itu sendiri ataupun hal hal diluar dirinya. Ciri – ciri tari untuk upacara antara lain diselenggarakan pada tempat dan waktu tertentu, bersifat sacral dan magis, ada sesaji, dilaksanakan di tempat terbuka dan massal, hidup dan berkembang dalam tradisi yang kuat sebagai sarana untuk persembahan, sebagai sarana memuja dewa, bersifat kebersamaan dan berulang ulang, yang datang dianggap peserta upacara bukan penonton , ditarikan oleh penari yang terpilih dan dianggap suci, gerak tari imitatif, meniru gerak - gerik alam sekitar, ungkapan gerak mirip ekspresi kehendak jiwa penarinya.

2)  Tari sebagai sarana hiburan

salah satu bentuk penciptaan tari ditujukan hanya untuk di tonton. Tari ini memiliki tujuan hiburan pribadi lebih mementingkan kenikmatan dalam menarikan. Tari hiburan disebut tari gembira, pada dasarnya tarian gembira tidak bertujuan untuk ditonton akan tetapi tarian ini cenderung untuk kepuasan para penarinya itu sendiri. Keindahan tidak diutamakan, tetapi mementingkan kepuasan individual, bersifat spontanitas dan improvisasi.Tarian ini untuk konsumsi public. contoh tari hiburan tari tayub (jatim, jateng), ketuk tilu (jabar), gandrung (banyuwangi), jogged bumbung (bali), serampang dua belas (Sumatra), tari sekar putrid, ratu graheni

3)  Tari sebagai sarana pergaulan

Dalam hal ini tari memiliki fungsi pergaulan antara sesame manusia .contoh tari ketuk tilu, jaipongan, maengket ( Sulawesi) tari tujuah lompat (Maluku)

4)  Tari sebagai penyalur terapi

Jenis tari ini biasanya ditujukan untuk penyandang cacat fisik atau cacat mental.Penyalurannya dapat dilakukan secara langsung bagi penderita cacat tubuh atau bagi penderita tuna wicara dan tuna rungu, dan secara tidak langsung bagi penderita cacat mental.Pada masyarakat daerah timur jenis tarian ini menjadi pantangan karena adanya rasa tidak sampai hati.

5)  Tari sebagai media pendidikan

Kegiatan tari dapat dijadikan media pendidikan, seperti mendidik anak untuk bersikap dewasa dan menghindari tingkah laku yang menyimpang dari nilai – nilai keindahan dan keluhuran karena seni tari dapat mengasah perasaan seseorang

6)  Tari sebagai pertunjukkan

tari pertunjukkan adalah bentuk momunikasi sehingga ada penyampai pesan dan penerima pesan. Tari ini lebih mementingkan bentuk estetika dari pada tujuannya.Tarian ini lebih digarap sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat’ tarian ini sengaja disusun untuk dipertontonkan.Oleh sebab itu penyajian tari mengutamakan segi artistiknya yang konsepsional yang mantab, koreografer yang baik serta tema dan tujuan yang jelas.

7)   Tari sebagai media katarsis

Katarsis berarti pembersihan jiwa.Seni tari sebagai media katarsis lebih mudah dilaksanakan oleh orang yang telah mencapai taraf atas penghayatan seni.Oleh karena itu, biasanya jtari ini dilakukan oleh seniman yang hakiki.Namun seorang guru pun bisa melakukannya asal dia mau berlatih dengan kesungguhan, konsentrasi yang penuh, berani dan memiliki kekayaan imajinasi.

Selain memiliki beberapa fungsi tersebut, seni tari juga memiliki peranan yang sama seperti seni – seni lainnya, yaitu tari sebagai media ekspresi, komunikasi, berpikir kreatif dan mengembangkan bakat.

4.  Analisis seni teater nusantara

Dalam mengidentifikasi karya seni, termasuk seni teater, paling tidak anda mengetahui nama karya seni teater tersebut, mengetahui ciri-ciri karya tersebut, dan memahami berbagai hal yang bersangkutan dengan karya tersebut. Karya seni teater yang tersebar di Nusantara ini dapat dikelompokkan menjadi dua jenis, yaitu seni teater tradisional dan seni teater nontradisional. Untuk lebih memahami tentang hal tersebut, mari kita pelajari uraian berikut dengan saksama.

