KERAGAMAN MUSIK TRADISI NUSANTARA
A. MUSIK TRADISIONAL /DAERAH
Adalah
musik yang merupakan kebudayaan (tradisi) dan lahir dari budaya daerah
setempat secara turun-menurun, yang ada pada suatu masyarakat tertentu.
Musik ini ada yang tetap dilestarikan oleh masyarakat setempat, namun
adapula yang hilang oleh pergeseran zaman. Ciri-ciri yang menonjol
adalah unsur kedaerahan dan kesederhanaan.
B. MUSIK NUSANTARA
Adalah
musik daerah (musik tradisional) yang ada di Indonesia yang merupakan
kekayaan budaya Indonesia yang sangat bernilai harganya, dan tidak kalah
dengan musik tradisional di negara lain. Namun musik ini perlahan-lahan
mulai tenggelam atau hilang dengan adanya pengaruh budaya musik barat.
Perkembangannya sebenarnya cukup pesat namun terjadi pergeseran dari
tangga nada pentatonis menjadi diatonis.
Jenis-jenis musik daerah :
1. Musik Daerah Jawa Tengah
Musik
daerah yang ada adalah musik gamelan. Macam laras (tangga nada) yang
digunakan yaitu gamelan berlaras pelog dan berlaras slendro. Nama-nama
gamelan yang ada misalnya ; gamelan kodok ngorek, gamelan munggang,
gamelan sekaten, dan gamelan gede.
Kini
gamelan dipergunakan untuk mengiringi bermacam acara, seperti ;
mengiringi pagelaran wayang kulit, wayang orang, ketoprak, tari-tarian,
upacara sekaten, perkawinan, khitanan, keagaman, dan bahkan kenegaraan.
Musik Daerah Jakarta ( Betawi )
a. Gambang Kromong
Adalah
sejenis orkes yang memadukan gamelan dengan alat musik umum (barat)
misalnya alat tiup dan alat gesek . Tangga nada yang digunakan
pentatonis Cina. Instrumennya; gong, gendang suling, bonang, kecrek, dan
rebab sebagai melodi. Dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan
perempuan. Lagunya berbentuk pantun.
b. Tanjidor
Adalah
kesenian tradisional khas Betawi (Jakarta). Ciri khasnya pada
macam-macam alat musik tiup dari kuningan (trompet dll) dan dilengkapi
genderang besar (bas drum) sperti pada drum band. Semua personilnya
bermain sambil berdiri.
3. Musik Daerah Jawa Barat
a. Gamelan Degung
adalah
seperangkat alat musik /gamelan yang mempunyai ciri tertentu dalam
warna musiknya. Instrumen yang digunakan; bonang, rincik, saron,
jengglong, suling, kecapi, dan rebab. Tangga nada digunakan adalah
pentatonis (pelog dan slendro).
Pada
awalnya musik ini untuk acara keagamaan, tetapi sekarang digunakan
untuk mengiringi sendratari, mengiringi gending karesmen (nyanyian
resmi), dan sarana hiburan. Keberadaannya telah di kenal sejak zaman
Pakuan Pajajaran.
b. Calung
Adalah
seperangkat alat musik terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara
dipukul. Tanga nada yang digunakan mulanya pentatonis slendro yang
kemudian dikembangkan menjadi laras pelog.
Menurut
sejarahnya berasal dari alat yang digunakan untuk menghalau burung di
sawah yang terbuat dari belahan bambu yang disebut kekeprak. Kekeprak
ini digunakan untuk menakuti sero (binatang pemakan ikan peliharaan di
kolam atau sawah). Kekeprak ini dibunyikan dengan cara digerakkan dengan
air yang jatuh dari pancuran. Alat tersebut berkembang menjadi calung
dan sekarang terdiri dari bentuk dan nama berbeda seperti calung
gambang, calung gamelan, dan calung jinjing.
c. Angklung
Adalah
seperangkat alat musik terbuat dari bambu dan dimainkan dengan cara
dikocok. Dulu menggunakan tangga nada pentatonis dan sekarang
menggunakan diatonis. Menurut sejarahnya angklung digunakan untuk
memeriahkan pesta padi disawah.Tokoh musik angklung yaitu Daeng Sutisna.
d. Tarling
Berasal
dari Cirebon yang ambil dari singkatan gitar dan suling, yakni alat
yang mendominasi pada jenis musik ini. Semula alatnya adalah gamelan
bambu lalu meningkat pada kecapi kemudian gamelan yang terbuat dari besi
atau perunggu, kemudian setelah dikenal gitar maka digunakan untuk
menggantikan kecapi. Tokohnya antara lain ; Jon Jayana, H. Abdul Ajid
dan Uun S.
e. Arumba
Adalah
singkatan dari alunan rumpun bambu. Prinsipnya hampir sama dengan
angklung hanya dilengkapi dengan susunan bambu mirip gambang/saron yang
dibunyikan dengan cara dipukul. Tokohnya antara lain ; Yos Rosadi,
Rahmat, Bill Saragih dan Sukardi.
f. Gending Cianjuran
Adalah
jenis musik yang menonjolkan vokal khas Cianjur. Vokal/nyanyian
diiringi dengan kecapi, suling dan rebab. Musik ini digunakan sebagai
sarana hiburan para bangsawan Sunda.
g. Klenengan
Adalah
suatu pertunjukkan atau permainan gamelan yang menggunakan vokal atau
nyanyian. Gamelan ini dilengkapi dengan seperangkat gendang yang
berfungsi untuk mengiringi tarian klasik maupun modern.
h. Celempungan
Adalah
jenis musik yang mengutamakan vokal/nyanyian atau gending. Instrumennya
terdiri atas kecapi, rebab, dan celempungan (bambu besar yang diberi
dawai). Kini celempungan telah diganti dengan perangkat gendang dan
gong.
4. Musik Daerah Jawa Timur dan Madura
Musik
tradisional Jawa Timur hampir sama dengan musik gamelan Jawa Tengah. Di
Madura musik gamelan yang ada disebut Gamelan Sandur.
5. Musik Daerah Bali
Musik
daerah Bali tidak jauh berbeda dengan musik gamelan Jawa Tengah namun
resonator lebih tinggi. Perbedaan yang menonjol adalah cara
memainkannya, yakni gamelan Bali lebih hidup, iramanya cepat dan lebih
dominan suara saron (peking) dan demungnya. Tangga nada yang digunakan
adalah tangganada pentatonis.
6. Musik Daerah Bima dan Sumba (NTB)
a. Musik Daerah Bima
Musik
daerah ini banyak dipengaruhi musik Jawa. Jenis instrumennya antara
lain; garpu tala bambu, silu (hobo), muri (klarinet dari daun), genggong
(jewharp), sarone (suling bambu memakai ban), dan idiokardo 4 dawai.
b. Musik Daerah Sumba
Musik
yang khas adalah nyanyian-nyanyian wanita. Intrumennya tidak ada yang
khas, hanya namanya berubah misalnya : jungga (musik tiup), lamba (
gendang satu kulit ), katala ( gong ) dan suling hidung.
7. Musik Daerah Aceh
Musik
daerah ini jelas sekali pengaruh dari musik Islami yang masuk dalam
nyanyian-nyayiannya. Instrumennya terdiri atas ; canangtring, rebana,
gambus, marwas, hareubab, gedumba ( gendang ), dan bangsi atau serimai (
suling ).
8. Musik Daerah Riau
a. Musik Gambus
Musik
ini erat sekali hubungannya dengan agama Islam. Instrumen yang
digunakan adalah gambus, rebana/marwas, dan biola. Tema lagu umumnya
bertema keagamaan dan persoalan cinta.
b. Orkes Melayu
Adalah
orkes yang membawakan lagu-lagu melayu asli. Instrumen yang digunakan :
akordeon, 4 buah gendang melayu, dan sebuah gong kecil. Orkes ini
merupakan cikal bakal musik melayu yang kita kenal sekarang sebagi musik
dangdut.
9. Musik Daerah Nias
Musik
Nias yang asli menggunakan 3 atau 4 nada dalam satu oktav. Jenis ini
sekarang sukar sekali ditemukan. Instrumen yang digunakan ; gong besar,
faritia/saraina (gong kecil), sigu mbawa dan surune mbawa (suling),
Druridana (garputala bambu), tamburu, gendera, cucu, fodrahi, dan
taburana (gendang yang panjangnya 3 meter dengan 2 kulit), Koko (semacam
celempung/kecapi), Lagiya (rebab).
Musik Nias tidak untuk diperdengarkan tetapi untuk mengiringi cerita-cerita untuk mendatangkan roh-roh gaib.
10. Musik Daerah Batak (Sumatera Utara)
Musik
daerah ini banyak dipengaruhi musik gereja yang dikenal dengan sebutan
musik tataganing atau musik gondang. Tangga nada yang digunakan adalah
diatonis yang sudah harmonis.
Instumen
yang digunakan antara lain ; gerantung (semacam gambang),
tangetong/nungneng (sumber bunyinya tali/dawai tapi dimainkan dengan
dipukulkan pada suatu benda), salodap, salonat, sordam, tarafait
(sejenis suling), tatagoning/gondang (satu stel gendang), gong
(didatangkan dari Semarang), arbab, hasapi, hapetan, dan kulcapi dengan 2
dawai yang dapat di stem.
11. Musik Daerah Minangkabau (Sumatera Barat)
Musik
yang terkenal adalah talempong. Instrumennya menggunakan alat musik
daerah itu sendiri ditambah dengan alat-alat musik barat, antara lain :
alat musik tiup (saluang, bansi, serunai, puput batang padi, puput
tanduk dan suliang), alat musik perkusi (gendang dol/gendang besar,
ketipung, rebana, gandang sedang, talempong, dan gong/canang)
12. Musik Daerah Kalimantan
Musik
daerah Kalimantan pesisir banyak mendapat pengaruh dari daerah-daerah,
seperti daerah Banjarmasin dan suku Dayak. Di Daerah Banjar masih
terdapat orkes karawitan khas Banjar. Instrumen yang digunakan terdiri ;
rebab, gender, gambang, dan suling ( diagonal ).
Suku
Dayak mempunyai musik khas tersendiri dengan instrumen yang terdiri
atas ; kledi/keruri/kedire (suling), kasapi/sampek (semacam lute yang
dipetik), tawak ( gong ), gendang besar dan kecil.
13. Musik Daerah Minahasa
Musik
khas daerah ini adalah Kulintang yaitu semacam gambang yang terbuat
dari bilahan kayu dan satu perangkat terdiri dari atas 7 kulintang.
Tangga nada yang digunakan adalah diatonis. Instrumennya antara lain ;
suling, gambus dan marwas/rebana.
Lagu-lagu yang dibawakan dalm koor bersuara 4 atau lebih dalam gaya primitif polyphone terutama dalam acara panen.
14. Musik Daerah Sulawesi Selatan
Di
daerah ini terdapat dua jenis musik musik Makasar (Ujung Pandang)
disebut genrang bulo yaitu diambil dari nama gendang tanpa kulit
(membran) yang cara memainkannya yaitu dengan dipukul-pukulkan pada
suatu benda. Musik Bugis disebut Idiokardo
Instrumen yang melengkapi kedua jenis musik di atas, yaitu ;
Alat musik tiup terdiri atas puwi-puwi (hobo), basing bugis (suling kembang) dan basing-basing (klarinet).
15. Musik Daerah Sangihe-Talaud (Sulawesi Utara)
Musik
daerah ini sangat dipengaruhi kuat oleh agama kristen. Instrumennya
terdiri atas garpu tala bambu, bansi (suling bambu), tegogong (gendang
satu kulit), salude (semacam dengan dua dawai) dan arababu (semacam
rebab).
16. Musik Daerah Maluku
Musik
di daerah Maluku, alat-alat yang asli sudah hilang. Instrumen musiknya
diseluruh Maluku hampir sama yaitu ; gong (dari Jawa), arababu (rebab)
dengan resonator dari tempurung, idiokordo yang disebut tatabuhan, korno
(alat musik tiup) yang terbuat dari siput dan disebut fuk-fuk,
bermacam-macam gendang yang disebut tifa.
Untuk
daerah–daerah Islam seperti Halmahera, Bacan, Ternate, dan Tidore
dengan sendirinya memiliki alat-alat musik Islam seperti gambus, rebana,
bangsil (suling) dan sulepe (alat musik yang sumber bunyinya dari
tali/dawai tapi resonatornya dari tempurung)
Daerah
Ambon memiliki klesipan (semacam gambang dari kayu yang terdiri atas
10-16 bilahan yang disebut tetabuhan kayu), dan bonang yang disebut gong
sembilan/gong dua belas. Yang paling khas adalah orkes suling bambu
dengan ambitus (luas suara) dari bass sampai sopran.
17. Musik Daerah Irian Jaya (Papua)
Musiknya
mendapat pengaruh dari Maluku. Instrumennya tidak begitu banyak hanya
satu yang menarik, yakni Genderang (dihiasi pahatan dengan pewarnaan
yang artistik dan kulitnya dari biawak ). Alat musik lainnya seperti
rebana, rebab, tifa, dan gong (kiriman dari Maluku).
Instrumen
yang ada di Papua digunakan untuk keperluan praktis, misalnya Sekakas,
yang digunakan untuk menarik ikan-ikan hiu. Sekakas bisa mengeluarkan
bunyi gemeretakan kalau dipegang setengah didalam laut dan setengahnya
lagi di udara.
18. Musik Daerah Timor ( NTT )
Instrumen
musik yang khas adalah sasando, yaitu sebuah siter dari bambu yang
terdiri atas 36 dawai yang terbuat dari logam. Resonatornya terbuat dari
daun palm yang dirangkai dalam bentuk mangkok yang meliputi siter itu.
Selain sasando adalah dadako yaitu alat musik yang sumber bunyinya dari
tali/dawai yang cara memainkannya dipukulkan pada suatu benda. Instrumen
lainya adalah bobi /foe/semaku (suling), hilu/puwi-puwi/kabarung
(suling yang memakai ban), bibililu tihar (gendang satu kulit) dan gong
kecil-kecil.
C. SEJARAH PERKEMBANGAN MUSIK DAERAH
1. Sejarah Perkembangan Musik Daerah (Jawa)
Pemunculan
musik daerah sangat beragam sesuai dengan keragaman budaya setempat
yang dipengaruhi adat istiadat, pandangan hidup, dan sistem religi serta
sistem sosial sehingga membentuk warna dan karakteristik tersendiri.