a.  Pengertian Karya Seni Teater Nusantara

Karya seni teater Nusantara dapat diartikan sebagai seni teater yang tumbuh subur di daerah-daerah seluruh Nusantara. Seni teater Nusantara tumbuh seiring dengan tingkat perkembangan masyarakat di daerah setempat yang memiliki berbagai corak dan keunikan yang khas. Karena teater daerah memiliki peran yang sangat berarti dalam perkembangan seni teater Nusantara, sudah sewajarnya kita harus benar-benar menunjukkan sikap apresiatif terhadap seni teater daerah. Mengapa dikatakan demikian? Karena seni teater daerah merupakan bagian yang tidak akan terpisahkan dari teater Nusantara. Apabila kita buat klasifikasi secara umum, seni teater Nusantara melingkupi teater daerah (tradisional) dan teater nontradisional. Sebenarnya perbedaan di antara keduanya terdapat pada bentuk keterikatannya. Jika teater tradisional masih terikat pada aturan tradisi daerah masing-masing, teater nontradisional sudah melepaskan diri dari ikatan tersebut. Apa saja bentuk keterikatan teater tradisional terhadap tradisi tersebut? Bentuk keterikatan tersebut dapat kita lihat dalam hal kostum, panggung, jalinan lakon, dan jumlah pemainnya.

b.  Ragam Pertunjukan Seni Teater Nusantara

Seni teater Nusantara berasal dari teater daerah tradisional dan nontradisional, seni teater Nusantara pasti sangat beragam. Keberagaman tersebut dapat kita jumpai di berbagai pelosok daerah di seluruh Nusantara. Kebergaman ini bukan menjadi sebuah perbedaan yang akan memecah bangsa ini, justru keberagaman inilah yang akan menjadi perekat kebudayaan sehingga bangsa ini akan tetap bersatu dalam keberagaman. Apa saja pertunjukan seni teater Nusantara itu? Berikut ini akan dipaparkan berbagai seni pertunjukan seni teater, baik yang tradisional maupun nontradisional.

1)   Seni Teater Tradisional

Ø  Randai

Istilah Randai ini berasal dari daerah Minang-kabau. Randai merupakan salah satu jenis teater yang dilakukan dalam sebuah arena. Arena bermainnya seperti lingkaran. Posisi penonton dalam menyaksikan pertunjukan ini pun meling-kar. Begitu juga dengan pemainnya yang menyuguhkan berbagai gerak gelombang (gerak tari dengan pola pencak silat tradisional daerah Minangkabau) yang berformasi lingkaran. Seluruh adegan dalam pertunjukan ini disajikan dalam arena yang melingkar.

Ø  Wayang Orang

 Sebuah keberagaman, itulah yang menjadi ciri khas teater Nusantara. Inilah seni teater tradisional yang berasal dari daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Wayang orang disajikan dalam bentuk tarian. Pementasan wayang orang ini bisanya mengambil kisah Mahabarata dan Ramayana.

Ø  Ketoprak

Meskipun berasal dari daerah yang sama dengan wayang orang, yakni Jawa Tengah dan Yogyakarta, seni pertunjukan ketoprak ini memiliki ciri khas tersendiri. Ketoprak terdiri atas beberapa unsur, yaitu gamelan, dialog, kostum, panggung, gerak atau tarian, dan lakon atau sastra. Ketoprak dipertunjukkan dengan mengambil berbagai kisah dari cerita rakyat atau legenda dan Babad Tanah Jawi. Cerita Babad Tanah Jawi biasanya menceritakan kisah raja-raja Jawa dari zaman Hindu-Buddha sampai zaman Islam. Karena banyak me«icerita-kan kehidupan raja masa lampau, setting yang digunakan dalam seni pertunjukan ketoprak pun berlatar belakang kerajaan Jawa.

Ø  Topeng Banjet

Seni pertunjukan ini berasal dari daerah Jawa Barat, khususnya Kabupaten Kerawang. Unsur pokok seni pertunjukan ini adalah pelawak yang bermain komedi ringan. Selain-unsur tersebut, seni topeng banjet ini memiliki unsur artistik yang memesona yaitu penampilan tarian dan nyanyian.

Ø  Mamanda

Mamanda  Kalimantan Selatan memiliki seni pertunjukan yang sangat unik. Keunikan seni Mamanda ini terletak dalam gemerlapnya busana para pemainnya dan suguhan peratatan permainan yang    sugestif. Biasanya, alat musik yang digunakan adalah gendang dan biola. Seni pertunjukan ini bisa disejajarkan dengan ketoprak karena mengambil kisah tentang kerajaan ataupun kehidupan rakyat biasa.