Dalam
musik gamelan Jawa merupakan manifestasi atau perwujudan dari tata
kehidupan orang Jawa, yang secara filosofis tercermin dari mitologi
sejarah kelahiran musik Jawa itu sendiri yang merupakan salah satu
bentuk musik yang di gunakan sebagai media mengungkapkan atau
mengekspresikan isi jiwa orang Jawa.
Menurut
sejarahnya gamelan Jawa lahir seiring dengan datangnya para imigram
yang membawa kepercayaan Hindu ke Indonesia. Pujangga Ronggowarsito
dalam bukunya Pustaka Raja Purwa, menyebutkan bahwa gamelan jawa
terdapat di Indonesia sekitar tahun 326 ¢aka (404 Masehi). Menurut
kepercayaan Hindu, gamelan diciptakan oleh Batara Indra atas perintah
Hyang Giri Nata yang diberikan Raja Karna dari negeri Purwacarita.
Tugas : Carilah sejarah perkembangan musik daerah lainnya.
2. Keunikan Alat Musik Tradisi (Jawa)
Gamelan
Jawa terbuat dari logam, kayu, kulit, kawat, dan bambu. Proses
penciptaannya masih sederhana dan mengandalkan pekerjaan tangan
(kerajinan tangan), namun hasil karya tersebut memiliki kualitas yang
dapat di banggakan dan mengandung keunikan tersendiri, baik ditinjau
dari sudut bentuk fisik maupun tone suara yang dihasilkan oleh instrumen
tersebut. Warna suara tiap-tiap instrumen berbeda-beda namun jika
ditabuh berbarengan dengan nada teratur dapat menghasilkan alunan suara
yang mampu menghanyutkan hati bagi orang yang mendengarkannya.
Gamelan
Jawa sekarang sudah terkenal, dicari bahkan di pelajari oleh negara
lain seperti di Amerika serta negara lainnya dan dipajang di loby
hotel-hotel bahkan menjadi materi wajib di perguruan tinggi manca
negara. Banyak bermunculan group-group orkestra gamelan seperti di
Amerika dan negara lainnya. Namun sungguh ironis kita yang asli orang
Indonesia (Jawa) tidak megetahui dan tidak dapat memainkannya.
3. Tokoh-tokoh Seni Musik Daerah
Hampir setiap daerah memiliki tokoh dan seniman musik daerah diantaranya adalah sebagai berikut :
Raden
Machyar Koesoemadinata (Jawa Barat). Jasanya memberi nama (lambang)
nada-nada alat musik tradisional Sunda berupa da, mi, na, ti, la
sehingga memungkinkan musik Sunda dapat dikemnangkan dan dipelajari
daerah lain.
Koko
Koeswara/ Mang Koko (Jawa Barat) da, mi, na, ti, la, da untuk tangga
nada pelog dalam tiga nada dasar. Selain itu menciptakan lagu Sunda
diantaranya Sekar Gending.
Daeng
Soetigna (Jawa Barat) . Jasanya telah mengubah tangga nada pentatonis
pada alat musik angklung menjadi diatonis sehingga angklung dikenal oleh
masyarakat Indonesia maupun manca negara.
Ki
Narto Sabdo (Jawa Tengah). Selain dalang juga tokoh seniman musik
gamelan yang banyak menciptakan lagu-lagu dolanan dengan bergai versi
baik Sunda maupun Bali.
Jon
Jayana (Cirebon). Merupakan dedengkot Tarling yang jasanya menambah
gitar dan suling pada tahun 1953 dengan gong lemper. Model tarling
inilah yang berkembang sebagai bentuk kesenian mirip dangdut.
Tugas : Carilah Tokoh-tokoh musik daerah lainnya.
D. FUNGSI MUSIK DAERAH
1. Fungsi Individual
Musik
merupakan atau mengekspresikan gejolak hati, jiwa,perasaan, atau
kegalauan yang terpendam dalam hatinya. Melalui syair lagu misalnya
seniman musik dapat mengkritik/memprotes kondisi lingkungan, rasa cinta
sesama manusia, alam dan Sang Pencipta.
2. Fungsi Sosial
Musik
memiliki peran besar dalam kehidupan manusia, dalam sebuah upacara
adat, upacara kenegaraan, upacara keagamaan, penyambutan tamu, pesta
pernikahan, dan lain-lain.
a) Media Rekreasi atau Hiburan
b) Media Komunikasi
c) Media Pendidikan
d) Media Pemujaan ( Keagamaan)
Nama Alat Musik Tradisional Khas Daerah Adat Budaya Nasional - Kebudayaan Nusantara Indonesia
1. Provinsi DI Aceh / Nanggro Aceh Darussalam / NAD
Alat Musik Tradisional : TT
2. Provinsi Sumatera Utara / Sumut
Alat Musik Tradisional : Aramba, Doli-doli, Druri dana, Faritia, Garantung, Gonrang, Hapetan,
3. Provinsi Sumatera Barat / Sumbar
Alat Musik Tradisional : Saluang, Talempong Pacik
4. Provinsi Riau
Alat Musik Tradisional : TT
5. Provinsi Jambi
Alat Musik Tradisional : TT
6. Provinsi Sumatera Selatan / Sumsel
Alat Musik Tradisional : TT
7. Provinsi Lampung
Alat Musik Tradisional : TT
8. Provinsi Bengkulu
Alat Musik Tradisional : TT
9. Provinsi DKI Jakarta
Alat Musik Tradisional : TT
10. Provinsi Jawa Barat / Jabar
Alat Musik Tradisional : Arumba, Calung, Dod-dog, Gamelan Sunda, Angklung, Rebab, Siter / Celempung
11. Provinsi Jawa Tengah / Jateng
Alat Musik Tradisional : Gamelan Jawa, Siter / Celempung
12. Provinsi DI Yogyakarta / Jogja / Jogjakarta
Alat Musik Tradisional : TT
13. Provinsi Jawa Timur / Jatim
Alat Musik Tradisional : TT
14. Provinsi Bali
Alat Musik Tradisional : Gamelan Bali
15. Provinsi Nusa Tenggara Barat / NTB
Alat Musik Tradisional : Cungklik
16. Provinsi Nusa Tenggara Timur / NTT
Alat Musik Tradisional : Foi Mere, Sasando, Keloko
17. Provinsi Kalimantan Barat / Kalbar
Alat Musik Tradisional : TT
18. Provinsi Kalimantan Tengah / Kalteng
Alat Musik Tradisional : TT
19. Provinsi Kalimantan Selatan / Kalsel
Alat Musik Tradisional : Babun
20. Provinsi Kalimantan Timur / Kaltim
Alat Musik Tradisional : TT
21. Provinsi Sulawesi Utara / Sulut
Alat Musik Tradisional : TT
22. Provinsi Sulawesi Tengah / Sulteng
Alat Musik Tradisional : TT
23. Provinsi Sulawesi Tenggara / Sultra
Alat Musik Tradisional : TT
24. Provinsi Sulawesi Selatan / Sulsel
Alat Musik Tradisional : Alosu, Anak Becing, Basi-Basi, Popondi, Keso-Keso, Lembang
25. Provinsi Maluku
Alat Musik Tradisional : Floit, Nafiri, Totobuang, Tifa
26. Provinsi Irian Jaya / Papua
Alat Musik Tradisional : Atowo, Tifa, Fu
27. Provinsi Timor-Timur / Timtim
Alat Musik Tradisional : TT
Lain-Lain :
- Gerdek berasal dari daerah Dayak Kalimantan
- Kere-kere galang berasal dari daerah Goa
- Kinu berasal dari daerah Pulau Roti
- Kolintang berasal dari daerah Minahasa
- Sampek berasal dari daerah Dayak Kalimantan
- Talindo berasal dari daerah Sulawesi
- Kecapi berasal dari daerah Seluruh Nusantara Umumnya di Jawa
- Kledi berasal dari daerah Kalimantan
- Serunai berasal dari daerah Sumatera
Keterangan Singkatan :
TT = Tidak Tersedia
Keterangan :
Data
ini berdasarkan jaman Indonesia masih 27 propinsi dengan provinsi
terakhir masih timor timur. Timor timur kini sudah terpisah dari NKRI
menjadi negara baru yang berdaulat dengan nama Timor Leste.
Daftar Nama Lagu Daerah Musik Tradisional Khas Budaya Nasional - Kebudayaan Nusantara Indonesia
Lagu Ampar-Ampar Pisang berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Anak Kambing Saya berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Angin Mamiri berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Anju Ahu berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Apuse berasal dari daerah / provinsi Papua
Lagu Ayam Den Lapeh berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Barek Solok berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Batanghari berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Bolelebo berasal dari daerah / provinsi Nusa Tenggara Barat
Lagu Bubuy Bulan berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Bungong Jeumpa berasal dari daerah / provinsi NAD
Lagu Burung Tantina berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Butet berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Cik-Cik Periuk berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Barat
Lagu Cing Cangkeling berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Dago Inang Sarge berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Dayung Palinggam berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Dek Sangke berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Desaku berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Esa Mokan berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Gambang Suling berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Gek Kepriye berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Goro-Gorone berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Gundul Pacul berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Haleleu Ala De Teang berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Fluhatee berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu llir-llir berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Indung-Indung berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Timur
Lagu Injit-Injit Semut berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Jali-Jali berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Jamuran berasal dari daerah / provinsi Jawa Tengah
Lagu Kabile-bile berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Kalayar berasal dari daerah / provinsi Kalimatan Tengah
Lagu Kambanglah Bungo berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Kampung nan Jauh Di Mato berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Ka Parak Tingga berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Keraban Sape berasal dari daerah / provinsi Jawa Timur
Lagu Keroncong Kemayoran berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Kicir-Kicir berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Kole-Kole berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Lalan Belek berasal dari daerah / provinsi Bengkulu
Lagu Lembah Alas berasal dari daerah / provinsi NAD
Lagu Lipang Lipangdang berasal dari daerah / provinsi Lampung
Lagu Lisoi berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Macep-cepetan berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Madedek Magambiri berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Malam Baiko berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Mande-Mande berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Manuk Dadali berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Ma Rencong berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Mejangeran berasal dari daerah / provinsi Baii
Lagu Meriam Tomong berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Meyong-Meyong berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Moree berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Na Sonang Dohita Nadua berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Ngusak Asik berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Nuluya berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Tengah
Lagu 0 Ina Ni Keke berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Ole Sioh berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu 0 Re Re berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Orlen-Orlen berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu 0 Ulate berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Pai Mura Rame berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Pakarena berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Selatan
Lagu Palu Lempong Pupoi berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Tengah
Lagu Panon Hideung berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Paris Barantai berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Peia Tawa-Tawa berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Tenggara
Lagu Pileuleuyan berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Pinang Muda berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Pitik Tukung berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Potong Bebek berasal dari daerah / provinsi NTT
Lagu Putri Ayu berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Rambadia berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Rang Talu berasal dari daerah / provinsi Sumatra Barat
Lagu Rasa Sayang-Sayange berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Ratu Anom berasal dari daerah / provinsi Bali
Lagu Saputanga Bapuncu Ampat berasal dari daerah / provinsi Kalimantan Selatan
Lagu Sarinande berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Selendang Mayang berasal dari daerah / provinsi Jambi
Lagu Sengko-Sengko berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Sepakat Segenap berasal dari daerah / provinsi DI Aceh
Lagu Sinanggar Tulo berasal dari daerah / provinsi Sumatera Utara
Lagu Sing Sing So berasal dari daerah / provinsi Sumatra Utara
Lagu Sinom berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Sipatokahan berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Sitara Tillo berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Soleram berasal dari daerah / provinsi Riau
Lagu Surilang berasal dari daerah / provinsi DKI Jakarta
Lagu Suwe Ora Jamu berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Tahanusangkara berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Utara
Lagu Tanduk Majeng berasal dari daerah / provinsi Jawa Timur
Lagu Tanase berasal dari daerah / provinsi Maluku
Lagu Tari Tanggai berasal dari daerah / provinsi Sumatra Selatan
Lagu Tebe O Nana berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Tekate Dipanah berasal dari daerah / provinsi DI Yogyakarta
Lagu Tokecang berasal dari daerah / provinsi Jawa Barat
Lagu Tondok Kadindangku berasal dari daerah / provinsi Sulawesi Tengah
Lagu Tope Gugu berasal dari daerah / provinsi SulawesiTengah
Lagu Tumpi Wayu berasal dari daerah / provinsi KalimantanTengah
Lagu Tutu Koda berasal dari daerah / provinsi NTB
Lagu Yamko Rambe Yamko berasal dari daerah / provinsi Papua
1. Instrumen Musik Perkusi.
Perkusi
adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik permainannya di
pukul, baik menggunakan tangan maupun stik. Dalam hal ini beberapa
instrumen musik yang tergolong dalam alat musik perkusi adalah Gamelan,
Kendang, Kecapi, Arumba, Talempong, Sampek dan Kolintang, Rebana,
Bedung, Jimbe dan lain sebagainya.
a. Gamelan
adalah alat musik yang terbuat dari bahan logam, gamelan berasal dari
daerah Jawa tengah, Yogyakarta, Jawa Timur juga di Jawa Barat disebut
dengan Degung dan di Bali disebut Gamelan Bali. Satu perangkat gamelan
terdiri dari instrumen saron, demung, gong, kenong, slentem, bonang,
peking, gender dan beberapa instrumen lainnya. Disamping itu gamelan
mempunyai nada pentatonis/pentatonic.
b. Kendang
adalah sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit
hewan (kambing). Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah
Indonesia. Di daerah Jawa Barat kendang mempunyai peranan penting dalam
tarian Jaipong. Di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali kendang
selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi tarian,
wayang dan ketoprak. Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat
di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias. Rebana adalah jenis alat
musik yang biasa di gunakan dalam kesenian yang bernafaskan Islam.
rebana dapat dijumpai hampir di sebagian wilayah Indonesia.
c. Kecapi adalah
alat musik petik yang berasal dari daerh Jawa Barat. Bentuk organologi
kecapi adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/senar,
kotak kayu tersebut berguna sebagai resonatornya. Alat musik yang
menyerupai kecapi adalah siter dari Jawa Tengah.
d. Arumba (alunan rumpun bambu)
berasal dari daereah Jawa Barat. Arumba adalah alat musik yang terbuat
dari bahan bambu yang di mainkan dengan melodis dan ritmis. Pad awalnya
arumba menggunakan tangga nada pentatonis namun dalam perkembangannya
menggunakan tangga nada diatonis.
e. Talempong adalah seni musik tradisi dari Minangkabau. Talempong adalah alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do).
f. Sampek (sampe/sapek)
adlah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar berasal dari daerah
Kalimantan. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang dipenuhi dengan
ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang bentuknya
menyerupai sampek adalah Hapetan dari daerah Tapanuli, Jungga dari
Sulawesi Selatan.
g. Kolintang atau kulintang
berasal dari daerah Minahasa. Alat musik ini mempunyai tangga nada
diatonis yang semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis.