2)  Seni Teater Nontradisional

Seiring dengan perkembangan zaman yang terus mengalami kemajuan, pemikiran terhadap cara mengapresiasi karya seni, khususnya seni teater, terus mengalami perkembangan. Seni teater nontradisional merupakan bentuk perkembangan atau pembaharuan dari teater tradisional. Seperti halnya teater tradisional, teater nontradisional pun banyak menyampaikan nilai-nilai moralitas.

c.  Analisis symbol dalam teater


Pada saat menganalisis symbol teater ada beberapa symbol yaitu visual, verbal, dan auditif

1)       Symbol visual

Adalah symbol yang Nampak dari  penglihatan penonton meliputi seluruh wujud bentuk dan warna termasuk tubuh para pemain

2)       Symbol verbal

Adalah symbol yang diungkapkan melalui kata –kata baik oleh para pemain, narrator maupun dalang. Kata kata para pemain baik melalui dialog maupun monolog, ataupun narasi yang dibacakan narrator maupun dalang adalah symbol.

3)       Symbol auditif

Adalah symbol yang berbunyi atau symbol yang ditimbulkan oleh bunyi. Setipa bunyi memiliki arti dan setiap nada senantiasa punya makna dalam pertunjukkan teater

d.       Analisis ragam tehnik pengungkapan gagasan teater

Hasil analisis mengenai ragam tehnik ungkapan simbolik dalam teater antara lain sebagai berikut :

  1. Penggarap menghadirkan benda – benda yang khas dan dapat mewakili sebuah suasana/ tempat
  2. Penggarap juga bisa mewakili dengan cara instan yaitu foto tempat
  3. Suasana bisa terbentuk ditambah pemberian media lain diantaranya system pencahayaan, warna, kostum

e.       Analisis kreasi naskah drama teater

Hasil analisis naskah drama dapat diungkapkan melalui idiom kata, diksi serta gaya bahasa

  1. Gaya bahasa berupa tehnik pengolahan bahasa oleh pengarang dalam upaya menghasilkan karya sastra yang hidup dan indah. Pengolahan bahasa harus di dukung oleh diksi (pemilihan kata) yang tepat
  2. Diksi (pemilihan kata) berupa pemilihan kata kebahasaan . kata – kata dalam drama harus dipilih sedemikian rupa sehingga terungkap semua gagasan dan perasaan pengarang serta mudah diterima oleh penonton atau pendengar
  3. Idiom berupa gabungan kata yang memiliki makna bukan makna dari unsur kata – kata pembentuknya. Artinya ungkapan memiliki makna baru setelah dua kata atau lebih menyatu. Idiom dapat dibentuk dari gabungan kata yangdapat digunakan sebagai penggambaran makna yang ingin diungkapkan.

Friday, January 22, 2021

SENI TEATER MANCANEGARA

MENGAPRESIASI SENI TEATER MANCANEGARA

1. Apresiasi Teater Mancanegara (Eropa)

a. Teater Yunani Klasik

Teater pertama mulai muncul dari zaman Yunani Klasik, saat itu tempat pertunjukan teater Yunani pertama yang permanen dibangun sekitar 2.300 tahun yang lalu. Teater ini dibangun tanpa atap dalam bentuk setengah lingkaran dengan tempat duduk penonton melengkung dan berundak undak yang disebut Amphitheater.

Teater yang berasal dari Yunani ini banyak mengambil cerita mengenai cerita Yunani Kuno, yang mana cerita tersebut mengulas atau menceritakan kembali tentang penyembahan atau pemujaan pada dewa.Selain itu, teater Yunani kini berkembang luas menuju perkembangan kehidupan kultural (percampuran dua budaya) dan hal ini juga merupakan titik tolok serta penunjang munculnya sejarah teater Barat seperti yang sudah berkembang pesat hingga saat ini.Tempat pementasan untuk menampilkan teater Yunani ini berbentuk melingkar juga tidak ada batasan antara pemain dan penonton.

b. Teater Romawi Klasik

Pertunjukan zaman Romawi Klasik, dimana setelah tahun 200 sebelum Masehi kegiatan seni teater menyebar dari Yunani ke wilayah Romawi. Hasil apresiasi terhadap karya seni teater masa Romawi Klasik, sebagai berikut.

  1. Tema berkisar pada masalah hidup kesenjangan golongan menengah.
  2. Karakteristik tokoh tergantung kelas, yaitu orang tua yang bermasalah dengan anak anaknya atau kekayaan, anak muda yang melawan kekuasaan orang tua dan lain sebagainya.
  3. Seluruh adegan terjadi dirumah, dijalan, dan di halaman.

Mendengar jenis teaternya saja pasti kita langsung dapat mengetahui bahwa teater Romawi berasal dari Romawi. Namun lain halnya dengan teater Yunani, teater Romawi ini memiliki ciri khas yang jika dibandingkan dengan teater Yunani. Teater Romawi ini bukan merupakan peristiwa religi melainkan lebih mengedepankan menghibur para penonton, di teater Romawi juga disediakan berbagai pesulap serta badut-badut yang mengadakan pertunjukkan ini ke seluruh daerah sehingga pertunjukkan ini kadang membutuhkan tempat khusus untuk melakukan aksinya.

Bangunan gedung untuk pertunjukkannya lebih besar dan mewah dibandingkan teater Yunani.Dan sebagian besar dari Orchestra (tempat bermain) digunakan untuk ruang penonton, sedangkan lakon dimainkan di tempat yang merupakan kesatuan dengan latar belakang.

c. Teater Abad Pertengahan

Teater Abad Pertengahan itu berlangsung pada tahun 1.400-an dan 1500-an, banyak kota di Eropa mementaskan drama untuk merayakan hari hari umat Kristen.

Untuk teater Abad Pertengahan ini, penonton diharuskan berdiri pada tiga per-empat lingkaran sekitar pentas yang biasanya ditempatkan di atas kereta. Para pemain pun bermain di depan tirai dan berganti pakaian di belakangnya. Selain itu, teater ini memiliki keunikan yaitu dapat dibongkar pasang, berbeda dengan teater Yunani maupun teater Romawi yang menggunakan gedung untuk pertunjukkannya.Karena dapat dibongkar pasang maka teater ini juga bisa dibawa mengembara dari satu kota ke kota yang lain serta bisa disesuaikan dengan lakon yang akan dimainkan. Konstruksi sangat primitif (teater kereta) dan dapat dijadikan lebih besar serta mewah apabila dilakukan secara bersaman(teater simultan).

d. Renaisans

Renaisans itu masa pencerahan manusia sudah berpikir menurut ilmu pengetahuan dan logika sebagai pemberontakan ajaran gereja yang salah. Hasil terhadap seni teater masa Renaisans, sbg berikut:

  1. Naskah lakon yang di pertunjukan meniru teater zaman Yunani Klasik.
  2. Cerita bertema Mittologi atau kehidupan sehari-hari.
  3. Tata busana dan setting yang dipergunakan sangat inovatif.
  4. Pelaksanaan bentuk teater diatur oleh kerajaan maupun universitas sehingga moral pengetahuan perspektif dan Fagade Roma.
  5. Menggunakan panggung prosenium, yaitu bentuk panggung yang memisahkan area panggung dengan penonton.

e. Teater Zaman Elizabeth

Ratu Elizabeth I waktu itu saat memerintah memajukan seni teater, gedung teater besar dari kayu dibangun di London, Inggris. Gedung ini dibangun seperti lingkaran sehingga penonton bis duduk dihampir seluruh sisi panggung. Gedung teater ini sangat sukses sehingga banyak gedung sejenis dibangun disekitarnya. Salah satunya disebut Goble, gedung teater ini bisa menampung 3000 penonton. Hasil apresiasi terhadap pada teater zaman Elizabeth, sbg berikut.

  1. Menggunakan naskah lakon.
  2. Corak pertunjukkannya merupakan perpaduan antara tater keliling dengan teater sekolah dengan akademi yang keklasik-klasikkan.
  3. Pertunjukkan dilaksanakan siang hari dan tidak mengenal waktu istirahat
  4. Tempat adegan ditandai dengan ucapan dengan disampaikan dalam dialog para tokoh
  5. Tokoh wanita dimainkan oleh pemain anak-anak laki-laki. Bukan pemain wanita
  6. Penontonnya berbagi lapisan masyarakat dan diramaikan oleh penjual makanan dan minuman.

f. Teater Abad ke-17 di Spanyol dan Prancis

Pada abad ke-17teater sangat berkembang di kerajaan Spanyol dan Prancis. Hasil apresiasi terhadap tater abadke-17 di Spanyol dan Prancis, sbg berikut.