Bahan dasar dibuat dari kayu dan cara untuk memainkan alat musik ini di
pukul dengan menggunakan stik.
h. Sasando adalah
alat musik petik berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur, kecapi ini
terbuat dari bambu dengan diberi dawai/senar sedangkan untuk resonasinya
di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah
bulatan.
2. Instrumen Musik Gesek.
Instrumen
musik tradisional yang menggunakan teknik permainan digesek adalah
Rebab. Rebab berasal dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta
(kesenian betawi). Rebab terbuat dari bahan kayu dan resonatornya
ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai
tangga nada pentatonis. Instrumen musik tradisional lainnya yang
mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat
dari tempurung kelapa. Rebab jenis ini dapat dijumpai di Bali, Jawa dan
Kalimantan Selatan.
3. Instrumen Musik Tiup.
Suling
adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari bambu hampir semua daerah
di Indonesia dapat dijumpai alat musik ini. Saluang adalah alat musik
tiup dari Sumatera Barat, serunai dapat dijumpai di Sumatera Utara,
Kalimantan. Suling Lembang berasal dari daerah Toraja yang mempunyai
panjang antara 40 - 100 cm dengan garis tengah 2 cm.
Tarompet,
serompet, selompret adalah jenis alat musik tiup yang mempunyai 4 - 6
lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong. Seni musik
tradisional yang menggunakan alat musik seperti ini adalah kesenian
rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura dan Papua.
Musik
Memiliki berbagai macam seni musik dan instrumen musik salah satunya intrumen musik KecapiKacapi berbentuk seperti dayung berdawai 2 dan 3,terbuat dari bahan kayu ringan (kayu jalutung atau hanjalutung)serta bernada minor, Kacapi biasa untuk mengiringi seni vokal salah satunya seni vokal seperti pantun yang disebut Karungut dan seni tari Manganjan,juga biasa digunakan oleh umat Kaharingan sebagai alat musik dalam upacara-upacaranya. Permainan Kacapi biasa disebut Mangacaping dan lebih dinamis dalam permainannya. Kacapi berbeda dengan instrumen musik petik sejenis dari Propinsi Kalimantan lain. atau
GARANTUNG
GARANTUNG
atau gong merupakan salah satu alat musik yang digunakan masyarakat
Suku Dayak. Selain garantung masyarakat Dayak juga menyebutnya dengan
gong dan agung. Garatung diklasifikasikan sebagai salah satu alat musik
dalam kelompok idiophone yang terbuat dari bahan logam; besi, kuningan,
atau perunggu.
Menurut sejarah, garantung masuk ke wilayah
Kalimantan, khususnya Kalimantan Tengah dibawa oleh para pedagang dari
tanah Jawa, tepatnya pada saat hubungan dagang antara pedagang dari
Kalimantan dan Kerajaan Majapahit.
Meski begitu, ada juga
pendapat lain yang mengatakan bahwa masuknya garantung ke daratan
Kalimantan dibawa oleh para pedagang asal Yunan (Cina, Red), India dan
Melayu yang pada masanya memiliki pengaruh besar bagi perkembangan
kehidupan masyarakat Suku Dayak.
Di kalangan masyarakat Suku
Dayak, garantung juga dipercaya sebagai salah satu benda adat yang
diturunkan dari Lewu Tatau (surga atau khayangan, Red) sebagai salah
satu alat untuk berkomunikasi dengan roh-roh leluhur.
Dalam
komunitas masyarakat Suku Dayak, garantung juga digunakan untuk memberi
tahu masyarakat luas tentang adanya suatu acara atau pesta yang
dilaksanakan oleh salah satu keluarga, dan dari salah satu kampung ke
kampung lain.
Begitu juga ketika ada acara kematian atau upacara
tiwah --khususnya para pemeluk Kaharingan, pada saat jenazah masih
disemayamkan di rumah duka, garantung akan dimainkan untuk mengantarkan
roh orang yang meninggal ke alam roh.
Tari kanjan sebagai salah
satu tarian sakral untuk mengantarkan roh orang yang meninggal ke alam
roh, garantung menjadi salah satu alat untuk mengiringi tarian tersebut.
Garantung akan dimainkan dengan irama khusus dan sakral.
Selain
sebagai alat musik tradisional, dalam komunitas masyarakat adat Suku
Dayak, garantung juga menjadi salah satu benda berharga yang berfungsi
sebagai barang adat dan dijadikan sebagai alat tukar untuk menilai
sesuatu barang atau jasa.
Keperluan sebagai barang adat itu masih
berlangsung hingga sekarang, khususnya pada acara adat perkawinan,
garantung menjadi salah satu mas kawin atau barang permintaan yang harus
diserahkan kepada pihak ahli waris mempelai perempuan.
Pada
perkembangan selanjutnya, karena terbatasnya jumlah garantung, maka
nilai sebuah garantung kemudian dihitung dalam bentuk nilai mata uang
yang berlaku pada saat perjanjian perkawinan adat kedua mempelai
dilakukan.
Selain itu, dahulu, garantung juga menjadi salah satu
penanda status sosial seseorang. Semakin banyak garantung yang dimiliki
oleh seseorang atau keluarga tersebut, maka akan semakin tinggi status
sosial yang bersangkutan dan semakin tinggi pula ia dihormati.
Garantung
Suku Dayak terdiri atas empat jenis dengan lima nada dasar atau laras,
masing-masing; garantung tantawak berukuran kecil dan memiliki nada
dasar G atau E, garantung lisung dengan ukuran sedang yang memiliki nada
dasar D atau C, garantung papar berukuran besar dengan nada dasar A,
serta sebuah garantung bandih yang berbentuk kecil tetapi memiliki nada
yang tinggi. (pahit s. narottama)
Gandang, Membranophone Musik Dayak
MASYARAKAT
Suku Dayak mengenal dengan baik alat musik gandang sebagai salah satu
alat musik dari kelompok membranophone untuk mengiringi tarian dan lagu
yang dinyanyikan. Karena itu, alat musik gandang pun sangat populer
sebagai sebuah bagian harmoni di kalangan masyarakat Suku Dayak.
Bebunyian
gandang merupakan pelengkap perangkat musik yang terdiri atas berbagai
jenis alat musik termasuk rangkaian instrumen lain di antaranya;
garantung (gong, Red), dan kangkanong (kenong, Red).
Gandang
dibuat dari bahan kayu dengan rongga, sementara membran atau selaput
getar dibuat dari kulit hewan atau binatang dengan ukuran besar, antara
lain; sapi, kerbau, kambing atau jenis kulit binatang lain untuk
menutupi rongga dan diikat dengan rotan.