  1. Tokoh-tokoh dalam cerita adalah tokoh simbolik, misalnya si Dosa, si Bijaksana dipertemukan dengan tokoh supranatural dan manusia biasa dengan cerita berdasarkan kehidupan sekuler maupun ajaran-ajaran gereja.
  2. Dipertunjukkan diatas kereta kuda (dua tingkat) yang dinamai Caros. Kereta-kereta kuda tadi juga membawa setting.
  3. Pertunjukan dilakukan rombongan profesional yang selalu berhubungan dengan gereja.
  4. Pertunjukannya selalu diselingi tarian dan interlude farce pendek.

g. Teater Restorasi di Inggris

Zaman Restorasi merupakan zaman kebangkitan kembali kegiatan teater di Inggris setelah tahun Puritan yang berkuasa menutup kegiatan teater. Hasil apresiasi seni teater pada Zaman Restorasi, sbg berikut.

  1. Pertunjukkan diselenggarakan di gedung Prosenium diperluas dengan menambah area yang disebut apron. Sehingga terjadi komunikasi yang intim antara pemain dan penonton.
  2. Setting panggung bergambar perspektif dan lebih bercorak umum, misalnya taman / istana.
  3. Tema cerita bersifat umum dan penonton sudah mengenalnya.
  4. Penontonnya tidak lagi semua lapisan masyarakat, tetapi hanya kaum menengah dan kaum atasan.
  5. Gedung teater mencontoh gaya Italia.

h. Teater Abad ke-18

Teater Abad ke-18, dimana pada abad ke-18 teater di Prancis dimonopoli oleh pemerintah dengan Comedie Franchise-nya. Secara tetap mereka mementaskan komedi dan tragedi, sedangkan bentuk Opera, drama pendek dan Burlesque dipentaskan oleh rombongan teater Italia, yaitu Comedie Italiene yang biasanya mementaskan di pasar pasar malam. Sampai akhir abad XVII Prancis menjadi pusat kebudayaan Eropa. Drama Prancis yang neoklasik menjadi model di seluruh Eropa.

i. Teater awal abad ke-19

Drama romantik berkembang pada awal abad ke-19, yaitu antara tahun 1800-1850 karena memudarnya gagasan neoklasik dan terjadinya peristiwa revolusi Prancis. Hasil apresiasi terhadap Pertunjukkan teater romantik, diantaranya sbg berikut.

  1. Inti cerita adalah masalah kebebasan
  2. Membawakan cerita kesejarahan yang memuat adegan perang, pemberontakan, pembakaran istana, perang tanding dan sebagainya.
  3. Panggung dihiasi dengan gambar gambar yang sangat indah
  4. Setting perspektif diganti dengan lukisan untuk layar sayap panggung dan sayap belakang.
  5. Menggunakan naskah dengan struktur yang bersifat longgar dengan karakter tokoh yang berubah-ubah di setiap episode.
  6. Plot cerita memiliki episodenya sendiri (plot episodik)

j. Teater Abad ke-19 dan Realisme

Banyak perubahan terjadi di Eropa pada abad ke-19 karena Revolusi Industri. Orang orang berkelas pindah ke kota dan teater pun mulsai berubah. Bentuk bentuk baru teater diciptakan untuk pekerja industri. Diiringi dengan perkembangan teknologi yang dapat digunakan untuk mendukung artistik pentas, muncul aliran realisme yang menjadi primadona di dunia barat. Seni teater yang menghadirkan cerita teater secara singkat atau pendek dari kenyataan hidup diatas pentas begitu menghibur penggemarnya. Para penonton dibuat terhanyut dan larut dalam cerita cerita yang dimainkan. Pesona semacam ini membuat realisme begitu berpengaruh dalam waktu yang cukup lama.

k. Teater Abad ke-20

Gedung gedung pertunjukan modern memiliki efek efek khusus dan teknologi baru. Orang datang ke gedung pertunjukan tidak hanya untuk menyaksikan teater melainkan untuk menikmati musik, hiburan, pendidikan, dan mempelajari hal hal baru. Rancangan rancangan panggung termasuk pengatur panggung arena, atau yang disebut teater ditengah tengah gedung. Cara mengekspresikan karakter dalam pertunjukan dapat melalui musik, dekorasi, tata cahaya, dan efek elektronik. Gaya gaya Pertunjukkan realistis dan eksperimental ditemukan dalam teater Amerika.


2. Apresiasi Teater Mancanegara ( Asia )

a.       Teater Tradisional Mancanegara Asia

1)      Teater Tradisional Tiongkok

Salah satu teater tradisional tiongkok yang terkenal didunia bernama

Opera peking. Didalam opera peking ini diadakan penggabungan musik,tari nyanyian,pantomim, dan akrobat. Tontonan opera ini muncul pada akhir abad ke18 dan mulai popular di Tiongkok pada pertengahan abad ke 19. Tata riasdan tata busananya penuh warna dan sangat unik gerakan gerakan penarinya cenderung bersifat simbolik dan sugestik. Lakon opera peking diambil dari sejarah tingongkok,legenda,cerita rakyat dan cerita cerita kekinian. Dalam perjalanan sejarahnya, opera peking, terus mengalami perubahan hingga pada bentuk nya yang sekarang opera peking merupakan perpaduan dari banyak bentuk kesenian di tiongkok. Seperti juga teater tradisional di Indonesia, opera peking pada awal nya hanya di mainkan oleh pemain laki laki. Pada taun 1984 di sanghay baru lah perempuan diperkenalkan main. Selain di tiongkok, opera peking juga berkembang di negara lain taiwan.

2)      Teater tradisional jepang

Salah satu seni teater jepang yang bernama kabuki. Seperti juga teater tradisional tiongkok, tata rias dan tata busana kabuki juga sangat rumit. Bentuk tontonan nya berupa musik,nyanyian,tarian. Berikut hasih apresiasi terhadap seni teater kabuki.

  1. Memakai tata rias atau make up
  2. Semua pemainnya terdiri dari pria (walaupun ada tokoh wanita, tetapi yang memainkannya adalah pria).
  3. Banyak disukai kaum golongan bawah, dikarenakan banyak atraksinya.

3)      Teater Tradisional India

Dalam teater tradisional India didominasi oleh nyanyian dan tarian, yang merupakan suatu kesatuan yang saling melengkapi. Sementara, alur cerita dan struktur lakon mengikuti alur dan struktur dari kisah mahabarata dan ramayana dengan tema cinta dan kepahlawanan.

4)      Teater Tradisional  Korea

Di dalam teater tradisional korea, terdapat pemain sandiwara sebagai pusat yang menyampaikan dialog serta nyanyi menjadi cerita yang utuh. Disisi lain pemain, pemain lain menambahkan seperti penggambaran suasana hati juga irama sesuai cerita serta dengan pukulan drum juga kata-kata yang disebut dengan chuimsae.

b.      Teater Modern Mancanegara Asia

Karya seni teater modern dimancanegara adalah karya seni teater yang tidak lagi terikat aturan kedaerahan. Karya seni teater tersebut telah dimodernisasi denagn kreativitas para seniman tanpa mengindahkan aturan kedaerahan.

1)      Teater Modern di Malaysia

Teater Malaysia berjudul "angin kering" karya datuk Johan Jaaffar yang menggabungkan persatuan kreatif budaya anak seni ( KUBAS) dan persatuan penggerak warisan budaya (AKRAB)

Selain angin kering ada teater lainnya antara lain

  • Kerusi ( Dr. Hatta Azan Khan) yang dipentaskan olehkelompok Seni Teaterer dan persembahan anak Kolej PTPL
  • Terdampar (Slawomir Mrozek) yang dipersembahkan oleh Sanggar Creative Production (Serawak)

2)      Teater modern di Jepang

Teater ini dimulai awal abad ke-20  ( 1910) dengan konsep shingeki percobaan gaya teater barat dengan mengambil gaya naturalistik dan tema-tema kontomporer yang kontras dengan kabuki.

Pada periode berikutnya muncul fenomena pertumbuhan dalam drama kreasi baru yang memperkenalkan konsep estetik dan merevolusi teater modern ortodoks.

Contoh teater modern Jepang adalah Opera Pinokio ( pernah dipentarskan oleh kelompok teater Jepang konnyakuza ditaman ismail marzuki, Jakarta pada tanggal 16-17 Maret 2007).

3)      Teater Modern di Korea

Setelah korea membuka pintu terhadap negara asing pada abad ke-19, muncul teater modern yang pertama pada tahun 1902 "hyopyul-sa" korea mendapat istilah" permainan baru" untuk drama barat pada waktu itu.

Featured Post

Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPKI

  Dinamika Perumusan Pancasila dalam Sidang BPUPKI Indonesia Menjelang Kemerdekaan Pada awal tahun 1945, keadaan Perang Dunia II mulai berub...