Sebelum kulit
binatang itu dijadikan selaput getar atau membran gandang, kulit
binatang itu dikeringkan dan dipasangkan menutupi semua bagian rongga
dan untuk mengencangkan membran digunakan beberapa baji pada simpei
(simpul, Red).
Menurut sejarah dan galian kepurbakalaan, sejumlah
kalangan memercayai bahwa gandang merupakan alat musik tradisional dari
daratan Cina sejak sekitar 3.000 tahun yang lalu dan kemudian
berkembang ke seluruh dunia dibawa oleh para perantau yang membawa
tradisi kesenian ke luar Cina.
Pada zaman purbakala, gandang itu
tidak saja digunakan untuk acara persembayangan atau persembahan kepada
dewa-dewa dengan tarian dan nyanyian, tetapi juga untuk menggetarkan
semangat perjuangan para tentara untuk maju perang dan digunakan sebagai
alat komunikasi.
Menurut catatan lainnya, gendang yang
berkembang di Nusantara atau ranah Melayu, termasuk Indonesia, dipercaya
dibawa oleh unsur-unsur galur dari tanah Parsi (Persia, Red) di wilayah
Timur Tengah dan dibawa oleh para pedagang Arab dan India pada kurun
waktu sekitar abad ke-14 bersamaan dengan masuknya agama Islam yang
lebih banyak mewarnai tradisi Melayu.
Berdasarkan rilis tersebut,
sejumlah sejarawan percaya bahwa gendang lebih banyak berkembang di
wilayah Timur Tengah sebagai pelengkap musik tradisional di kalangan
bangsa Arab, sebelum kemudian menyebar ke seluruh dunia.
Di
kalangan masyarakat Suku Dayak dikenal berbagai jenis gandang, antara
lain; gandang tatau, gandang manca dan gandang bontang. Ketiga jenis
gandang itu memiliki ukuran yang berbeda dan penggunaan yang berbeda
pula.
Gandang tatau (gendang tunggal, Red) adalah jenis gandang
yang agak besar dan panjang. Panjangnya bisa mencapai satu-dua meter
dengan garis tengah atau diameter mencapai lebih kurang 40 centimeter.
Pada
gandang tatau, salah satu bagian ujungnya dipasang membran yang terbuat
dari kulit sapi, rusa atau panganen (ular sawa atau piton, Red) dan
pada bagian pangkalnya dibiarkan terbuka untuk menguatkan suara ketika
membran ditabuh.
Gandang tatau biasanya digunakan pada
upacara-upacara adat, antara lain acara tiwah (upacara kematian, Red)
dan upacara penyambutan tamu dengan alat musik pengiring lainnya terdiri
atas gong sebanyak tiga-lima buah dan seperangkat kangkanong.
Gandang
manca lebih umum dikenal masyarakat Suku Dayak sebagai gandang kembar
yang terdiri atas sepasang gendang, yang terdiri atas gandang panggulung
dan gandang paningkah yang memiliki perbedaan ketebalan membran pada
bagian penutup rongga.
Gandang manca ini juga merupakan gendang
yang terdiri atas dua membran di kedua ujung rongga dengan ukuran
diamater yang berbeda, dalam artian, rongga gandang ditutup oleh membran
atau selaput getar yang melapisinya.
Pada gandang panggulung,
membran yang melapisi ujung rongga pada diameter yang lebih besar dengan
kulit yang lebih tebal dan pada ujung rongga yang lebih kecil dipasang
membran dengan kulit yang lebih tipis.
Sementara gandang
paningkah merupakan kebalikan dari gandang panggulung, yang pada bagian
ujung diameter yang lebih besar ditutup oleh membran yang tipis, dan
pada ujung lainnya dengan diameter yang lebih kecil menggunakan membran
yang lebih tebal.
Gandang bontang bentuknya mirip dengan gandang
tatau, tetapi ukurannya jauh lebih kecil dan lebih pendek serta
berukuran diameter antara 20-30 centimeter dan panjang antara 30-50
centimeter. Membran yang menutupinya pun dari kulit hewan yang tebal.
Cara
membunyikan gandang bontang ini pun biasanya tidak dengan cara ditabuh
menggunakan telapak tangan seperti gandang-gandang lainnya, melainkan
dengan cara dipukul menggunakan rotan dan umumnya juga digunakan untuk
mengiringi balian bawo atau balian dadas. (pahit s. narottama)
MUSIK GAMBUS
Bila
kita lihat dewasa ini, musik Gambus berkembang pesat di Negara-negara
Timur Tengah, khususnya di Mesir. Musik Gambus di Timur Tengah kini
telah dibuat menjadi sebuah orkestra yang besar, seperti layaknya
orkestra Symponi di negara-negara Barat.Di Indonesia musik Gambus
ternyata berkembang di tempat-tempat berkembangnya Agama Islam.
TANJIDOR
Tanjidor
adalah sejenis orkes rakyat Betawi yang menggunakan alat-alat musik
Barat, terutama alat tiup. Pada umumnya alat-alat tersebut adalah barang
bekas yang keadaannya telah usang, kebanyakan sudah cacat sehingga
disana sini terpaksa dipatri atau diikat dengan kawat supaya tidak
berantakan.
OrkesTanjidor sudah tumbuh sejak abad ke 19, berkembang
di daerah pinggiran. Menurut beberapa keterangan, orkes itu berasal dari
orkes yang semula dibina dalarn lingkungan tuan-tuan tanah, seperti
tuan tanah Citeureup, dekat Cibinong.
Pada umumnya alat-alat
musik pada orkes Tanjidor terdiri dari alat musik tiup seperti piston
(cornet a piston), trombon, tenor, klarinet, bas, dilengkapi dengan alat
musik pukul membran yang biasa disebut tambur atau genderang. Dengan
peralatan tersebut cukup untuk mengiringi pawai atau mengarak pengantin.
Untuk
pergelaran terutama yang ditempat dan tidak bergerak alat-alatnya
sering kali ditambah dengan alat gesek seperti tehyan, dan beberapa
membranfon seperti rebana, bedug dan gendang, ditambah pula dengan
beberapa alat perkusi seperti kecrek, kempul dan gong.
Lagu-lagu
yang biasa dibawakan orkes tanjidor, menurut istilah setempat adalah
"Batalion", "Kramton" "Bananas", "Delsi", "Was Tak-tak", "Cakranegara",
dan "Welmes". Pada perkembangan kemudian lebih banyak membawakan
lagu-lagu rakyat Betawi seperti Surilang "Jali-jali dan sebagainya,
serta lagu-lagu yang menurut istilah setempat dikenal dengan lagu-lagu
Sunda gunung, seperti "Kangaji", "Oncomlele" dan sebagainya.
Grup-grup
Tanjidor yang berada di wilayah DKI Jakarta antara lain dari Cijantung
pimpinan Nyaat, Kalisari pimpinan Nawin, Pondokranggon pimpinan Maun,
Ceger pimpinan Gejen.
Daerah penyebaran Tanjidor, kecuali di
daerah pinggiran kota Jakarta, adalah di sekitar Depok, Cibinong,
Citeureup, Cileungsi, Jonggol, Parung dalam wilayah Kabupaten Bogor, di
beberapa tempat di wilayah Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Tangerang.
Sebagai
kesenian rakyat, pendukung orkes Tanjidor terutama para petani di
daerah pinggiran. Pada umumnya seniman Tanjidor tidak dapat
rnengandalkan nafkahnya dari hasil yang diperoleh dari bidang seninya.
Kebanyakan dari mereka hidup dari bercocok tanam, atau berdagang
kecil-kecilan.
Oleh masyarakat pendukungnya Tanjidor biasa
digunakan untuk memeriahkan hajatan seperti pernikahan, khitanan dan
sebagainya, atau pesta-pesta umum seperti untuk merayakan ulang tahun
Proklamasi Kemerdekaan. Sampai tahun lima puluhan rombongan-rombongan
Tanjidor biasa mengadakan pertunjukan keliling, istilahnya "Ngamen".
Pertunjukan keliling demikian itu terutama dilakukan pada waktu pesta
Tahun Baru, baik Masehi maupun Imlek.
Perlu dikemukakan, bahwa
sesuai dengan perkembangan jaman dan selera masyarakat pendukungnya,
Tanjidor dengan biasa pula membawakan lagu-lagu dangdut. Ada pula yang
secara khusus membawakan lagu-lagu Sunda Pop yang dikenal dengan sebutan
"Winingan tanji".
L E N O N G B E T A W I
Setiap kelompok
masyarakat memiliki kebudayaan dan tradisi tertentu sesuai dengan ciri
khas masyarakat setempat, kebudayaan tersebut merupakan hasil dari
karya, karsa, dan rasa. Dari sinilah sebuah kaum menghasilkan
perangkat-perangkat kehidupan untuk memudahkan mereka mengatasi dan
menguasai alam semesta
serta mengatur kehidupan dengan menyusun
norma, etika, dan hukum yang menjadi acuan ketertiban. Beradab atau
tidaknya sebuah bangsa bisa diukur dari sini, ketika kita membicarakan
budaya cakupannya sangat luas dimulai dari ilmu pengetahuan sampai
kesenian yang merupakan simbol dari bentuk pengungkapan atau pesan, bila
seorang melihat kesenian ada yang menganggap sebagai hiburan dan ada
pula yang menjadikan sebagai instrumen untuk melakukan pencerahan pada
masyarakat seperti penggunaan wayang oleh para wali untuk melakukan
syi’ar.
GAMELAN TOPENG
Sebagaimana
akan terlihat pada bagian lain dari tulisan ini, teater rakyat Betawi
biasa diiringi musik dalam pergelarannya. Lenong biasa diiringi orkes
Gambang Kromong, Blantek biasa diiringi Rebana Biang.
GAMBANG KROMONG
Sebutan
Gambang Kromong di ambil dari nama dua buah alat perkusi, yaitu gambang
dan kromong. Bilahan gambang yang berjumlah 18 buah, biasa terbuat dari
kayu suangking, huru batu atau kayu jenis lain yang empuk bunyinya bila
dipukul. Kromong biasanya dibuat dari perunggu atau besi, berjumlah 10
buah ( sepuluh \"pencon\" ).
Menurut tulisan Phoa Kian Sioe dalam
majalah Panca Warna No. 9 tahun 1949 berjudul "Orkes Gambang, Hasil
kesenian Tioanghoa Peranakan di Jakarta." Orkes Gambang kromong
merupakan perkembangan dari orkes Yang Khim yang terdiri atas Yang-Khim,
Sukong, Hosiang, Thehian, Kongahian, Sambian, Suling, Pan ( kecrek )
dan Ningnong. Oleh karena Yang-Khim sulit diperoleh, maka digantilah
dengan gambang yang larasnya di sesuaikan dengan notasi yang di ciptakan
oleh orang-orang Hokkian. Sukong, tehian dan kongahian ticlak begitu
sulit untuk dibuat disini. Sedangkan Sambian dan Hosiang di tiadakan
tanpa terlalu banyak mengurangi nilai penyajiannya.
Orkes Gambang
yang semula digemari oleh kaum peranakan Cina saja, lama kelamaan di
gemari pula oleh golongan pribumi, karena berlangsungnya proses
perbauran.
Sekitar tahun 1880 atas usaha Tan Wangwe dengan dukungan
Bek (Wijkmeester) Pasar Senen Teng Tjoe, orkes gambang mulai dilengkapi
dengan Kromong, Kempul, Gendang dan Gong. Lagu-lagunya ditambah dengan
lagu-lagu Sunda populer, sebagaimana ditulis oleh Phoa Kian Sioe sebagai
berikut : "Pertjobaan wijk meester Teng Tjoe telah berhasil,
lagoe-lagoe gambang ditaboeh dengan tarnbahan alat terseboet diatas
membikin tambah goembira Tjio Kek dan pendenger-pendengernya. Dan moelai
itoe waktoe lagoe-lagoe Soenda banyak dipake oleh orkes gambang. Djoega
orang, moelai brani pasang slendang boeat "mengibing".
SAMRAH
Dari
27.068 jiwa penduduk kota Batavia pada tahun 1673 tercatat sejumlah 611
orang Melayu, atau sama dengan kurang lebih 2 %. Kurang lebih 40 tahun
kemudian, yaitu pada tahun 1815 terjadi peningkatan, menjadi kurang
lebih 6 %. Dari sejumlah 47.217 jiwa penduduk tercatat 3.155 orang
Melayu.
Saham yang paling besar dari orang Melayu terhadap
terbentuknya kebudayaan Betawi adalah bahasa, yakni bahasa Melayu, yang
kemudian menjadi dialek Betawi dengan berbagai sub dialeknya. Dalam hal
kesenian yang tampak jelas pengaruh Melayunya adalah Samrah tersebut.
Alat
musik yang membentuk orkes Samrah adalah harmonium, biola, gitar, dan
tamborin. Kadang-kadang dilengkapi dengan rebana bahkan gendang.
Mengenai alat musik bernama harmonium ini memang sudah langka.
Orkes
Samrah biasa digunakan untuk mengiringi nyanyian dan tarian. Lagu-lagu
pokoknya adalah lagu Melayu seperti "Burung Puth", "Pulau Angsa Dua",
Tik Minah Sayang", "Sirih Kuning", "Masmura" dan sebagainya. Disamping
itu biasa pula dibawakan lagu-lagu yang dianggap khas Betawi, seperti
"Kicir-kicir", "Jali-jali", "Lenggang-lenggang kangkung" dan
sebagainya."
Kostum yang dipakai pernain musik Samrah ada dua
macam yakni peci, jas dan kain pelekat atau peci, baju sadariah dan
celana batik. Sekarang ditambah lagi dengan model baru yang sebenarnya
model lama yang disebut "Jung Serong" (ujungnya serong) yang terdiri
dari tutup kepala yang disebut liskol, jas kerah tutup dengan pentolan
satu warna dan sepotong kain batik yang dililitkan dibawah jas, dilipat
menyerong, ujungnya menyempul kebawah.
Daerah penyebaran Samrah
terbatas didaerah tengah dari wilayah budaya Betawi, yaitu di Tanah
Abang, Cikini, Paseban, Tanah Tinggi, Kemayoran, Sawah Besar dan Petojo.
Masyarakat
pendukungnya umumnya golongan pertengahan, baik sosial maupun ekonomi.
Popularitasnya tampak makin menurun, sehingga dewasa ini jarang tampak
menyelenggarakan pergelaran. Memang akhir-akhir ini tampak adanya usaha
untuk menggiatkan kembali, terutama oleh Lembaga Kebudayaan Betawi
antara lain dengan memberikan bantuan kepada rombongan Samrah yang
dinilai paling representatif, yaitu yang dipimpin oleh Harun Rasyid
(almarhum ).
Dewasa ini tidak ada yang secara khusus melulu
menjadi seniman Samrah. Boleh dikatakan semua pemain Samrah sekarang
biasa ikut bermain pula pada orkes-orkes lain, seperti Orkes Keroncong,
bahkan yang dikenal sebagai Orkes Melayu (bukan Dangdut) seperti yang
dipimpin oleh Emma Gangga (almarhumah).
pada tahun 1673 tercatat
sejumlah 611 orang Melayu, atau sama dengan kurang lebih 2 %. Kurang
lebih 40 tahun kemudian, yaitu pada tahun 1815 terjadi peningkatan,
menjadi kurang lebih 6 %. Dari sejumlah 47.217 jiwa penduduk tercatat
3.155 orang Melayu.
Saham yang paling besar dari orang Melayu
terhadap terbentuknya kebudayaan Betawi adalah bahasa, yakni bahasa
Melayu, yang kemudian menjadi dialek Betawi dengan berbagai sub
dialeknya. Dalam hal kesenian yang tampak jelas pengaruh Melayunya
adalah Samrah tersebut.
Alat musik yang membentuk orkes Samrah
adalah harmonium, biola, gitar, dan tamborin. Kadang-kadang dilengkapi
dengan rebana bahkan gendang. Mengenai alat musik bernama harmonium ini
memang sudah langka.
Orkes Samrah biasa digunakan untuk
mengiringi nyanyian dan tarian. Lagu-lagu pokoknya adalah lagu Melayu
seperti "Burung Puth", "Pulau Angsa Dua", Tik Minah Sayang", "Sirih
Kuning", "Masmura" dan sebagainya. Disamping itu biasa pula dibawakan
lagu-lagu yang dianggap khas Betawi, seperti "Kicir-kicir", "Jali-jali",
"Lenggang-lenggang kangkung" dan sebagainya."
Kostum yang
dipakai pernain musik Samrah ada dua macam yakni peci, jas dan kain
pelekat atau peci, baju sadariah dan celana batik. Sekarang ditambah
lagi dengan model baru yang sebenarnya model lama yang disebut "Jung
Serong" (ujungnya serong) yang terdiri dari tutup kepala yang disebut
liskol, jas kerah tutup dengan pentolan satu warna dan sepotong kain
batik yang dililitkan dibawah jas, dilipat menyerong, ujungnya menyempul
kebawah.
Daerah penyebaran Samrah terbatas didaerah tengah dari
wilayah budaya Betawi, yaitu di Tanah Abang, Cikini, Paseban, Tanah
Tinggi, Kemayoran, Sawah Besar dan Petojo.
Dewasa ini tidak ada
yang secara khusus melulu menjadi seniman Samrah. Boleh dikatakan semua
pemain Samrah sekarang biasa ikut bermain pula pada orkes-orkes lain,
seperti Orkes Keroncong, bahkan yang dikenal sebagai Orkes Melayu (bukan
Dangdut) seperti yang dipimpin oleh Emma Gangga (almarhumah).
Sasando

Air
mukanya tampak sedikit berubah. Bapak Ande berhenti berceritra ketika
akhirnya mobil kijang hijau itu mulai nampak di gerbang depan. Kijang
dengan plat nomer warna merah; DH 5 itu perlahan masuk ke pekarangan,
sebentar lagi sampai di tempat hajatan. Orang yang ditunggu-tunggu sudah
datang! Itu berarti Bapak Ande harus segera bersiap. Dengan sigap Bapak
Ande menyiapkan semua peralatan yang tadi sudah dicobanya. Sedikit
berbisik beliau memberitahukan ke rekan-nya yang lain untuk juga
bersiap. Segera semua mereka mengenakan Topi Tii Langga di kepala dan
semua siap mulai. Pintu kijang terbuka, dan orang yang ditunggu itu
keluar. Berjalan menuju ke tempat hajatan. Beberapa langkah lagi sampai.
Dan bunyi-bunyian itu pun mulai.
Gong pertama dipukul Bapak Ande
dengan ritme yang tetap. Lalu sedikit lebih cepat dan akhirnya menjdai
cepat, diikuti oleh gong yang ke tiga dan empat yang di pukul anak
laki-lakinya. Gong lima, enam dan tujuh ikut dibunyikan selaras
mengikuti ritme gong yang lain. Akhirnya sembilan gong itupun mulai
berbunyi, diikuti bunyi gendang kulit berdentum.
Sesaat kemudian
ada bunyi lain terdengar. Seperti petikan senar gitar, namun lebih
bervariasi. Bunyi bass dan melodi sekaligus dimainkan. Dipetik.
Bergabung dengan harmonisa nada gong yang monoton namun dinamis. Dan
tarian pun dimulai.
***
Dari
semua alat musik yang dimainkan kelompok musik tradisional-nya Bapak
Ande, ada satu alat musik yang terlihat unik. Sasando namanya. Alat
musik tradisional dari pulau Rote (Salah satu pulau sebelah selatan
Pulau Timor). Alat musik inilah yang tadinya bersuara senar bervariasi
itu.
Menurut Deny, satu dari lima anak Bapak Ande yang mahir
bermain Sasando, memainkan Sasando tidak gampang. Harus terus berlatih.
Karena Sasando mengutamakan Ritme dan feeling bunyi nada yang tepat dari
28 senar yang ada.
Sasando memang punya banyak senar. Sasando
dengan 28 senar ini diistilahkan dengan Sasando engkel. Jenis lain;
Sasando dobel namanya, punya 56 senar. Bahkan ada yang 84 senar. Cara
memainkan Sasando dengan dipetik. Mirip dengan gitar. Hanya saja,
Sasando tanpa chord (kunci) dan senarnya harus dipetik dengan dua
tangan, sehingga lebih mirip Harpa.
Bagian utama dari Sasando
berbentuk seperti Harpa, dengan media pemantul suara terbuat dari daun
Pohon Gebang (sejenis Pohon Lontar yang banyak tumbuh di Pulau Timor dan
Pul
au
Rote) yang dilekuk menjadi setengah melingkar. Tempat senar-senar
diikat terbuat dari bambu yang keras, penahan senar yang sekaligus
sebagai pengatur nada senar juga terbuat dari bambu. Batang bambu itu
lalu diikat menyatu dengan daun Gebang yang dibuat melingkar tadi.
Menurut
Bapak Ande, yang bukan hanya pemain Sasando tapi juga pengrajin Sasando
ini; sampai sekarang hampir semua bahan yang dipakai untuk membuat
Sasando adalah bahan asli, kecuali senar Sasando. Saat ini Sasando sudah
mulai di modifikasi. Pemantul bunyi dari daun gebang sudah diganti
dengan spul gitar listrik yang ditempelkan pada batang bambu ditengah
Sasando. Tentu Sasando model ini hanya bisa mengeluarkan bunyi keras
dengan bantuan sound system.
Hampir semua jenis musik bisa
dimainkan dengan Sasando. Siang itu saja, Deny mampu memainkan musik
tradisional, pop, slow rock bahkan dangdut dengan Sasando, menghibur
peserta hajatan yang sementara makan siang.